“Sudah kukatakan bocah manusia ini pasti membawa bencana, Ylyndar,” geram Iolas dengan rahang terkatup karena menahan amarah.
“Orge ini pasti sedang mencari Sang Putri. Iolas, bawa Putri pergi dari sini. Mulai sekarang, aku akan memberimu perintah untuk melindungi Putri Arael,” ucap Ylyndar sambil menepuk bahu Iolas.
Iolas tampak semakin emosi. Matanya berkilat-kilat karena kemarahan. “Apa maksudmu, Ylyndar? Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk melindungi pengkhianat bangsa kita? Apa yang akan kau lakukan?” ucap Iolas dengan geram.
“Ikuti perintahku, Iolas!”
Hanya itu kata-kata Ylyndar yang terakhir. Elf itu benar-benar tak terbantahkan. Ia kemudian memalingkan tubuhnya menuju ke pintu keluar pondok. Busur dan anak panah sudah berada dalam genggamannya. Ylyndar jelas siap untuk menghadapi ancaman yang mendatangi pondok kecilnya itu.
“Pergi! Sekarang Iolas!” teriak Ylyndar.
Iolas tampak tak punya pilihan lain. Akhirnya dengan, berat hati, Iolas pun meraih pergelangan tangan Arael lantas menyeret gadis itu pergi dari Pondok melalui pintu belakang. Arael mengikuti Iolas tanpa kata-kata. Situasi itu bukannya tidak dia pahami. Sepertinya Charles sudah menyadari bahwa dirinya menghilang dari penjara. Kini para orge tersebut pasti sedang berpatroli untuk mencarinya.
Di belakang Arael kini terdengar suara pertempuran hebat antara rombongan orge itu dengan Ylyndar. Arael menoleh, mencoba melihat bagaimana pertarungan mereka berlangsung, namun pepohonan yang tumbuh rapat menghalangi pandangannya. Hanya terdengar suara debum dan raungan orge yang mengerikan.
Arael mendadak merasa cemas. Ia tidak pernah mencemaskan orang lain sebelumnya. Tapi beberapa hari ini, meski tak banyak bicara, namun Ylyndar telah melakukan banyak hal baginya. Sementara kini elf itu harus menghadapi sekitar lima ekor orge yang tengah mengejarnya. Arael benar-benar merasa bersalah. Kebebasannya dari penjara harus mengorbankan Casandra, dan kini Ylyndar.
“Lari lebih cepat, manusia!” bentak Iolas.
Arael mencoba mempercepat langkahnya, namun karena lagi-lagi ia tidak mengenakan alas kaki, maka telapaknya kini mulai terluka karena tergores duri dan kerikil runcing. Iolas berdecak tak sabar melihat kondisi Arael. Mereka tidak boleh berlambat-lambat atau salah satu orge itu bisa mengejar mereka. Ylyndar tidak akan bertahan lama melawan mereka.
Akhirnya dengan gerakan mengayun ringan, Iolas pun meraih tubuh Arael lantas membopongnya dengan satu tangan. Arael memekik kaget, lalu segera merangkulkan kedua lengannya ke leher Iolas secara otomatis. Elf itu pun segera melompat naik ke atas dahan pohon sambil menggendong Arael. Dengan lincah Iolas meloncat dari satu pohon ke pohon lainnya. Arael sekali lagi berhasil kabur dari kejaran para orge.
Iolas membawa Arael ke sebuah rawa yang ada di kedalaman hutan. Pepohonan bakau menyelimuti rawa tersebut. Setelah berada pada titik tertentu, tiba-tiba Iolas berhenti melompati pepohonan. Ia lantas memejamkan mata lalu membuat pola sihir dengan satu tangannya. Beberapa detik selanjutnya, sebuah gerbang batu besar dengan undakan empat tingkat muncul di hadapan mereka.
Iolas segera melompat turun dan berdiri di atas undakan batu itu. Begitu Iolas sudah berada di depannya, pintu gerbang batu itu menggeser dengan suara berat. Sebuah lorong gua yang gelap pun menyambut mereka di balik pintu. Iolas yang masih menggendong Arael pun masuk ke dalam gua tersebut dan menjelajah masuk. Pintu batu di belakang mereka kembali bergerser tertutup lantas menghilang sepenuhnya, meninggalkan dinding batu yang kaku.
Arael cukup terkesan melihat pemandangan itu. Namun meski begitu, ia sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Arael tidak terlalu pintar berekspresi. Dan karena Iolas juga tidak mengatakan apa-apa sedari tadi, Arael pun tidak mencoba bertanya apa pun pada pemuda elf tersebut.
Setelah berjalan selama beberapa saat melewati banyak tikungan dan lorong panjang yang gelap, akhirnya mereka sampai di depan pintu kayu usang yang menempel di dinding batu. Iolas menendang pintu itu hingga menjeblak terbuka. Sebuah ruangan kecil berisi tempat tidur dan meja serta kursi kayu tua menyambut mereka. Seluruh ruangan itu berdinding batu. Tidak ada jendela di sana, dan satu-satunya celah tempat udara masuk adalah melalui ventilasi kecil di atas meja kayu.
Iolas menurunkan Arael di atas tempat tidur. Pemuda elf tersebut lantas mengambil lentera di atas meja dan menyalakannya dengan sihir api elf.
“Dengar, aku sama sekali tidak mempercayaimu. Tapi karena Ylyndar memerintahkanku untuk menjagamu, aku akan melakukannya. Meski begitu, jangan pernah berpikir untuk keluar dari sini,” ucap Iolas dengan tajam.
Arael hanya mengangguk pelan. Tidak ada yang berubah dari ekspresinya. Iolas di sisi lain, kembali menggeram dengan kesal. Pemuda elf itu lantas berbalik pergi dan mengunci pintu ruangan tersebut tanpa bicara apa-apa lagi. Arael kembali ditinggalkan sendirian tanpa penjelasan.
Arael kemudian mengangkat kedua kakinya yang terluka. Beruntung luka gorenya tidak terlalu parah karena Iolas menggendongnya sepanjang jalan. Maka dari itu, Arael hanya mencoba mengusap beberapa debu yang masih menempel. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang keras sambil berpikir.
Ia sudah keluar dari penjara bawah tanah berkat bantuan Casandra. Lalu juga meninggalkan pondok nyaman milik Ylyndar. Arael memikirkan bagaimana nasib mereka berdua. Casandra dan Ylyndar sudah mengorbankan diri mereka untuk menolongnya. Meski begitu Arael sama sekali tidak punya bayangan tentang masa depannya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Ia sudah begitu terbiasa menjadi tawanan yang tidak melakukan apa apa selain berdiam diri di sudut penjara. Selain itu, dia juga tidak punya kekuatan apa pun. Arael kembali mengingat kata-kata Casandra dan Ylyndar tentang ramalan. Ramalan seperti apa? Ia sama sekali tidak mengerti.
Dan kini Iolas membawanya ke tempat asing. Arael tidak berpikir bahwa Iolas adalah elf yang jahat. Namun ketidaksukaan pemuda elf tersebut sudah sangat disadari oleh Arael. Meski begitu, pertemuannya dengan Ylyndar mungkin bisa disebut keberuntungan di tengah hidupnya yang tragis. Karena itu Arael pun memutuskan untuk mempercayai Iolas, yang notabene merupakan teman Ylyndar.
Pada akhirnya Arael pun jatuh tertidur tanpa ia sadari. Ia tidur lama sekali dan memimpikan kenangan-kenangan indah saat ia masih kecil. Para elf yang cantik selalu bermain musik untuknya. Casandra, ibu perinya, menimang dia dengan penuh kasih sayang. Kedua orang tuanya, Raja Peter dan Ratu Sybilina selalu tersenyum saat melihatnya. Taman kerajaan begitu asri dengan bunga-bunga yang indah.
Tapi tiba-tiba sebuah api besar tersulut dari dalam istana. Kobarannya begitu besar hingga tidak ada yang bisa memadamkannya. Barisan orge menyeramkan keluar dari api yang menjilat-jilat dengan ganas. Di depan mereka Charles tertawa dengan bengis lantas menusuk punggung ayahnya tanpa ampun. Arael segera terbangun dengan tubuh gemetaran dan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Sudah lama ia tidak bermimpi. Meski begitu mimpinya barusan benar-benar terasa nyata. Arael seperti diingatkan kembali akan siapa dirinya sebenarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments