Arael dan Iolas berlatih di hutan Ni-Bioü hari itu juga. Pertama-tama mereka berlatih menggunakan busur. Elf hutan seperti Iolas terkenal akan kemampuan mereka dalam berburu. Karena itu Iolas bisa memamerkan keahliannya tersebut sekaligus melatih Arael. Tanpa diduga, ternyata Arael punya bakat dalam hal ini. Gadis itu belajar dengan cepat menggunakan busur panah. Hanya dalam beberapa kali mencoba, Arael sudah berhasil membidik dengan tepat benda yang bergerak.
Iolas mencoba melemparkan batang-batang pohon dan beberapa buah-buahan yang besar maupun kecil. Arael dan mata elangnya berhasil menembakkan anak panah dengan baik, meskipun masih perlu pembiasaan untuk bisa menargetkan benda-benda yang ukurannya kecil.
Hal serupa terjadi saat Iolas melatihnya berpedang. Di gudang kerajaan elf hutan, terdapat beberapa senjata usang yang sudah tidak digunakan. Para elf pada dasarnya tidak terlalu menyukai pedang. Mereka lebih nyaman melakukan serangan jarak jauh dengan busur. Kalaupun terpaksa menghadapi musuh secara langsung, elf biasanya memakai belati kecil atau kadang-kadang pedang pendek. Meskipun begitu, bukan berarti mereka tidak bisa menggunakan pedang.
Iolas adalah salah satu murid terbaik Ylyndar. Pemuda elf tersebut merupakan yang paling cemerlang di antara elf pemburu lain di kerajaan mereka. Ilmu berpedangnya juga termasuk yang terbaik di antara kawan-kawannya. Karena itu ia langsung menyadari, ketika ia melatih Arael, gadis itu rupanya punya potensi yang sangat besar dalam ilmu berpedang. Bahkan kemampuan berpedangnya jauh lebih baik daripada saat ia meggunakan busur.
“Apa kau pernah berlatih pedang sebelum ini?” tanya Iolas saat jeda latihan.
Arael menggeleng pelan lantas mengusap keringatnya yang berkucuran.
“Tidakkah pedang itu berat?” tanya Iolas lagi.
Meski menggunakan mythril sebagai bahan pembuatnya, tapi jelas senjata itu jauh lebih berat dari kelihatannya. Belum lagi senjata tempaan bangsa elf biasanya memuat aliran sihir yang kuat. Hanya orang-orang berkekuatan sihir besar yang bisa mengontrol energi pedang tersebut. Walaupun begitu, Arael justru bisa mengayunkannya seringan menggunakan tongkat.
“Awalnya terasa berat. Tapi lama kelamaan dia menjadi ringan. Aku seperti sudah terbiasa menggunakannya,” jawab Arael sambil mengamati pedang ditangannya dengan penuh minat.
Iolas sedikit tertegun. Gadis itu tidak pernah menunjukkan minat terhadap sesuatu sebelum ini. Ia hanya bersikap datar dan tanpa ekspresi. Bahkan ketika ada serangan orge, atau ketika Iolas memarahinya pun Arael tidak mengubah ekspresi wajahnya. Akan tetapi, sepintas Iolas benar-benar yakin bahwa Arael sangat tertarik pada pedang yang digenggamnya itu.
“Nama pedang itu Attila. Kau bisa memilikinya kalau mau. Kaum elf jarang menggunakan pedang,” ucap Iolas kemudian.
Arael tampak senang. Kegembiraannya terlihat dari seulas senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Mata hitamnya yang jernih mengamati pedang di tangannya dengan sangat lembut. Arael mengusap Attila yang berpendar kebiruan dengan jemarinya yang pucat. Sudah lama sejak terakhir kali ia menerima hadiah. Ini adalah benda pertama yang dimilikinya sendiri sejak sepuluh tahun terakhir.
Entah kenapa pedang tersebut seperti memiliki koneksi dengan dirinya. Saat mengayunkannya, Arael merasa tubuhnya sudah bersatu dengan Attila. Pedang itu sudah menjadi bagian dari dirinya dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.
“Terima kasih, Iolas … .” desah Arael sambil tersenyum tulus pada Iolas.
Iolas tersentak saat melihat ekspresi lembut Arael yang di arahkan padanya. Ia lantas membuang muka dan mengusap lehernya salah tingkah.
“I … itu bukan apa-apa. Pedang itu sudah seperti rongsokan di sini. Jadi anggap saja kau memungut sampah. Tidak ada yang spesial,” kata Iolas sembari berdehem tak jelas.
Meski begitu Arael tetap merasa berterima kasih pada Iolas. Dari semua benda yang didapatnya selama ini, pedang itu adalah yang paling berharga.
Sepuluh hari berselang sejak Arael tinggal di kerajaan Or-Tel-Quassir. Arael pun berkenalan dengan para elf lain selain Iolas. Salah satunya adalah Meena, seorang elf perempuan yang sangat pandai mengurus makanan. Arael sering berburu dan memetik buah-buahan dengan Meena. Meena adalah elf yang jauh lebih ramah daripada Iolas. Ia sangat peduli pada Arael dan bahkan menangis saat mengetahui masa lalu Arael yang pernah dipenjara selama sepuluh tahun.
Di samping itu, Meena juga menceritakan banyak hal tentang kehidupan bangsa elf. Di kerajaan tersebut Ratu Arendel adalah pimpinan terakhir mereka sebelum ayahnya wafat dalam perang besar sepuluh tahun yang lalu. Para elf yang tersisa menyembunyikan diri mereka di hutan Ni-Bioü dengan sihir dan menjadi tertutup. Ylyndar, elf yang menemukan Arael beberapa waktu yang lalu, merupakan salah satu dari tujuh dewan pelindung kerajaan. Ia adalah guru dari para elf muda sebelum akhirnya bertugas sebagai pengintai di perbatasan. Iolas dan Meena adalah murid Ylyndar di masa lalu. Iolas adalah yang paling dekat dengan sang guru. Ylyndar sendiri yang membesarkan Iolas sejak kedua orang tuanya meninggal dalam perang besar. Iolas juga merupakan murid kesayangan Ylyndar karena bakatnya yang paling menonjol di antara para elf lainnya.
“Jadi aku sedikit mengerti kenapa Iolas menentang keberadaanmu. Dia paling mengkhawatirkan Ylyndar saat ini. Mungkin menurutnya guru bisa terlibat hal-hal yang berbahaya kalau berhubungan denganmu. Meski begitu jangan merasa bersalah. Kau sama sekali tidak melakukan kejahatan,” ungkap Meena saat tengah berendam di kolam air panas bersama Arael.
Arael hanya terdiam. Kata-kata Meena tidak sepenuhnya salah. Ylyndar jelas berada dalam kondisi yang berbahaya gara-gara dia.
“Guru tidak selemah itu. Bahkan meskipun beliau tidak bertemu denganmu, ancaman para orge itu tetap ada. Aku yakin guru akan segera kembali,” lanjut Meena mencoba menghibur.
Arael hanya tersenyum samar. Ia juga mengharapkan hal yang sama. Namun harapan kadang-kadang merupakan hal yang sulit untuk digapai. Arael kembali memikirkan Casandra. Peri penjaganya itu juga tidak menghubunginya selama ini. Untuk pertama kalinya, gadis itu merasa cemas. Apa yang terjadi pada dua penyelamatnya itu?
Kekhawatiran Arael tidak berlangsung lama. Hari-harinya disibukkan dengan sesi latihan bersama Iolas. Kini, setelah berlatih selama hampir dua minggu, Arael sudah berhasil mengimbangi kemampuan berpedang Iolas. Meski begitu untuk urusan memanah dan berburu, Iolas benar-benar tidak tertandingi. Menyadari bakatnya adalah kemampuan berpedang, Arael memutuskan untuk hanya fokus pada pelatihan tersebut. Iolas pun setuju akan keputusan Arael.
“Ilmu pedangmu mungkin akan jauh lebih baik kalau kau belajar dari guru yang tepat. Sejujurnya para elf tidak menggunakan pedang sejak lama. Kami hanya menempanya untuk bersenang-senang,” ujar Iolas di tengah-tengah sesi latihan mereka.
“Di mana aku bisa menemukan guru berpedang?” tanya Arael kemudian.
“Para ksatria manusia biasanya lebih lihai menggunakan pedang. Tapi aku tidak tahu di mana bisa menemukan manusia yang bisa dipercaya. Aku dengar elf cahaya juga punya kemampuan berpedang yang baik. Namun dua belas suku elf sudah lama tercerai berai sekarang. Akan sangat sulit menemukan mereka,” ungkap Iolas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Shahid Alfatih
udah like udah komen
2023-03-23
1
Shahid Alfatih
semangat yah
2023-03-23
0