Bianca tengah duduk dengan mata yang menatap tajam pria di depannya, kebencian dan kekesalan tersirat jelas di wajah Bianca.
"Apa kau gila!" Maki Bianca pada Rian yang menyuruh pria-pria kekar untuk menculiknya saat berada di mall.
"Harusnya yang bertanya seperti itu adalah aku! Apa kau tidak waras sampai bekerja sebagai pembantu seperti itu!"
"Hah? Bukan urusanmu, lagi pula aku sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan mu."
"Kita sudah tunangan, Bianca. Dan sebentar lagi aku akan menjadi suami mu."
"Enggak! Aku gak mau memiliki suami yang jelek seperti mu."
Mendengar makian dari Bianca, Rian langsung menatap kesal wanita di depannya.
"Jaga mulutmu itu, Bianca! Aku sudah memutuskan akan menikah dengan mu bulan depan."
"Kau gila yah! Siapa yang mau menikah dengan mu, aku tidak setuju." Bianca langsung menolak ucapan dari Rian.
"Terima atau tidak, kau tetap harus menikah dengan ku. Kedua orang tua mu sudah mempercayakan mu kepada ku, jadi meski kau keberatan tentang pernikahan ini. Kau tidak akan pernah bisa membatalkannya."
Bianca terdiam dengan ekspresi yang kesal, lalu Rian langsung meminta anak buahnya untuk membawa Bianca masuk ke dalam mobil. Ia tidak ingin pengantinnya malah melarikan diri, "Apa yang kalian lakukan, lepaskan!" Teriak Bianca dengan terus memberontak.
Meski di tatap oleh beberapa orang, Rian tidak peduli. Ia langsung menyuruh anak buahnya untuk membawa Bianca masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Bianca kembali memberontak, ia merasa kesal dan marah dengan apa yang di lakukan oleh Rian kepadanya.
"Apa kau gila, hah?! Aku akan melaporkan apa yang kau lakukan kepada ku sebagai tindak penculikan, bahkan ayah ku tidak akan pernah memaafkan apa yang kau lakukan!"
"Hahaha.. Bianca, kita di jodohkan oleh ayahmu. Dan dia sangat percaya kepada ku, jadi dia tidak akan keberadaan jika aku melakukan hal ini kepada mu. Karena apa yang ku lakukan adalah untuk kepentingan kita berdua, sayang."
"Jangan panggil aku sayang, aku jijik denger nya."
"Hahaha.. Bianca, tapi sekarang kau harus terbiasa karena aku akan terus memanggil mu sayang. Terutama saat kau berada di atas ranjang."
Mendengar hal itu Bianca bergidik ngeri, ia tidak mau membayangkan jika dirinya melakukan hubungan intim dengan Rian.
"Gak Sudi!!! Aku gak mau melakukan hubungan intim dengan mu, membayangkannya saja membuat ku ingin muntah!"
Rian sangat jengkel saat mendengar perkataan Bianca yang terus menghinanya, tapi pria itu hanya bisa menahan amarahnya karena ia tidak ingin pernikahannya dengan Bianca gagal hanya karena melakukan kekerasan kepada wanita itu.
"Bianca, sayang. Sebaiknya kau tenangkan dirimu, oke! Aku berjanji akan membuatmu menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini."
"Sungguh?" tanya Bianca dengan mata yang berbinar-binar.
"Tentu, aku akan mengabulkan semua yang kau inginkan."
"Benarkah, tanpa terkecuali?"
"Tentu sayang, tanpa terkecuali."
"Baiklah, permintaan ku hanya satu. ENYAH lah dari ku sialan!" Bianca langsung mengangkat kakinya dan menendang wajah Rian.
"Arg... Bianca sialan! Apa yang ku lakukan, beraninya kau menendang wajah calon suami mu sendiri!"
"Bodo amat!" Lalu supir pun langsung menghentikan mobilnya karena melihat Rian tengah kesakitan, kemudian seorang pria kekar membuka pintu mobil di sebelah Rian untuk melihat kondisi majikannya.
Bianca langsung memanfaatkan hal itu, ia segera mendorong tubuh Rian hingga pria itu tersungkur keluar dari mobil.
Bianca langsung menutup pintu mobil, supir yang melihat hal itu hanya bisa terdiam. "Cepat jalankan mobilnya!"
"Tapi nona.." Bianca segera mengancam sopir dengan cepat rambut yang di tempel di leher supir.
Dengan rasa takut dan bingung, supir pun langsung membawa mobilnya pergi meninggalkan Rian dan pria kekar tadi.
"Arg.. Bianca sialan, beraninya kau membawa kabur mobil ku."
"Tuan, bagaimana sekarang?"
"Dasar pria tidak berguna, badan saja besar tapi kau bahkan tidak bisa menghentikan wanita sekecil itu."
Rian hanya bisa marah-marah dan melampiaskan semua kekesalannya kepada bodyguard miliknya.
Bianca dengan senyuman senang, ia sangat puas melihat Rian terjungkal dari dalam mobil.
Sesampainya di kompleks perumahan, Bianca langsung turun dan jalan kaki menuju rumah Samuel.
Ia merasa sangat kesal karena ulah Rian, wanita itu tidak bisa membeli barang belanjaan.
Saat pintu di buka menampilkan sosok Juna yang ada di rumah Samuel.
"Juna, kau ada di sini?" tanya Bianca heran karena ia tidak tahu jika laki-laki itu ada di rumah majikannya.
"Iya, tadinya aku ingin mencari Samuel tapi dia tidak ada."
"Mungkin dia di kantor."
"Tidak ada, aku sudah mencoba mencarinya."
"Lalu, bagaimana bisa kau masuk ke sini?"
"Aku punya kunci rumah cadangan." Juna langsung menunjukkan kunci rumah milik Samuel.
"Oh.. Lalu untuk apa kau mencari Tuan?" Bianca penasaran dengan kedatangan Juna yang ingin mencari majikannya.
"Untuk membahas masalah pernikahan Samuel." Jawab Juna yang langsung duduk di sofa.
Bianca terdiam sesaat, lalu matanya langsung melihat ke arah Juna. "Apa, menikah?"
"Iya, sepupu ku akan menikah. Apa kau tidak tahu?"
"Aku tidak tahu, tapi sejak kapan? Maksudnya kapan dia akan menikah?"
"Aku juga tidak tahu, itulah kenapa aku datang ke sini karena aku mendengar jika kekasih Samuel sudah hamil."
Bianca kembali terdiam sesaat, perasaan tidak percaya langsung muncul di benaknya. Pria yang dingin pada setiap wanita, rupanya ia pria yang bisa melakukan hubungan seperti itu.
"Jadi Tuan Samuel akan menikah dan kekasihnya sekarang sedang hamil?" tanya Bianca sekali lagi untuk memastikan.
"Iya dan aku ke sini untuk menanyakan perihal itu. Tapi karena Samuel tidak ada, maka aku pulang dulu."
Juna langsung pulang, Bianca kini terdiam dengan ekspresi kecewa. "Jadi selama ini dia sudah memiliki kekasih? Dan pasti sering melakukan hubungan itu sampai kekasihnya hamil." Bianca tidak sanggup untuk membayangkan kegiatan panas yang di lakukan oleh Samuel dan wanitanya.
"Astaga, aku lupa menanyakan siapa nama kekasih Samuel."
Langkah kaki Bianca langsung melangkah ke dalam kamar miliknya, ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Pikirannya masih terus memikirkan tentang perkataan Juna, "Pantas saja ia tidak pernah tergoda oleh ku, bahkan dia selalu marah-marah. Rupanya dia sudah memilih kekasih."
Bianca hanya bisa menghela nafas, ada rasa kecewa dan hampa di hatinya, terutama saat mengetahui jika Samuel sudah memiliki seorang wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Terdengar suara ponsel milik Bianca yang rupanya telpon dari Daniela.
"Ada apa, Ma?"
"Minggu depan kamu bisa datang ke rumah?"
"Untuk apa memangnya?"
"Kekasih dari Yurika akan datang ke rumah untuk membicarakan tentang pernikahan mereka berdua."
"Oh, entahlah. Aku sedang malas dan sepertinya aku akan berhenti kerja."
"Kenapa sayang, bukankah majikan mu sangat sempurna hingga kau rela jadi pembantu?"
"Iya, awalnya. Tapi sekarang aku malas dan mungkin Minggu dengan setelah gajian aku akan keluar."
"Ya udah, lagi pula ngapain kamu kerja jadi pembantu."
"Ya udah, aku tutup dulu."
Bianca langsung mematikan panggilan dari Daniela, kini ia langsung memeluk guling dan segera memejamkan matanya dengan perasaan kecewa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Bunda Zhizan
patah hati si marimarrr,,, 😔😔😔
2023-03-05
2
Huang Renjun 💚
jgn kelamaan up dong thor,, ceritanya bagus tapi kelamaan up
2023-03-05
5
wati32
lanjutt
2023-03-04
0