Arael tidak punya banyak barang yang perlu dibawa. Sejak awal gadis itu memang tidak memiliki apa-apa. Sekarang satu-satunya benda yang tidak ingin ia lepaskan adalah Attila. Pedang satu tangannya yang berpendar kebiruan saat digunakan. Iolas sudah menyerahkan sarung pedang itu yang berukirkan sulur-sulur perak. Set pedang itu terlihat sangat cantik dan cocok sekali dengan Arael. Gadis itu lantas menggantungkan Attila di pinggangnya sebelum mereka berangkat.
Meena dan beberapa elf lainnya yang mendengar rencana kepergian Arael dan Iolas pun memberikan salam perpisahan. Mereka mengantarkan keduanya hingga ke gerbang perbatasan kerajaan bangsa elf.
“Kalian berdua harus kembali dengan selamat. Iolas, kau harus menjaga Arael dengan baik. Jangan biarkan putri terluka seujung jari pun,” ungkap Meena dengan mata berkaca-kaca.
Iolas mendengkus pendek. “Dia bahkan lebih kuat dariku ketika memegang pedang. Tanpa aku pun dia bisa menjaga dirinya sendiri,” sahutnya sambil lalu.
“Bahkan sampai akhir pun kau tetap menyebalkan Iolas,” gerutu Meena memasang wajah cemberut. “Jangan pedulikan dia, Arael. Iolas memag selalu bersikap menyebalkan, meski begitu dia elf yang baik. Dia pasti bisa melindungimu,” lanjut Meena sembari menggenggam kedua tangan Arael.
“Aku tahu, Meena. Jangan khawatir. Kami pasti akan baik-baik saja,” jawab Arael menenangkan.
“Jaga dirimu, Arael,” ucap Meena.
“Kau juga, Meena. Kalian harus menjaga tempat ini sampai kami kembali,” tukas Arael pada para elf yang mengantar kepergiannya.
Mereka semua menjawab kata-kata Arael dengan persetujuan lantas satu persatu mengucapkan kalimat perpisahan mereka. Iolas sudah bersungut-sungut melihat betapa lamanya para elf itu menahan Arael. Akhirnya, setelah diiringi oleh gerutuan Iolas, para elf itu pun melepas kepergian Arael.
Sama seperti saat mereka datang ke kerajaan tersembunyi itu, Iolas pun membuat pola sihir di udara dengan satu tangannya. Beberapa detik selanjutnya, sebuah gerbang batu besar dengan undakan empat tingkat muncul di hadapan mereka. Gerbang yang pernah menghantarkan mereka masuk ke tempat tersebut. Iolas berjalan mendahului Arael untuk melewati gerbang, sementara Arael mengekor di belakangnya.
Rawa bakau kembali muncul di hadapan mereka berdua. Gerbang batu itu pun kembali menghilang setelah mereka berdua sudah keluar secara sempurna.
“Kita akan pergi ke utara. Sebaiknya kita menyusuri hutan dan menjauhi desa para manusia. Perjalanannya tidak terlalu jauh, tapi pada ujung perjalanan ini kita harus melewati kota pelabuhan kecil yang berbatasan dengan kerajaan para elf air,” terang Iolas sebelum mereka berangkat.
Arael mengangguk paham.
“Kalau begitu kau bisa memimpin di depan. Teruslah mengarah ke utara sampai aku memberi tanda. Aku akan mengikutimu di belakang agar kau tidak tertinggal,” perintah Iolas.
Sekali lagi Arael mengangguk. Gadis itu lantas menjejakkan kakinya ke tanah dan mulai melompat ke atas dahan-dahan pohon. Begitulah mereka berdua akhirnya melesat di antara pepohonan. Arael melatih tubuhnya dengan baik selama berada di kerajaan elf hutan. Selain karena memiliki darah sihir, kemampuan belajar Arael yang tinggi juga membuat gadis itu dapat dengan cepat mengimbangi kemampuan Iolas. Meski begitu pemuda elf itu memang sedikit lebih gesit dari Arael. Karena itu Iolas tersebut memilih untuk mengikuti Arael dari belakang.
Selama beberapa waktu keduanya berlompatan dari pohon ke pohon. Perjalanan mereka tidak mengalami kendala yang berarti. Sesekali Iolas menyuruh Arael berhenti untuk beristirahat atau makan. Mereka berburu hewan-hewan kecil di hutan atau memetik buah-buahan. Malam datang tanpa terasa. Meskipun bangsa elf biasanya tidak terganggu dengan keadaan gelap, tetapi Iolas mempertimbangkan kondisi Arael. Bagaimanapun gadis itu tetaplah seorang manusia.
Atas alasan tersebutlah kini Iolas dan Arael berhenti di sebuah tanah lapang sambil menghadap api unggun. Seekor kelinci gemuk tampak dibakar di atas api unggun.
“Iolas,” panggil Arael tiba-tiba.
“Hmm?” sahut Iolas tak peduli. Ia sedang sibuk membolak balik daging kelincinya agar matang merata.
“Bukankah kita terlalu sering beristirahat. Aku belum pernah melakukan perjalanan sepanjang ini sebelumnya. Tapi sepertinya perjalanan kita memakan waktu yang terlalu lama,” ungkap Arael terus terang.
Iolas menoleh ke arah Arael dengan gerakan dramatis. Ia lantas menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan tabah.
“Aku melakukannya karena kau seorang manusia. Staminamu tidak seperti bangsa kami. Aku tidak mau kau pingsan dan merepotkanku,” ujar Iolas ketus.
“Aku baik-baik saja. Justru kau yang sering menyuruh berhenti padahal aku sama sekali tidak kelelahan,” tutur Arael apa adanya.
“Kau menyalahkanku sekarang?” Iolas menyahut kata-kata Arael dengan kesal.
“Bukan begitu. Maksudku, untuk selanjutnya kau cukup melakukannya seperti biasa saja. Tidak perlu terlalu memikirkanku,” kata Arael berusaha tidak menyinggung Iolas.
Akan tetapi, Iolas sudah kepalang kesal. Padahal seharian tadi ia memikirkan kondisi Arael dan mengatur ritme perjalanan seringan mungkin agar gadis itu tidak kelelahan. Namun sekarang Arael malah mengajukan protes dan memintanya melakukan yang sebaliknya. Sia-sia saja ia peduli pada gadis itu.
“Terserah kau saja. Aku tidak peduli. Tapi kalau kau kelelahan dan pingsan, jangan harap aku akan menggendongmu seperti sebelumnya,” gerutu Iolas ketus.
Arael tersenyum puas. “Tentu saja. Terima kasih sudah mempertimbangkan saranku, Iolas,” ucap gadis itu tulus.
Iolas berdeham salah tingkah. Sejak kapan Arael menjadi semanis itu. Ia bahkan bisa mengucapkan terima kasih untuk hal-hal yang sangat remeh. Pemuda elf itu lantas memotongkan bagian paha kelinci lalu menyodorkannya kepada Arael.
“Ma … makanlah ini sebelum dingin. Kelincinya sudah matang,” gumam Iolas tergagap.
“Terima kasih, Iolas,” kata Arae sambil menerima uluran daging dari Iolas.
“Dan berhentilah berterima kasih untuk hal-hal sepele. Itu membuatku tidak nyaman,” sambar Iolas kemudian.
Arael mengernyitkan dahinya kebingungan. “Kenapa? Bukankah berterima kasih adalah hal yang baik?”
“Aku … hanya tidak suka kalau kau terlalu sering mengucapkannya.”
“Begitukah? Aku tinggal di penjara bawah tanah dalam waktu yang sangat lama. Selama itu pun aku tidak punya orang yang bisa kuajak bicara. Sekarang setelah bertemu denganmu dan semua elf di Or-Tel-Quassir membuatku merasa hidup kembali. Karena itu secara tidak sadar aku jadi mulai banyak bicara. Maafkan aku kalau hal tersebut mengganggumu,” ungkap Arael murung.
Hati Iolas mencelos setelah mendengar ucapan Arael. Menadak ia merasa bersalah karena telah mengatakan hal-hal yang tidak berguna. Entah kenapa akhir-akhir ini ia begitu sulit menghadapi Arael. Bukan karena gadis itu menyusahkan, tetapi lebih karena ia merasa dirinyalah yang menjadi menyebalkan. Seharusnya ia bersikap lebih baik pada Arael.
“Tidak. Bukan begitu maksudku. Ah, sudahlah. Terserah kau saja. Lakukan sesukamu. Aku tidak akan protes lagi. Kalau kau mau berterima kasih sepuluh ribu kali sehari pun aku tidak masalah,” desah Iolas sambil berbaring memunggingi Arael.
Arael tersenyum kecil. “Terima kasih, Iolas,” ucapnya pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments