Apakah ini kencan kita?

Samuel yang tersadar langsung bangkit, ia menatap tajam ke arah Bianca yang kini tengah tersenyum mesum.

"Kau sebaiknya segera bersiap-siap." Ucap Samuel.

"Hah, memangnya Tuan mau mengajak ku kemana?"

"Teman ku baru membuka restoran dan aku harus datang untuk-" Samuel bingung harus mengatakan apa lagi. "Iya intinya kau segera bersiap!"

"Baik Tuan," Bianca dengan senang berjalan pergi ke lemari pakaian untuk mengambil pakaian terbaiknya.

Sementara Samuel berjalan keluar dengan tangan yang menutup mulutnya, "Apa yang ku lakukan?! Kenapa aku malah mengajaknya makan malam di restoran!"

Bianca kini sudah bersiap dengan sebutan dres berwarna moca dengan belahan dada yang cukup terbuka.

"Aku sudah siap."

Samuel menatap Bianca dari atas sampai bawah, penampilan wanita itu sangat mengundang perhatian para pria.

"Apa yang kau pakai? Ganti!" Samuel tidak suka melihat penampilan seksi Bianca.

"Kenapa? Menurut ku ini sudah sangat bagus."

"Kita akan ke restoran bukan ke klub malam, jadi ganti."

"Tidak mau," ucap Bianca yang malah tidak peduli dengan ancaman Samuel.

"Baiklah!"

Samuel langsung masuk ke dalam mobil di susun oleh Bianca, di dalam mobil Samuel mengirim sebuah pesan kepada seseorang.

"Jadi, kita akan ke restoran mana?"

"Letaknya cukup jauh."

Samuel langsung mengendarai mobilnya keluar dari kompleks perumahan miliknya, Bianca tersenyum senang untuk pertama kalinya ia makan di restoran bersama dengan Samuel.

"Jadi, ini kencan kita?" tanya Bianca tanpa rasa malu.

"Apa maksud? Siapa yang mengajakmu kencan?" tanya Samuel dengan tatapan tajam.

"Tentu saja kau, Tuan. Siapa lagi?"

"Aku tidak mengajakmu kencan, lagi pula aku tidak bernafsu berkencan denganmu."

"Jadi kau bernafsu dengan ku jika apa?" tanya Bianca memancing.

"Tentu saja jika kau tidak menggunakan pakai-" Samuel terdiam saat menyadari jawaban yang keluar dari mulutnya, lalu matanya melirik ke arah Bianca yang tengah melihatnya dengan senyuman.

"Em.. Tuan ternyata kau-" Sebelum menyelesaikan perkataannya, Samuel langsung menutup mulut Bianca dengan tangannya.

"Jangan bicara lagi! Jika kau bicara lagi, aku akan menurunkan mu di sini!"

Bianca langsung mengangguk, ia melihat Samuel yang tengah menahan malu.

Tak beberapa lama Samuel dan Bianca sampai di sebuah restoran yang cukup jauh dari kawasan perkotaan, di samping restoran terdapat banyak kebun teh yang menambah keindahan restoran tersebut.

"Ini restoran milik teman mu itu, Tuan?"

"Iya, ayo masuk."

Bianca langsung masuk mengikuti Samuel, ia sama sekali tidak melihat satu orang pun di restoran yang sangat mewah dengan dekorasi yang indah.

"Tuan," bisik Bianca.

"Ada apa?"

"Sepertinya restoran teman mu itu tidak laku, kau lihat bahkan tidak ada satupun pengunjung yang datang. Aku sangat kasihan kepada teman mu yang pastinya rugi besar."

Mendengar hal itu Samuel seperti ini tertawa, hal itu wajar jika tidak ada pengunjung sama sekali karena dirinya sengaja menyewa restoran ini untuk satu malam.

Bianca di ajak masuk ke sebuah ruangan yang terdapat banyak kaca yang langsung menghadap pemandangan kebun teh dan juga langit malam yang tengah di hiasi oleh jutaan bintan.

Bianca terdiam saat melihat keindahan di depan matanya, bukan tentang keindahan restoran tapi keindahan alam yang tengah di suguhkan oleh Tuhan untuknya.

"Duduklah." Ucap Samuel.

Lalu Bianca duduk berhadapan dengan Samuel, seorang pelayan langsung datang dengan membawa hidangan pembuka untuk mereka berdua.

Bianca dengan senang mulai memakan makanan yang ada di depannya, "Emm.. Tuan, makanannya sangat enak. Tapi kok bisa yah restoran nya sangat sepi." Bisik Bianca.

Samuel hanya tersenyum tipis, setelah makan makanan pembuka. Mereka langsung di suguhi oleh hidangan utama, dan Bianca juga mengatakan hal yang sama seperti itu.

Dan setelah makan hidangan utama, mereka kembali di suguhi oleh hidangan penutup.

Setelah semua hidangan telah di sajikan, Bianca kini hanya duduk dengan mata yang menatap bintang-bintang.

Lalu matanya melihat sebuah gitar yang ada di ruangan tersebut, "Tuan, apa kau bisa bermain gitar dan bernyanyi?"

"Kenapa memangnya?" tanya Samuel seraya meminum wine miliknya.

"Bagaimana jika kau bernyanyi satu lagu untuk ku." Pinta Bianca.

"Lagu, tidak mau!"

"Ayolah, Tuan."

"Tidak mau!"

"Em.. Aku tahu, pasti suara mu sangat jelek. Makannya kau tidak mau bernyanyi." Ledek Bianca.

Mendengar penghinaan yang Bianca katakan, Samuel langsung menatap tajam wanita itu dan bangkit dari tempat duduknya. Ia segera mengambil gitar dan menyanyikan satu lagu untuk Bianca.

Dari kejauhan tergambar cerita tentang kita

Terpisah jarak dan waktu

Ingin kuungkapkan rinduku lewat kata indah

Tak cukup untuk dirimu

Sebab kau terlalu indah dari sekedar kata

Dunia berhenti sejenak menikmati indahmu

Dan apabila tak bersamamu

Ku pastikan kujalani dunia tak seindah kemarin

Sederhana tertawamu sudah cukup

Lengkapi sempurnanya hidup bersamamu

Eeee-eeee

Jika hari kulalui tanpa hawamu

Percuma senyumku dengan dia, oooh

Dan apabila tak bersamamu

Ku pastikan kujalani dunia tak seindah kemarin

Sederhana tertawamu sudah cukup

Lengkapi sempurnanya hidup bersamamu

Apabila tak bersamamu

Ku pastikan kujalani dunia tak seindah kemarin

Sederhana tertawamu sudah cukup

Lengkapi sempurnanya (sempurnanya)

Hidup bersamamu

Hu-uuuu, hu-uuuu

Sebab kau terlalu indah dari sekedar kata

Dunia berhenti sejenak menikmati indahmu

Bianca terdiam dengan mulut yang menganga, entah kenapa hatinya terasa tersentuh dan terharu. Ia merasa apa yang di nyanyikan oleh Samuel itu adalah untuk dirinya.

Setelah selesai bernyanyi, Samuel langsung menyimpan kembali gitar tersebut ke tempatnya. Tapi ia terdiam saat melihat tatapan mata Bianca yang menatap kagum ke arahnya.

"Tuan, kau sangat hebat. Suara mu sangat bagus, hati ku meleleh oleh mu." Ucap Bianca dengan senyuman di wajahnya.

Hati Samuel terasa senang saat mendengar perkataan dari Bianca, tapi ia tetap memperhatikan ekspresi dingin dan tatapan tajam miliknya.

"Puas sekarang!"

"Puas sekali, Tuan."

"Jadi kau harus minta maaf kepada ku."

"Minta maaf untuk apa?"

"Ya tentu saja untuk kesalahan mu! Kau tadi menghina ku dengan mengatakan jika suara ku jelek!"

"Baiklah, aku minta maaf. Tapi sebagai permintaan maaf, aku akan mencium mu Tuan."

"Tidak usah, cukup permintaan maaf saja. Aku tidak butuh ciuman mu!"

Bianca hanya memonyongkan bibirnya saat mendengar perkataan kejam dari Samuel.

Terpopuler

Comments

Eni Susanti

Eni Susanti

lanjutanny mana

2023-03-01

2

nurmalasari utami

nurmalasari utami

wkwkkw mangats Bi 😆

2023-02-28

1

DhilaZiya Ulyl

DhilaZiya Ulyl

hahahha..... Bianca.... pepet terus Bi... jangan smpe Yurika yg menang🤣🤣

2023-02-28

4

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan pertama yang membawa kesan buruk
2 Apa kau pikir aku seperti sebuah kotoran!
3 Kabur dari rumah berujung jadi pembantu
4 Terang-terangan menggoda
5 Calon suami Yurika
6 Terang-terangan menggoda 2
7 Teman munafik
8 Ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan
9 Menyita handphone
10 Terpeleset
11 Antara senang dan kesal
12 Gara-gara kemampuan abal-abal mu!
13 Bilang gak mau tapi nyatanya mau
14 Saran dari Daniela
15 Pelayan cantik
16 Berita besar dari Yurika
17 Tangisan Bianca
18 Apakah ini kencan kita?
19 Siapa wanita itu?
20 Kecewa
21 Ada yang berubah
22 Sedang tidak mood
23 Teman lama
24 Jangan menangis!
25 Ciuman
26 Mabuk
27 Mabuk 2
28 Rupanya itu bukan mimpi
29 Seperti hantu yang bergentayangan
30 Surat wasiat Samuel
31 Kenyataan yang menyakitkan
32 Kekasih Bianca
33 Makan malam
34 Amarah Samuel
35 Sakit tapi tak berdarah
36 Emosi Bianca yang meluap-luap
37 Menahan rasa malu
38 Rahasia Yurika
39 Di grebek
40 Tidak tahu terimakasih
41 Awal pertemuan Bianca dan Yurika
42 Mengusir secara terhormat
43 Klarifikasi
44 Penolakan keras
45 Menginginkan bukti
46 DP duluan
47 Menyamar
48 Pertemuan tak terduga
49 Ajakan makan malam
50 Apa yang kau dapatkan dari Yurika.
51 Kejutan di pagi hari yang cerah
52 Pukulan dari ayah mertua
53 Kunjungan ke rumah sakit
54 Hidup melarat
55 Hadiah
56 Tidak merestui
57 Bianca yang mesum
58 Merestui
59 Pergi ke orang tua Samuel
60 Jatuh sakit
61 Mengunjungi diam-diam
62 Pernikahan
63 Malam pertama
64 Setelah menikah
65 Di prank
66 Bulan madu
67 Penutup
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Pertemuan pertama yang membawa kesan buruk
2
Apa kau pikir aku seperti sebuah kotoran!
3
Kabur dari rumah berujung jadi pembantu
4
Terang-terangan menggoda
5
Calon suami Yurika
6
Terang-terangan menggoda 2
7
Teman munafik
8
Ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan
9
Menyita handphone
10
Terpeleset
11
Antara senang dan kesal
12
Gara-gara kemampuan abal-abal mu!
13
Bilang gak mau tapi nyatanya mau
14
Saran dari Daniela
15
Pelayan cantik
16
Berita besar dari Yurika
17
Tangisan Bianca
18
Apakah ini kencan kita?
19
Siapa wanita itu?
20
Kecewa
21
Ada yang berubah
22
Sedang tidak mood
23
Teman lama
24
Jangan menangis!
25
Ciuman
26
Mabuk
27
Mabuk 2
28
Rupanya itu bukan mimpi
29
Seperti hantu yang bergentayangan
30
Surat wasiat Samuel
31
Kenyataan yang menyakitkan
32
Kekasih Bianca
33
Makan malam
34
Amarah Samuel
35
Sakit tapi tak berdarah
36
Emosi Bianca yang meluap-luap
37
Menahan rasa malu
38
Rahasia Yurika
39
Di grebek
40
Tidak tahu terimakasih
41
Awal pertemuan Bianca dan Yurika
42
Mengusir secara terhormat
43
Klarifikasi
44
Penolakan keras
45
Menginginkan bukti
46
DP duluan
47
Menyamar
48
Pertemuan tak terduga
49
Ajakan makan malam
50
Apa yang kau dapatkan dari Yurika.
51
Kejutan di pagi hari yang cerah
52
Pukulan dari ayah mertua
53
Kunjungan ke rumah sakit
54
Hidup melarat
55
Hadiah
56
Tidak merestui
57
Bianca yang mesum
58
Merestui
59
Pergi ke orang tua Samuel
60
Jatuh sakit
61
Mengunjungi diam-diam
62
Pernikahan
63
Malam pertama
64
Setelah menikah
65
Di prank
66
Bulan madu
67
Penutup

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!