"Lepaskan aku!"
Bianca di bawa ke sebuah ruangan yang di dominasi oleh warna putih dan hitam, ia bisa melihat sosok pria tengah duduk membelakanginya.
"Jadi kau tidak mampu bayar minuman dan kamar yang kau pakai!" Pria itu meninggikan suaranya membuat Bianca sedikit ketakutan.
"Aku mampu bayar tapi biarkan aku menelpon orang rumah dulu, dompet ku hilang jadi sekarang aku tidak memiliki uang sama sekali."
Samuel langsung memutar kursinya dan menghadap ke arah Bianca, ia bisa melihat wanita itu masih menggunakan sehelai handuk berwarna putih.
Bianca terpesona dengan ketampanan pria di depannya sampai mulutnya tidak berhenti terbuka.
...Gila tampan banget, godain dikit bisa kali...
Bianca langsung berjalan mendekat ke arah Samuel, "Jadi begini.." Tapi Samuel langsung menghentikan langkah Bianca.
"Berhenti di sana! Jangan sampai kau mendekat lagi!"
"Eh?" Bianca kini terdiam dengan wajah yang bingung dan linglung, ia heran melihat reaksi pria di depannya.
Bahkan Samuel mengambil pengharum ruangan dan menyemprotkan nya ke depan Bianca.
...Apaan ini? Semua pria berlomba-lomba untuk mendekati ku tapi dia malah melihat ku seperti seonggok kotoran...
"Maaf Tuan?"
"Samuel."
"Oke, maaf Tuan Samuel saya merasa tersinggung dengan perlakuan anda kepada saya? Apa anda pikir saya seperti sebuah kotoran."
"Maaf jika anda merasa tersinggung tapi saya tipe pria yang sangat cinta kebersihan, terlebih lagi saat melihat tampilan anda saat ini."
Mata Samuel melihat ke arah Bianca yang hanya menggunakan sehelai handuk, "Apa lihat-lihat!" Dengan nada tinggi Bianca langsung menutupi area dadanya dengan kedua tangan miliknya.
Lalu tak beberapa lama seorang wanita tua datang, "Maaf membuat anda kerepotan dengan sikap Nona Bianca, saya ke sini membawa uang untuk membayar tagihan Nona Bianca."
Bianca langsung tersenyum bahagia dan haru saat melihat kepala pelayan datang untuk membayarkan tagihan miliknya.
"Baik dan sebaiknya kau jaga wanita itu!"
Tina langsung memberikan kartu debit milik Bianca, wanita itu segera melunasi tagihan kamar dan beberapa minuman yang ia pesan. Setelah itu Bianca langsung pulang ke rumah, tak lupa ia juga menggunakan pakaian yang di bawa oleh Tina dari rumah.
"Uh.. Bibi Tina, aku sayang kepada mu." Bianca memeluk dengan perasaan yang senang karena wanita tua itu sudah menyelamatkannya.
"Nona sebaiknya anda jangan melakukan hal seperti itu lagi, jika anda masih melakukannya saya tidak akan membantu anda lagi."
"Oke oke, kau tenang saja ini yang terakhir. Tadi malam aku sangat mabuk dan lupa menyimpan dompet ku dimana."
"Dompet anda sudah saya temukan."
"What? Sungguh tapi dimana?"
"Di kamar anda."
"Hah? di kamar ku, bagaimana bisa?"
"Sepertinya anda lupa membawa dompet anda, sebaiknya Nona jangan pergi ke klub malam itu lagi. Jika Tuan dan Nyonya sampai tahu, mungkin mereka akan marah besar."
"Oh My God, please Bi jangan beritahu mereka tentang hal ini. Aku tidak mau uang jajan ku di potong," Bianca langsung merengek kepada kepala pelayan karena ia yakin jika kedua orang tuanya pasti akan marah besar.
"Untuk kali ini saja." Jawab Tina seraya menghela nafas.
"Uh, kau memang yang terbaik."
"Tuan Rian kini berada di rumah dan menunggu anda pulang."
Bianca langsung memutar bola matanya saat mendengar nama pria yang menjadi tunangannya itu.
"Untuk apa sih pria sialan itu datang ke rumah? Sudah berapa kali aku bilang, aku gak mau nikah sama dia. Pria itu licik, dia tunangan sama aku cuman pengen nguasain harta ku aja." Bianca langsung mengoceh, ia sama sekali tidak menyukai Rian karena pria itu hanya mencintai hartanya saja.
Tina hanya diam karena menyangkut tentang Rian bukankah wewenangnya.
Sesampainya di rumah...
Bianca langsung berjalan cepat melewati pria yang berstatus tunangannya.
"Bianca!" Panggil Rian saat melihat Bianca melewatinya begitu saja.
Tapi Bianca kini pura-pura tuli, ia tidak peduli meski sudah di panggil berkali-kali oleh pria itu.
Rian lalu menarik tangan Bianca yang membuat wanita itu langsung menatapnya dengan malas.
"Ada apa sih?"
"Kau darimana saja?"
"Bukan urusanmu, lagi pula untuk apa kau pagi-pagi sudah datang ke rumah ku. Apa kau tidak punya rumah?!"
"Bianca, jaga bicaramu. Aku ini tunangan mu dan kita akan menikah."
"Enggak, aku gak mau nikah sama kamu. Jika kau ingin tetap menikah kau bisa menikah saja dengan ayah ku karena dia yang menginginkan mu menjadi menantunya."
"Bianca, kau ini bicara apa sih? Sayang, sebaiknya kau jaga bicaramu. Dan lagi jam segini kau baru pulang ke rumah? Kau darimana saja semalam?"
"Bukan urusanmu, tapi yang jelas aku bersenang-senang dengan seorang pria."
Plak..
Bianca langsung memegangi pipinya, matanya menatap marah pria di depannya yang berani menamparnya.
"Beraninya kau menampar ku dasar pria b*rengsek!" Maki Bianca dengan emosi yang sudah meluap ke ubun-ubun.
"Harusnya aku yang marah! Jika bukan karena keluarga mu yang kaya, mana mungkin pria terhormat seperti ku mau menjadi tunangan wanita murahan seperti mu!"
Bianca langsung tersenyum, kini Rian sudah menunjukkan taringnya.
"Waw.. Kini kau sudah melepaskan topeng busuk mu itu!"
Rian segera meminta maaf tapi Bianca mengacuhkannya dan langsung pergi menuju kamar tidurnya.
Ketukan di pintu kamar Bianca terus terdengar, ia tahu jika itu Rian tapi Bianca sama sekali tidak peduli dengan pria itu.
Hari sudah mulai menjelang malam, Bianca yang ingin segera tidur langsung di panggil oleh ayahnya yang baru pulang dari luar kota.
Entah kenapa Bianca sangat malas untuk bertemu dengan kedua orang tuanya dan salah satu saudari angkatnya.
"Ada apa?" Bianca langsung to the points karena ia sudah sangat mengantuk.
"Bianca tadi pagi kau bertengkar dengan Rian? Lalu kau juga pulang pagi-pagi, darimana kau semalam." Moris langsung menanyai putri sulungnya.
"Emmm.. Apa yang ayah katakan, memangnya siapa yang menyampaikan informasi yang tidak benar itu." Bianca berusaha untuk mengelak semua tuduhan yang di lontarkan oleh ayahnya.
"Rian, dia mengatakan jika kau pulang pagi-pagi dan bermain dengan para pria di luar sana." Moris kini meninggikan nada bicaranya.
...Rian sialan, awas kau....
"Aku tidak melakukan hal itu, aku berani bersumpah jika aku berbohong aku rela jika Rian di sambar petir."
"Kakak, sebaiknya kakak mengaku saja. Jangan malah menuduh Kak Rian berbohong." Yurika langsung membela Rian, ia adalah anak angkat dari keluarga Boenavista.
"Sebaiknya kau jangan ikut campur deh, lagi pula kau tidak di ajak!"
"Cukup! Bianca, ini peringatan terakhir untukmu jangan pernah melakukan hal itu lagi."
"Oke oke!"
Bianca langsung pergi begitu saja, hatinya terasa sangat sakit jika lama-lama melihat pemandangan kedua orang tuanya lebih menyayangi anak angkat mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
afa
Bianca sm Xavier apa masih sodaraan ya thor?
2024-05-03
1
🌸 Airyein 🌸
Bangke bener ortunya
2024-04-18
0
Yulia Prihatin91
bianca agak badung gk sih
2023-07-12
0