Hampir sepuluh tahun suasana di Luteria berubah total. Tak ada lagi senyuman apalagi kedamaian. Charles sangat membatasi hak-hak dan cara hidup makhluk-makhluk sihir seperti elf, driad, naga, kurcaci dan lain sebagainya. Charles ternyata menaganggap mereka semua berbahaya dan mengancam kedudukannya sebagai raja. Karena itu, ia mengeluarkan peraturan yang sangat kejam: memburu makhluk-makhluk sihir. Satu-satunya bangsa sihir yang bekerja sama dengannya adalah orge. Entah apa yang dijanjikan Charles pada orge hingga mereka bersedia menjadi anak buahnya. Keadaan kacau balau. Kejahatan, perbudakan, bahkan pembunuhan terjadi di mana-mana. Hanya pejabat-pejabat besar, termasuk Charles yang sangat menikmati hidupnya.
Sedangkan para makhluk sihir yang lain hidup dalam pelarian. Mereka bersembunyi jauh di wilayah yang sekiranya tidak terjangkau oleh Charles dan segala hulubalangnya. Dengan perlindungan ketat, mereka menghindari manusia, terlebih penyihir. Kemudian muncul sebuah ramalan yang pernah memberi harapan kepada mereka. Isi ramalan tersebut begini :
Charles, raja tamak yang mengalahkan Peter sang pemberani, akan termakan oleh kutukan yang dibuatnya sendiri. Ia telah membunuh Peter yang bijaksana, dan ia serta keturunannya akan dihabisi oleh keturunan Sion, penguasa pertama tanah ini..
Keturunan Sion yang mereka ketahui adalah Arael. Tidak ada bangsawan lain yang merupakan keturunan Sion kecuali Peter. Tapi mereka tetap berharap ada keturunan lain, entah darimana, yang akan menghancurkan Charles. Sebab Arael, yang mereka ketahui dengan jelas merupakan keturunan Sion, sudah menghilang selama 10 tahun. Dan mustahil bagi Charles untuk tidak membunuhnya sejak berusia 6 tahun, terlebih setelah ada ramalan tersebut.
Tapi mereka salah. Ramalan centaurus tersebut mungkin benar. Karena dengan kesombongannya, saat mendengar kabar mengenai ramalan tersebut, Charles hanya tertawa penuh ejekan.
“Coba saja kita lihat, apa yang bisa dilakukan anak tak berdaya dalam kurungan itu. Kalau memang ada keturunan Sion yang lain, aku tidak akan pernah takut menghadapinya. Siapa yang bisa menandingi kekuatan sihirku yang mahasakti ini?” timpalnya sombong dan membiarkan Arael tetap hidup.
Di dalam sel yang gelap dan sempit, seorang gadis meringkuk memeluk lututnya di pojok ruangan. Kulitnya dingin dan pucat. Badannya kurus dengan tulang yang menonjol diseluruh tubuhnya, semakin menampakkan kekurusannya. Gadis itu berambut hitam, ikal dan panjang, namun tak terawat, sehingga menjadi sangat kusut. Bibirnya pecah-pecah, dan pipinya tirus tak berdaging. Dengan baju compang camping yang dikenakannya, ia tampak seperti gelandangan yang sudah berbulan-bulan tidak makan. Kecantikannya pudar karena kondisinya yang memprihatinkan tersebut. Tidak ada tanda-tanda kehidupan pada gadis itu. Ia tampak seperti tengkorak berbalut kulit. Hanya matanya yang menampakkan dirinya masih hidup. Matanya yang hitam dan jernih menatap tajam dalam kegelapan. Sesekali ia memutar matanya untuk mencari pemandangan yang lebih menarik. Tapi seperti yang sudah disadarinya sejak awal, tidak ada apa pun di tempat itu kecuali dinding, lantai dan atap dari batu. Kadang ia dikunjungi oleh kecoak atau tikus yang masuk dari celah retakan dinding batu yang sempit. Tapi Arael, gadis itu, tak lagi punya emosi untuk menyenangkan dirinya sendiri dengan apa pun.
Sehari dua kali, akan ada penjaga yang menyodorkan makanan dan minuman untuknya. Tapi tidak setiap kali ia menjamahnya. Hanya bila perutnya benar-benar lapar, baru dia mau makan. Charles sudah tidak pernah mengunjunginya lagi. Kali terakhir Charles datang kurang lebih dua tahun yang lalu. Dan Charles tidak pernah datang lagi. Tapi toh Arael tidak tahu berapa lama ia berada di sana. Siang dan malam baginya sama saja. Ia juga tidak pernah menunggu ataupun memimpikan kebebasan. Hanya nalurinya untuk bertahan hidup, yang mampu membuatnya tetap berada di tempat itu.
Tanpa merasakan kebahagiaan ataupun kesedihan, Arael tetap memberi kesempatan pada dirinya untuk mencecap kehidupan, meski dia sendiri tidak tahu untuk apa dia hidup. Ia hanya merasa ia harus hidup, entah apa pun tujuannya. Tapi Arael sudah membuang jauh-jauh perasaannya. Ia tidak mau merasakan sedih atau bosan tinggal di sana. Karena baginya ruangan itu sudah menjadi bagian tubuhnya yang tak terpisahkan, terlebih setelah ia tinggal di tempat itu selama bertahun-tahun.
Ia tidak pernah bicara. Tapi meski begitu, ia tidak melupakan bagaimana cara bicara. Arael gadis yang cerdas. Ia tidak pernah melupakan apa yang sudah dia pelajari saat masih kecil, sebelum ia diasingkan di tempat itu. Sering ia mendengar para penjaga berbicara di luar ruangannya. Dan ia mencermatinya, sehingga ia tetap mampu berbahasa manusia. Kadang pula ia membayangkan taman kerajaan yang penuh burung berkiacauan dan unicorn yang sedang minum di danaunya. Elf yang cantik memainkan seruling dan ia menari bersama ibu serta ayahnya. Ia rindu saat itu, dan takut bila ia melupakan kenangan indah tersebut. Tapi nyatanya ia tidak pernah lupa. Karena saat-saat itulah salah satu dari sedikit kenangan yang dia miliki.
Sudah hampir lima hari berlalu sejak Arael berusia 16 tahun, masa dewasa seorang gadis. Tapi Arael sendiri tentu tidak menyadarinya. Ia sedang memandang seekor tikus yang merayap masuk melalui retakan dinding batu. Ia lantas menyadari bahwa di belakang tikus itu seekor kucing menyusulnya. Kucing itu hitam pekat dengan mata kuning yang bulat. Arael, yang tidak pernah melihat kucing berkeliaran di dalam selnya, cukup heran melihat si kucing melenggang dengan angkuh dan berhenti di depannya.
Si kucing itu duduk dan menatapnya dengan pandangan yang sulit ditebak. Arael balas memandangnya, bingung. Tiba-tiba muncul asap aneh di sekeliling kucing itu lalu terdengar bunyi ctar pelan. Asap semakin tebal dan lebar. Arael membelalak melihat pemandangan asing itu. Genggamannya menguat mencengkeram lututnya. Tapi dia tetap diam tak bersuara. Setelah beberapa saat, asap mulai menghilang dan tampak gerakan tangan manusia menghalau asap itu. Arael mengendurkan cengkramannya sambil memandang dengan tertarik.
Di depannya berdiri seorang wanita yang memakai terusan ungu muda dengan rok pendek yang menggembung seperi balon. Dipunggungnya ada sepasang sayap yang berkilau keunguan. Rambutnya yang kecoklatan digelung rapi di belakang kepalanya. Sedang bola matanya yang hijau memandang Arael dengan kawatir. Wanita tersebut bertubuh langsing dan cukup muda. Kulitnya putih bersih dan terawat. Ia lalu berjongkok di depan Arael dan mengulurkan tangannya, menjangkau wajah Arael. Matanya berkaca-kaca dan tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Wanita itu tertunduk dan mulai menangis.
Arael memandangnya diam. Dia membiarkan wanita itu menyentuhnya dan menangis di depannya. Pikirannya sedang berputar. Arael merasa pernah melihat wanita itu di suatu tempat. Ia terus memacu otaknya dan mengingat kembali memori masa lalunya. Alisnya berkerut dan matanya menyipit.
“Casandra...?” bisik Arael pelan.
Wanita itu mendongak kaget. Isakannya semakin keras dan air matanya mengalir lebih deras. Satu tangannya yang lain menjangkau Arael seakan hendak memeluknya. Tapi ia tidak melakukannya. Matanya hanya menyapu seluruh tubuh Arael dari atas sampai bawah.
“Arael, anakku...” desah wanita itu. Dan kesunyian menghinggapi mereka selama beberapa saat. Akhirnya wanita itu sanggup mengatasi kesedihannya, dan memandang Arael dengan lebih tegar.
“Ya, Arael, anakku. Kau benar, aku Casandra, peri penjagamu. Tak pernah terbayangkan olehku kau masih mengingat namaku. Ah, bahkan aku sudah menjadi sedemikian jahat, hingga mengira kau sudah mati,” kata Casandra kemudian.
“Kenapa kau tahu aku ada di sini?” tanya Arael.
“Yah, sudah sepuluh tahun berlalu sejak peristiwa mengerikan itu. Terakhir kali aku melihatmu, saat kau dipeluk ibumu lalu berlari menyelamatkan diri. Tapi kemudian, ketika aku mencarimu lagi, kau sudah tidak ada. Aku hanya menemukan ... ,” kata Casandra, terputus oleh isakan pelannya. “... jasad orang tuamu yang sangat ... tragis,” lanjutnya setelah berhasil menguasai diri.
“Lalu, lima hari yang lalu, tepat ulang tahunmu yang ke enam belas, seandainya kau masih hidup, pikirku. Aku yang selama ini mengira kau sudah mati, tidak pernah mencoba mencarimu dengan kemampuan sihirku. Tapi, lima hari yang lalu, aku merasakan isyarat keberadaanmu. Kau tahu? Kau sudah mencapai masa dewasamu kini dan membuat ikatan di antara kita menguat. Aku sebagai peri penjagamu bisa saling bertelepati setelah kau mencapai kedewasaanmu.
“Maka aku tersentak bangun, lalu mencoba melihat ke dalam air di baskomku. Dengan kemampuan sihirku, aku menelusuri keberadaanmu, dan akhirnya ... ,” Casandra menarik napas panjang. “...aku menemukanmu di sini. Oh, Arael, seandainya aku melakukannya lebih cepat ...” lanjutnya dan mulai menangis lagi, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Arael diam memandangnya.
“Maafkan aku ... semua ini gara-gara aku. Keadaanmu tidak akan menjadi semenyedihkan ini bila aku datang lebih cepat. Semua ini karena kebodohanku. Untunglah kau masih hidup. Bagaimana jika kau sudah terlanjur mati karena aku tidak segera menyelamatkanmu,” kata Casandra mulai histeris.
“Aku juga tidak tahu apa yang menahanku untuk memilih kematian. Aku hanya merasa aku harus hidup, entah untuk apa,” timpal Arael.
Cassabela tersentak diam. Mendadak tangisannya berhenti dan matanya membulat. Akhirnya sedikit senyum merekah dari bibirnya.
“Ramalan itu ... ,” bisik Casandra.
Arael memandangnya tajam, mendengarkan. Casandra balas memandangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments