The Great Ancestor of Blarani

Akhirnya rombongan Arael pun tiba di depan sebuah gua besar yang menganga setinggi lima mater. Alih-alih gelap, gua tersebut justru dipenuhi batu-batu Kristal berwarna biru yang mengeluarkan pendar cahaya. Iolas memimpin jalan, diikuti oleh Arael dan Bryen. Mereka menyusuri gua megah tersebut hingga sampai pada sebuah pintu pualam yang menjulang tinggi hingga mencapai langit-langit.

Ukiran sulur dan aksara kuno menghiasi pintu batu pualam tersebut. Kristal biru yang berpendar juga turut meramaikan dekorasi cantik pintu itu. Arael terpana selama beberapa saat. Di tengah cuaca dingin di luar gua, Kristal biru tersebut tampaknya memberikan kehangatan yang membuat udara terasa lebih bersahabat.

Kali ini Iolas tidak membuat pola sihir dengan jarinya. Alih-alih, pemuda elf itu justru mengetuk pintu batu keras di depannya, seperti sedang bertamu ke rumah tetangganya. Arael tidak yakin ada yang bisa mendengar ketukan Iolas, mengingat pintu batu raksasa itu pasti tebalnya melebihi pintu biasa. Namun melihat Bryen yang tidak memprotes tindakan Iolas, bisa jadi memang seperti itu cara mereka bertamu ke kerajaan elf salju.

Selama beberapa waktu tidak ada yang terjadi. Arael menunggu dengan sabar kedatangan seseorang yang mungkin akan membukakan pintu. Namun alih-alih terbuka, ornamen pintu batu itu justru bergerak. Hanya ornamennya. Ukiran sulur-sulur mengeliat dan bergerak saling-silang. Kristal biru yang bercahaya merelokasi diri mereka membentuk sebuah pola huruf kuno yang jika dibaca secara harafiah berarti musim salju. Setelah semua ornamen itu selesai terbentuk, pintu gerbang batu itu pun mulai bergeser ke samping.

Suara gesekan batu terdengar berat. Kepulan salju terserak menutupi pandangan dengan asap putih yang tebal. Arael merapatkan mantelnya untuk menghindari hawa dingin akibat salju yang beterbangan melingkupi mereka. Setelah beberapa waktu, pintu batu itu pun terbuka sempurna. Kepulan salju juga telah mereda. Arael, Iolas dan Bryen kini berdiri di lereng gunung yang terbuka menyerupai tebing. Dari atas sana Arael bisa melihat seluruh pemandangan kota yang fantastis. Kota tersebut tepat berada di tengah pegunungan salju yang melingkar mengelilinginya, serupa benteng kokoh maha besar.

Kastil besar dengan ratusan menara beratap runcing membentang seluas lembah. Salju menutupi sebagian besar atap bangunan dan jalan-jalan batu yang membentuk pola geometris yang indah. Bangunan terbesar berada di tengah lembah, berupa kastil es berwarna biru yang berdiri megah dengan cemerlang. Arael tidak pernah berhenti terpukau melihat setiap peradaban suku elf yang begitu fantastis. Keindahan memang selalu melekat pada ras tersebut.

“Apa kau melihat orang-orang yang berjalan di jalan batu sana?” tanya Iolas menunjuk salah satu sudut kota.

Pandangan Arael mengikuti lokasi yang ditunjuk Iolas. Tempat itu sepertinya semacam pasar. Banyak orang berlalu-lalang dan bergerombol di jalanan. Beberapa kedai berkanopi kain berjajar sepanjang jalan tersebut. Arael menajamkan pandangannya untuk memperhatikan lebih detail alasan Iolas menyuruhnya melihat ke area tersebut.

“Apa itu pasar?” tanya Arael sambil mengernyitkan dahinya. Rasanya tidak ada yang aneh dengan pasar itu.

“Benar. itu pasar. Kau sudah mengunjungi dua kerajaan suku elf. Apa kau pernah menemukan pasar? Kami para elf tidak berdagang dengan sesama kami,” ungkap Iolas sambil tersenyum simpul.

“Lalu, kenapa mereka … ?” Arael tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tiba-tiba menyadari bahwa ada yang berbeda dari postur orang-orang yang ada di pasar. Mereka sedikit lebih pendek dari para elf, juga mengenakan pakaian yang berbeda. Bahkan orang-orang itu berambut gelap, sedangkan elf salju seluruhnya memiliki rambut perak berkilau.

“Apa itu …  manusia?” tanya Arael sambil menoleh pada Iolas.

Pemuda elf itu tersenyum simpul. “Benar. Jarang sekali kaum elf hidup berdampingan dengan manusia. Apalagi suku elf salju terkenal sangat tertutup dan tidak ramah. Tapi kenyataannya, mereka melindungi para manusia yang melarikan diri dari kejaran Raja kalian yang lalim.”

“Begitukah? Kudengar elf tidak terlalu suka hidup bersama ras lain, tapi mereka sepertinya berbeda,” komentar Arael kemudian.

“Kau akan tahu setelah masuk ke sana. Ayo,” ajak Iolas kemudian.

Iolas kembali memimpin jalan menuruni lereng bukit. Tangga batu curam menurun sangat panjang. Iolas tampak gesit menuruninya. Namun Arael sedikit kesulitan karena pijakannya yang sempit dan licin karena tertutup salju serta es. Para elf sepertinya punya keseimbangan tubuh yang luar biasa.

“Anda bisa berpegangan di lengan saya, Putri,” ucap Bryen sambil mengulurkan lengannya untuk membantu Arael berjalan turun.

“Terima kasih, Bryen,” sahut Arael lantas berpegangan pada lengan kokoh Bryen yang sigap berjalan di sebelahnya.

Iolas melirik mereka berdua lalu berdecih keras. “Ini hanya tangga biasa, tapi kau bertingkah seperti orang tua yang lemah,” komentarnya pedas.

“Aku hanya tidak terbiasa, Iolas,” balas Arael tabah.

Iolas kembali berdecih kesal. Entah apa lagi yang membuat elf itu marah. Arael tidak terlalu memusingkannya karena fokusnya sekarang adalah agar kakinya tidak terpeleset jatuh.

Setelah beberapa saat berjalan perlahan, Arael dan Bryen pun akhirnya sampai di bawah. Iolas sudah sampai dari tadi dan hanya menunggu mereka sambil memainkan salju dengan ranting kering. Ia masih terlihat kesal dan terus bersungut-sungut bahkan sampai mereka dicegat oleh penjaga pintu masuk kota itu. Iolas berbicara sekedarnya dengan para penjaga sembari menunjukkan sebuah perkamen tua yang sepertinya dia bawa dari Or-Tel-Quassir. Begitupun Bryen juga mengeluarkan perkamen serupa yang dia dapat dari rajanya.

Kedua perkamen tersebut sepertinya mengonfirmasi identitas mereka berdua. Para penjaga menyuruh rombongan Arael untuk mengikutinya. Mereka bertiga pun berjalan membelah kota yang hanya dipenuhi menara-menara tinggi. Jalanan bersalju menimbulkan hawa dingin yang membuat Arael kembali merapatkan mantelnya. Sepertinya ia membutuhkan mantel bulu jika harus tinggal di tempat ini.

Para elf salju ini sepertinya benar-benar kuat. Mereka hanya mengenakan pakaian tipis khas bangsa elf yang berwarna biru. Tubuh elf salju juga sedikit lebih tinggi dengan telinga yang lebih runcing dari Iolas serta Bryen. Meskipun sesama kaum elf, tapi elf salju ini mungkin adalah ras yang lebih tua dan lebih kuat daripada suku elf lainnya. Karena itulah kekuatan Charles tidak dapat menyentuh mereka.

“Masuk. Penguasa Blarani menunggu di istana utama. Penjaga istana akan mengawal kalian,” kata elf penjaga itu setelah mereka sampai di pintu istana es yang menjulang sangat tinggi.

Penjaga istana membuka pintu lantas menyambut Arael dan rombongannya. Penjaga tersebut merupaka elf berambut perak dengan mata abu-abu yang cemerlang.

“Selamat datang, Putri Arael. Aku Hakaris, yang akan mengantar Anda bertemu dengan penguasa kami, Raja Zidalor. Hanya sang putri yang diperkenankan masuk. Kalian berdua tunggu di luar istana,” kata penjaga istana tersebut.

Iolas hendak protes, bahkan Bryen tampak cemas. Elf salju mungkin tinggal bersama manusia. Akan tetapi mereka berdua tidak yakin kalau para manusia itu hidup secara cuma-cuma di sini. Jangan-jangan mereka diperbudak. Elf salju yang merupakan ras tertua dari bangsa elf ini memang terkenal kejam dan dingin.

“Tidak apa-apa Iolas, Bryen. Sang raja pasti cukup bijaksana untuk tidak melukaiku,” ucap Arael menenagkan.

“Tapi … ,” cegah Iolas.

“Aku baik-baik saja,” tutup Arael memotong kata-kata Iolas. Gadis itu lantas mengangguk pada Hakaris dan setuju untuk masuk sendirian ke dalam istana es yang dingin itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!