Iolas segera memasang kuda-kuda dengan busurnya, sementara Bryen, sang elf air, sudah bersiap dengan gelembung-gelembung air laut yang dia kendalikan. Arael tidak punya waktu untuk mengagumi kemampuan Bryen yang mampu membuat aliran air bergerak meliuk-liuk dengan cantik di sekitar tubuhnya. Serangan kedua sudah melesat dengan sangat cepat. Tidak hanya satu anak panah, tetapi empat sekaligus, diarahkan ke masing-masih tubuh mereka. Arael menangkis anak panah itu dengan pedangnya. Iolas menghindar dengan gesit sekaligus membalas dengan menembakkan anak panahnya. Bryen di sisi lain mengibaskan kedua tangannya untuk mengontrol kekuatan air agar dapat melindunginya.
Selama beberapa waktu serbuan anak panah itu terus terjadi. Arael menduga setidaknya ada sekitar lima elf yang bersembunyi di hutan cemara yang tertutup salju tebal itu. Gadis itu sudah hampir mencapai batasnya. Pakaiannya yang berat membuat Arael kesulitan bergerak dengan lincah. Ia juga tidak terbiasa berada di tempat bersuhu rendah. Hawa dingin membuat Arael beberapa kali terpaksa menahan tubuhnya yang menggigil.
“Iolas dan Putri! Mohon mendekat kemari. Saya akan mengatur gelembung air untuk melindungi tubuh kita!” seru Bryen.
Arael dan Iolas menurut tanpa banyak bertanya. Sambil susah payah menghindari tembakan anak panah yang susul menyusul, keduanya berhasil berdiri di dekat Bryen. Elf air itu lantas membuat gelembung air besar yang melingkupi mereka bertiga. Serangan anak panah itu tidak bisa menembus dinding air yang dibuat oleh Bryen.
“Setelah ini saya akan membuat gelombang besar. Tolong berpegangan ke tubuh saya agar kalian tidak terseret,” ucap Bryen memberi perintah.
Arael tidak sepenuhnya mengerti apa rencana Bryen. Namun gadis itu tetap mengikuti perintah tersebut. Ia dan Iolas masing masing berpegangan dengan rapat ke pinggang Bryen. Detik selanjutnya, Bryen mengangkan kedua tangannya tingg-tinggi. Air laut bergemuruh di belakang mereka. Arael menoleh dan melihat sebuah gelombang air besar terangkat begitu tinggi. Gadis itu tidak pernah membayangkan bahwa ia akan merasa gentar melihat air yang mengombak tinggi, bersiap menyapu daratan.
Bryen melambaikan kedua tangannya ke depan. Serta merta gelombang tinggi di belakang mereka menghempas ke daratan, menciptakan tsunami setinggi tiga meter. Para elf salju yang bersembunyi di balik hutan cemara terdengar memekik panik. Tak berapa lama kemudian mereka melompat mundur untuk menghindari terjangan tsunami Bryen. Namun Bryen sangat fasih. Gelombang airnya menerjang begitu cepat. Para elf salju itu bahkan tidak sempat melakukan serangan balik.
Setelah beberapa menit berlalu, luapan air yang dikendalikan Bryen pun surut, menyisakan empat tubuh elf yang pingsan dengan pakaian biru berbulu. Arael menyadari bahwa ternyata wujud elf salju ini berbeda dengan dua suku elf lain yang pernah dia temui. Elf salju memiliki rambut keperakan yang berkilau. Kulitnya seputih salju dan badannya pun tidak setinggi Iolas maupun Bryen.
“Apa kalian baik-baik saja?” tanya Bryen setelah melenyapkan gelembung air pelindungnya.
Arael dan Iolas melepas pegangan mereka dari pinggang Bryen.
“Kau sangat kuat, Bryen,” puji Arael setelah berkesempatan untuk mengagumi sihir air Bryen.
Elf air itu tersipu malu. “Ini hanya kemampuan dasar suku kami, Putri,” ucapnya tanpa bisa menyembunyikan kegembiraan karena mendapat pujian.
“Suku mereka hanya kuat kalau berada di dekat perairan. Jika bertarung di hutan suku kami tentu saja mereka tidak akan bisa menang,” komentar Iolas sembari menggantungkan busurnya ke punggung.
Bryen tidak terprovokasi dan hanya memilih diam mendengar komentar sarkastik Iolas. Entah kenapa suasana hati Iolas mendadak menjadi buruk.
“Apa kau kebetulan tidak suka air, Iolas?” tanya Arael menanggapi.
“Tidak. Bukan begitu. Aku hanya membicarakan kenyataannya. Dia kuat karena berada di dekat air,” sahut Iolas kesal. “Sudahlah. Pembicaraan ini sia-sia,” lanjutnya lantas berjalan ke arah tubuh para elf salju.
“Padahal kau tahu itu pembahasan konyol tapi kau sendiri yang memulainya,” gerutu Arael sambil berjalan mengikuti Iolas.
“Aku hanya tidak suka kalau kau berpikir secara subyektif. kau harus melihatnya dengan obyektif. Elf air tentunya kuat kalau berada di tempat seperti ini kan?” sahut Iolas tidak terima.
“Jadi sekarang kau mengkritik caraku memuji orang lain? Atau kau hanya tidak suka kalau aku memuji Bryen?” sergah Arael kesal.
Bryen yang berjalan di belakang Iolas dan Arael mencoba melerai pertengkaran mereka berdua. Namun baru lima belas menit kemudian akhirnya percekcokan itu selesai.
“Apa tidak masalah meninggalkan elf-elf yang pingsan tadi di tengah hutan? Pakaian mereka basah dan mereka ada di tengah salju. Bagaimana kalau mereka mati membeku?” tanya Arael saat mereka menyusuri pegunungan es yang curam.
Seluruh permukaan tebing itu tertutup salju tebal. Dan kini mereka harus mulai memanjat tebingnya untuk mencari pintu masuk ke kerajaan elf salju.
“Mereka kuat, Putri. Karena mereka adalah elf yang terlahir dari salju. Hawa dingin tidak terlalu mempengaruhi mereka,” kata Bryen mencoba menenangkan Arael.
“Begitukah? Tapi ternyata penjagaan kerajaan ini tidak terlalu kuat,” komentar Arael kemudian.
“Kurasa mereka bukan elf penjaga. Mereka hanya sedang berburu dan kebetulan melihat kita sebagai penyusup,” sahut Iolas menanggapi.
Bryen juga mengangguk setuju. “Elf salju biasanya tidak menempatkan penjaga di luar kerajaan mereka. Monster-monster lain yang berkeliaran di sekitar sini sudah cukup membuat siapa pun tidak berselera untuk datang.”
“Monster?” tanya Arael yang sedari tadi tidak melihat tanda-tanda adanya makhluk lain selain mereka bertiga.
“Kau sedang berjalan dengan dua elf berkekuatan sihir yang hebat. Para monster itu pasti juga merasakan tekanan energi kami sehingga tidak berani muncul. Monster gunung adalah spesies yang relatif lebih rendah dari kaum elf. Mereka hanya seperti serigala hutan yang mudah diburu, atau Yeti. Yah … makhluk-makhluk semacam itu,” terang Iolas.
Arael mengangguk paham. Ternyata ada banyak hal baru yang dia dapatkan dari perjalanannya mengelilingi benua. Apakah itu artinya tidak ada manusia yang tinggal di tempat ini?
“Meskipun begitu, ada desa suku manusia yang tinggal di sini,” lanjut Iolas seolah mendengar pertanyaan dalam kepala Arael.
“Kau seperti bisa membaca pikiranku, Iolas,” gumam Arael tersenyum simpul.
“Tentu saja aku tahu kau juga memikirkan kaummu sendiri,” sahut Iolas kemudian.
“Tapi bagaimana mereka bisa bertahan hidup di tempat seperti ini? Apakah para orge juga mengawasi mereka?” tanya Arael kemudian.
“Kau akan terkejut ketika melihatnya nanti,” ucap Iolas sambil meringis girang seperti menyembunyikan hadiah kejutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments