Wajah Samuel memerah, perasaan gugup dan senang bercampur menjadi satu. Tapi Samuel tetap menunjukkan wajah kesal dan marahnya.
"Kau ini, merepotkan sekali." Omel Samuel dengan kaki yang berjalan mendekati Bianca.
"Hehehe..."
Samuel mengambil celana berbentuk segitiga milik Bianca, dengan mata tertutup pria itu membantu Bianca. Secara perlahan Samuel memasukkannya melalui kaki tapi terhenti di paha karena sulit.
"Tuan, tidak akan masuk kau harus mengangkat tubuh ku."
"Baiklah, aku akan mengangkat tubuh mu dan kau pakai sampai ke bagian itu."
"Oke, Tuan."
Samuel langsung mengangkat tubuh Bianca dengan cara memeluk wanita itu dari belakang, sementara tangan Bianca berusaha untuk memakai celana segitiga miliknya.
"Sudah, Tuan."
Samuel pun langsung menurunkan Bianca, kini mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Aku harus pergi untuk bersiap-siap.".
Tapi Bianca langsung menahan tangan Samuel, "Tuan, jangan pergi dulu. Aku belum makan."
"Aku sudah memesan makanan, nanti juga datang."
"Tapi bagaimana cara ku mengambilnya? Kan kaki ku sakit."
"Iya iya, aku tidak akan pergi dulu. Sekarang kau diam di sini, aku mau mandi."
"Baiklah Tuan."
Samuel langsung pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya, ia sangat gugup dan senang.
Dan kini benda pusaka Samuel sudah berdiri dengan tegak, "Bianca sialan." Maki Samuel karena ia harus kembali menunaikan hasratnya di kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Samuel langsung menggunakan kemeja putih miliknya. Ia segera menyisir rambutnya agar terlihat rapi, tak beberapa lama terdengar suara bel di pintu.
Samuel langsung turun dan rupanya itu kurir yang membawa makanan untuk Samuel, setelah selesai membayar Samuel langsung membawa makanan untuk Bianca pada wanita itu.
"Ini makanlah," ucap Samuel dengan tangan yang menyerahkan plastik berisikan makanan pada Bianca.
"Terimakasih, pak bos."
Bianca langsung memakan makanan miliknya, sesekali matanya melihat Samuel yang juga ikut makan di kamar Bianca.
"Tuan, kau sangat tampan." Puji Bianca dengan senyuman genit.
Samuel tidak menanggapi, meski di dalam hatinya sangat senang saat mendengar pujian dari Bianca.
Setelah selesai makan, Samuel membawa bekas makan Bianca dan miliknya ke dapur untuk di buang.
"Aku berangkat kerja, kau di rumah. Jika ada apa-apa telpon saja," ucap Samuel dengan tangan yang tengah memasang jam tangan miliknya.
"Tuan, apa kau tidak kasihan kepada ku? Kaki ku sakit." Rengek Bianca.
"Bagi ku yang sakit itu bukan kaki mu tapi otak mu." Maki Samuel.
Pria itu langsung pergi meninggalkan Bianca di rumah sendirian, Bianca dengan santai memakan cemilan yang di bawa oleh Samuel untuknya.
***
Kini Samuel tengah berada di kantor, perasaan kesal dan senang bercampur menjadi satu. Ia kesal karena Bianca bersikap seenaknya tapi ia juga senang karena hati kecilnya merasa terhibur dengan sikap Bianca.
"Pak Samuel, hari ini akan ada rapat dengan Divisi pemasaran."
"Siapkan ruang rapatnya, aku akan datang 5 menit lagi."
"Baik Pak."
Mendengar kata rapat membuat Samuel langsung merubah sikapnya, kini Samuel berada di ruang rapat.
Ketika divisi mulai menjelaskan tentang perkembangan pemasaran produk terbaru perusahaan, Samuel nampak tidak fokus sama sekali. Pikirannya masih melayang pada sosok Bianca yang terus membuat pusaka miliknya bangkit setiap memikirkan wanita itu, terutama tubuhnya yang sangat seksi.
"Pak Samuel?!" Herman yang merupakan ketua Divisi pun hanya bisa melihat ke kanan dan ke kiri karena Samuel malah seperti tidak fokus.
"Pak Samuel?!" Sindi sekertaris Samuel pun langsung menepuk pundaknya yang membuat Samuel tersadar.
"Apa?" tanya Samuel bingung.
"Bagaimana menurut Pak Samuel tentang penjelasan yang saya katakan tadi?" tanya Herman.
Samuel bingung karena ia sama sekali tidak menyimak penjelasan dari bawahannya, "Bagus, tingkatkan saja penjualannya! Rapat ini berakhir, kalian bisa kembali bekerja." Samuel langsung bangkit dari tempat duduknya dan pergi begitu saja.
Di sepanjang jalan, ia terus memaki dirinya karena di saat rapat ia malah memikirkan Bianca.
Tiba-tiba sebuah tangan merangkul pundak Samuel dan rupanya itu Tomi, sabahat Samuel.
"Woy bro, kau terlihat tengah kacau." Tomi merupakan karyawan di manajemen di perusahaan Samuel.
"Apa waktu mu sangat luang sampai bisa bersantai seperti ini?"
"Hahaha... Kerjaan ku sudah selesai, tapi bagaimana jika kita nongkrong."
"Aku tidak bisa, siang ini aku harus pulang."
"Waw... Tidak biasanya kau pulang di saat jam kerja, apa kau merindukan kekasih mu itu?"
"Apa maksudmu?"
"Hahaha.. Jangan malu-malu Sam, semua orang di sini tahu jika wanita bernama Yurika itu adalah kekasih mu dan kalian akan menikah."
"Darimana kau tahu hal itu?" tanya Samuel karena seingatnya ia tidak pernah mengatakan hal ini kepada orang lain.
"Aku tahu dari beberapa staf dan mereka mengetahui nya dari kekasih sendiri, pantas saja aku sempat heran kenapa ada wanita asing yang datang hampir setiap hari ke sini, rupanya itu adalah kekasih mu."
Samuel hanya diam saat mendengar hal itu.
"Aku masih tidak menyangka jika es kutub seperti mu bisa mencair oleh wanita itu, apakah dia sangat spesial sampai kau bisa jatuh cinta kepadanya? Katakan bagaimana cara dia menaklukkan mu?" Tomi terus memaksa Samuel untuk menjawab, tapi pria itu hanya diam dan enggan membahas hubungan dengan Yurika.
"Aku masih banyak pekerjaan, sebaiknya kau jangan menggangguku."
Samuel langsung melepaskan tangan Tomi dan segera masuk ke dalam ruang kerjanya.
Kini Samuel tengah duduk di atas kursi kebesarannya, ia masih memikirkan kondisi Bianca.
Tapi tanpa di duga wanita itu malah menelponnya duluan.
"Ada apa, Bianca?"
"Hiks.. Hiks.. Hiks..."
"Kenapa kau menangis? Ada apa?"
"Kaki ku sekarang malah tambah bengkak, bagaimana ini?"
"Baiklah, aku pulang sekarang."
Samuel langsung mematikan panggilan dari Bianca, ia segera keluar dari ruang kerjanya tapi saat keluar ia berpapasan dengan Yurika.
"Sayang, kau mau kemana?" Yurika langsung menghentikan langkah Samuel.
"Aku ada urusan, sebaiknya kau pulang." Ucap Samuel yang langsung bergegas pergi meninggalkan wanita itu begitu saja.
Yurika yang marah dan penasaran pun langsung mengikuti kemana perginya pria itu.
Kini Samuel sudah berada di apartemen miliknya, ia melihat keadaan Bianca dan benar saja kakinya kini menjadi bengkak bahkan 2 kali lipat.
"Bagaimana bisa bengkak sampai seperti ini?"
"Aku juga tidak tahu, tadi aku tidur dan saat ku lihat kaki ku sudah bengkak seperti ini. Tuan, kau harus tanggung jawab kaki ku sepertinya patah." Rengek Bianca dengan mata yang berkaca-kaca dan wajah yang sudah memerah ingin menangis.
"Mana mungkin bisa patah, sekarang kita ke rumah sakit."
Lalu Samuel memangku tubuh Bianca dan membawanya ke dalam mobilnya, tanpa mereka sadari jika Yurika tengah melihat dari dalam mobil.
"Samuel beraninya kau bermain gila dengan wanita lain di belakang ku, lalu siapa wanita itu!?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
🌸 Airyein 🌸
Pusakanya baperan terus
2024-04-18
0
🌸 Airyein 🌸
Perasaan Elu keseringan solo karir deg bang 😭
2024-04-18
0
Yulia Prihatin91
yurike itu kakak mu
2023-07-12
0