Dua Belas Suku Elf

Arael terus memikirkan kata-kata Iolas tentang para elf cahaya. Kalau saja ia bisa bertemu dengan para elf cahaya itu, mungkin kemampuan berpedangnya bisa semakin meningkat. Arael membayangkan pertempuran dengan para orge yang menjadi kaki tangan Charles. Tidak akan mudah baginya untuk membunuh raja lalim itu sementara para orge selalu menjaganya. Arael harus mencari cara. Ia perlu banyak dukungan yang bisa membantunya menyerbu Charles.

“Arael, Ratu memanggilmu,” mendadak Meena muncul saat Arael tengah berjalan kembali ke kamarnya.

“Terima kasih, Meena. Aku akan menghadap sekarang,” ucap Arael yang segera membelokkan langkahnya menuju aula kerajaan. Ratu Arendel selalu berada di sana.

Tak berapa lama kemudian Arael pun tiba ke hadapan sang ratu. Ratu Arendel menyambutnya dengan hangat.

“Attila sangat cocok untukmu,” kata Ratu Arendel saat melihat pedang yang berpendar kebiruan di tangan Arael.

“Iolas memberikannya kepadaku. Dia bilang tidak ada yang menggunakan pedang ini,” tutur Arael.

“Memang benar. Pedang itu dibuat oleh leluhurku. Raja Or-Tel-Quassir terdahulu. Dulu elf dan manusia memiliki hubungan yang baik. Kami sering membuat senjata untuk kaum mereka, salah satunya pedang ini. Namun, semenjak Raja Lalim itu berkuasa, hubungan elf dan manusia memburuk. Senjata dan barang-barang tempaan para elf tidak lagi berguna dan hanya dibiarkan menumpuk di gudang,” terang Ratu Arendel bercerita.

“Attila sangat mudah digunakan. Terkadang aku merasa pedang inilah yang menggerakkanku dan membimbingku melakukan serangan-serangan,” ulas Arael.

“Pedang ini merupakan salah satu karya terbaik bangsa kami. Meski sudah tersimpan puluhan tahun, tapi ketajaman dan muatan sihirnya tidak berkurang sama sekali. Attila sepertinya sudah memilihmu untuk menjadi pemiliknya.” Ratu Arendel berkata sembari mengangguk puas pada Arael.

“Aku bersyukur bisa menemukan Attila,” sahut Arael mengamati pedangnya dengan gembira.

“Aku memanggilmu kemari untuk memberitahumu sesuatu, Putri Arael,” kata Ratu Arendel kemudian.

Arael mengalihkan pandangannya dari Attila lantas menghadap sang ratu dengan serius.

“Kurasa ini sudah waktunya mengatakannya kepadamu. Kau tentunya sudah tahu dari Meena bahwa kaum elf terpecah menjadi dua belas suku. Semua suku itu bersembunyi dari para orge yang memburu kami. Meski begitu, bila kedua belas suku itu, termasuk kita yang berada di sini, bersatu, kita akan bisa mengalahkan kekuatan para orge dan melawan Raja Lalim yang sekarang berkuasa,” ungkap Ratu Arendel mencoba membuka pembicaraan seriusnya.

“Apakah Anda akan memintaku untuk menyatukan dua belas suku elf. Ratu?” tanya Arael yang dengan cepat berhasil menangkap maksud sang ratu.

Ratu Arendel mengangguk sambil tersenyum. “Memang tidak mudah menemukan mereka semua, tapi beberapa di antara suku-suku itu masih berhubungan baik dengan kerajaan kami. Kau bisa mendatangi mereka lebih dulu untuk mencari informasi lebih banyak.”

“Aku akan melakukannya,” ucap Arael tegas.

Ratu Arendel mendesah lega. “Iolas akan menemanimu. Lalu ini adalah daftar suku-suku yang sudah kutuliskan. Ini mungkin bisa sedikit membantumu menemukan mereka. Meskipun begitu Iolas sudah jauh lebih tahu tentang mereka.”

Sang ratu memberikan selembar perkamen dari kulit pohon kepada Arael. Gadis itu membukanya dan membaca tulisan dalam bahasa elf. Arael yang sejak kecil sudah menguasai beragam tulisan dan bahasa ras lain selain manusia, dapat dengan mudah membaca daftar yang diberikan oleh Ratu Arendel.

Dua belas suku Elf

 Aquatic Elves

 Avariel Elves

 Ljósálfar

 Ssri-Tel-Quassir

 Lythari

 Ruar-Tel-Quassir

 Snow Elves

 Sun Elves

 Svartalfar

 Shadow Elves

 Or-Tel-Quassir

“Aku sudah bicara pada Iolas dan dia bersedia pergi bersamamu untuk mencari kesebelas suku elf lainnya,” lanjut sang Ratu.

Arael mengangguk singkat. “Kalau begitu aku akan berangkat secepatnya, Ratu,” ucap Arael tegas.

“Berkat cahaya Ingwë akan besertamu, Nak. Kau adalah putri dalam ramalan. Percayalah pada takdirmu,” kata Ratu Arandel sembari mengangkat tangannya di atas kepala Arael guna memberinya berkat elf.

Arael menunduk sopan untuk menerima berkat tersebut. Setelah itu sang ratu pun melepasnya pergi. Iolas ternyata sudah berdiri di luar aula. Pemuda elf itu nampaknya menunggu Arael keluar. Beberapa waktu terakhir hubungan mereka memang semakin dekat. Iolas tidak lagi bersikap memusuhi. Alih-alih ia kini mulai menerima Arael menjadi bagian dari kaumnya.

“Ratu Arendel sudah memberitahumu?” tanya Iolas lantas berjalan menjajari Arael.

“Iya. Sudah. Apa belum ada kabar dari Ylyndar?” sahut Arael balas bertanya.

Iolas menggeleng lemah. “Terakhir kali elf pengintai mendatangi pondok Ylyndar, namun tidak menemukan siapa-siapa. Setidaknya ia yakin kalau Ylyndar belum mati. Elf pengintai itu masih merasakan energi kehidupan yang ditinggalkan Ylyndar,” jelas Iolas.

Arael berpikir sejenak. Ia juga masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan Casandra. Bagaimanapun suatu saat nanti ia harus mencari peri pelindungnya tersebut. Firasatnya mengatakan kalau Casandra juga masih hidup di luar sana.

“Jadi kapan kita akan berangkat? Yang aku tahu, kerajaan ini masih menjalin hubungan dengan dua suku lain: Aquatic Elves dan Snow Elves. Aku bisa mengantarmu ke salah satu dari mereka. Aquatic lebih dekat dari sini,” tutur Iolas.

“Kita pergi sekarang juga,” sahut Arael pendek.

Terpopuler

Comments

Shahid Alfatih

Shahid Alfatih

vote udah
like udah
ngasih hadiah udah
subscribe udah
kasih favorit udah .

2023-03-23

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!