Esok paginya, Iolas kembali datang membawa sekeranjang buah-buahan. Dengan kasar pemuda elf itu meletakkan keranjang tersebut di atas meja.
“Makan itu, lalu ikut aku,” perintah Iolas ketus.
Arael menurut. Dia makan dengan cepat. Iolas menunggu tanpa banyak bicara. Hanya wajahnya yang tampak merengut sepanjang waktu. Ia sama sekali tidak berusaha menyembunyikan kebenciannya pada Arael. Alih-alih, pemuda elf itu justru terus menggerutu tanpa henti.
Setelah beberapa menit, akhirnya Arael pun menyelesaikan makannya. Satu keranjang buah-buahan lezat telah habis dia makan. Iolas berdecih kesal melihat keranjangnya sudah kosong.
“Dasar kau manusia rakus yang merepotkan. Kau benar-benar tidak tahu diri. Gara-gara kau, Ylyndar mungkin tidak akan selamat! Sekarang kau justru bermalas-malasan dan menghabiskan semua makanan itu sendirian! Sialan!” kutuk Iolas sambil menendang kaki meja dengan keras.
Meja itu ambruk ke lantai karena satu kakinya yang ditendang Iolas patah begitu saja. Arael hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa. Ia membiarkan Iolas marah-marah dan mengutuknya. Perlakuan Iolas itu jauh lebih baik daripada para orge di penjara.
Iolas kembali mendesis kesal karena Arael sama sekali tidak merespons. Akhirnya setelah sekali lagi menghancurkan meja dengan tendangannya, Iolas pun beranjak pergi. Arael mengikutinya tanpa bertanya.
Iolas ternyata membawa Arael keluar dari gua batu itu menuju sebuah pemandian besar yang serupa kolam air panas. Aroma bunga bergamot menguar diikuti uap panas yang mengepul di permukannya.
“Bersihkan tubuhmu disini. Meena sudah mempersiapkan baju ganti di situ,” ucap Iolas sambil menunjuk tumpukan pakaian di tepi kolam air hangat itu.
Arael mengangguk paham.
“Setelah selesai panggil aku di ujung lorong,” lanjut Iolas lantas berbalik pergi tanpa menunggu jawaban Arael.
Arael pun mengikuti perintah Iolas. Meski selama di penjara ia jarang mandi, tetapi para orge sesekali menyiramnya dengan air ketika mereka sedang kesal. Itu tidak bisa dihitung sebagai mandi sebenarnya. Namun setidaknya tubuhnya terbasuh air segar. Arael baru mulai merawat diri setelah Ylyndar membawanya. Elf itu benar-benar memperhatikan Arael meskipun tanpa banyak bicara.
Bagi Arael, Iolas juga cukup memperhatikannya. Meskipun dengan penuh kemarahan, tetapi Iolas selalu berusaha membuat Arael merasa nyaman. Termasuk saat ini, ketika menyuruh Arael berendam dalam kolam air panas yang bertaburkan kelopak-kelopak bunga. Mungkin memang seperti inilah cara para elf mandi. Arael tidak tahu.
Air hangat itu melingkupi tubuh Arael dengan nyaman. Arael menikmati waktunya berendam di dalam kolam. Rasanya sudah lama sekali sejak ia merasa begitu rileks dan tenang. Arael membenamkan wajahnya ke dalam air, semata-mata karena ingin seluruh tubuhnya merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Arael terus terhanyut sampai entah sudah berapa lama ia berada di tempat itu.
“Hei! Bangun! Aku menyuruhmu mandi tapi kenapa kau malah tenggelam?” ujar sebuah suara sambil menepuk-nepuk pipinya dengan perlahan.
Arael terbatuk bangun. Tubuhnya basah kuyup dan napasnya sedikit tercekat. Ia lantas bangkit terduduk sambil masih terbatuk dan mengeluarkan banyak air dari mulut dan hidungnya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya suara itu kembali terdengar cemas.
Arael menyaksikan Iolas berlutut di sebelahnya. Elf muda itu menepuk-nepuk punggung Arael yang masih sibuk terbatuk.
“Kenapa kau malah tidur di dalam kolam? Kau tahu berapa lama aku menunggumu mandi? Beruntung aku mendatangimu sebelum terlambat,” omel Iolas tanpa putus.
Arael membaca situasi dengan cepat. Mungkin Iolas berniat memarahinya lagi karena terlalu lama berendam. Namun elf itu justru menemukan tubuhnya yang sudah mengambang dalam air. Arael merasa tidak enak pada Iolas. Tidak terbayangkan bagaimana paniknya elf itu. Terlebih karena Arael tidak mengenakan pakaian apa pun saat berendam. Gadis itu menoleh sekilas ke tubuhnya yang kini sudah terbalut rapat dengan kain putih.
“I … itu … aku tidak bermaksud melihat tubuhmu. Kau tahu tadi itu kondisi yang darurat! Jadi jangan salah paham!” seru Iolas tergagap. Wajahnya merona merah karena malu.
“Tidak apa-apa. Terima kasih,” gumam Arael sembari bangkit berdiri. Batuk-batuknya sudah mereda. Tubuhnya juga sudah membaik.
Iolas mendengus pelan. “Kalau begitu cepatlah berpakaian. Ratu sudah menunggumu,” sahut Iolas lantas berbalik pergi meninggalkan Arael sendirian.
Arael lantas mengenakan pakaian yang sudah disiapkan untuknya. Sepertinya itu adalah pakaian para elf. Kainnya terbuat dari sutra yang lembut berwarna ungu muda. Aroma bunga-bunga tercium dari setiap helai pakaian tersebut. Ukuran baju itu sedikit terlalu besar untuk tubuh Arael yang ramping. Akan tetapi penampilannya secara keseluruhan sama sekali tidak buruk.
Setelah selesai berganti baju, Arael segera menghampiri Iolas yang berdiri di balik dinding batu. Pemuda elf itu melihat Arael dari atas ke bawah lalu mengangguk puas.
“Ayo ikut aku,” ucapnya pendek.
Arael mengikuti Iolas menyusuri lorong-lorong gua elf. Barisan obor yang menyala terang membuat perjalanan mereka tidak terlalu gelap. Di sepanjang lorong tersebut Arael melihat banyak barisan pintu-pintu kayu yang sepertinya menyembunyikan ruangan-ruangan yang berbeda. Mungkin itu kamar seperti miliknya. Arael tidak bertanya apa pun pada Iolas hingga akhirnya mereka sampai di ujung lorong.
Sebuah pintu kayu setinggi dua meter menjulang di hadapan mereka. Pintu itu adalah pintu yang paling besar di lorong tersebut. Ukiran sulur-sulur rumit menghiasi daun pintunya. Gagangnya berlapis perak yang berkilau terkena cahaya obor. Iolas mengetuk pelan pintu tersebut, lantas terdengan sahutan dari dalam. Suara perempuan yang merdu.
Detik berikutnya, sulur-sulur di depan pintu tersebut mendadak bergerak dengan sendirinya. Mereka melingkar dan saling bertaut dengan rumit. Kejadian tersebut terjadi selama beberapa saat hingga akhirnya muncul bunyi klik pelan dan pintu terbuka dengan lembut. Iolas mendorong pintu itu sambil memberi tanda para Arael untuk tetap mengikutinya.
Sebuah aula besar menyambut mereka setelah memasuki pintu. Aula tersebut sepenuhnya berlapis batu pualam. Beragam tanaman sulur menggantung di langit-langit dan dindingnya. Salah satu sisi ruangan tersebut tidak berdinding dan menampakkan pemandangan hutan yang sangat luas di bawahnya. Sepertinya tempat tersebut berada di atas bukit yang tinggi.
Seorang perempuan elf yang sangat cantik dengan rambut emas sepanjang mata kaki berdiri menyambut mereka. Perempuan itu tersenyum hangat saat melihat kedatangan Arael bersama Iolas. Sebuah mahkota bunga melingkar di atas kepala perempuan itu.
“Diberkatilah dalam cahaya Ingwë,” ucap Iolas sembari menangkupkan tangan kanannya ke dada lantas membungkuk hormat.
Sang elf perempuan menaruh tangannya ke atas kepala Iolas. “Bangunlah,” ucap perempuan itu lembut.
“Ratu, saya sudah membawa anak manusia ini seperti perintah Anda,” ucap Iolas kemudian.
“Terima kasih, Iolas. Tapi sebaiknya kau memanggilnya Putri Arael. Tidak sopan kalau kau menyebutnya seperti itu,” amanat sang ratu, pimpinan para elf di tempat tersebut.
Iolas tertunduk diam. “Maafkan saya. Saya hanya tidak terbiasa,” gumamnya pelan.
Sang Ratu mengangguk pelan lantas kemudian berjalan ke hadapan Arael.
“Selamat datang ke kerajaan kecil kami, Putri Arael. Perkenalkan, namaku Arendel, penguasa tempat ini,” ucap Ratu itu sembari menggenggam jemari Arael.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
🌹*sekar*🌹
🤔kan tadi sruh 5kan, ya dihabisin lha wong lper kok😅
coba tadi sruh sisain bbrpa..🥱
entah spa yg slah..😌😂
2023-03-18
0