Bianca kini sudah berada di rumah Samuel, perasaan kesal, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu.
Samuel yang baru pulang menatap Bianca heran karena tidak biasanya wanita itu hanya diam di atas sofa saat melihatnya pulang, karena Bianca selalu langsung menggodanya.
"Ada apa denganmu?" tanya Samuel dengan tangan yang melonggarkan dasi miliknya.
Bianca yang melihat Samuel langsung menatap pria itu seraya memonyongkan bibirnya. "Tuan, aku sedang sedih. Peluk aku!!" Bianca langsung merentangkan tangannya.
"Enggak!"
"Ayolah, Tuan." Rengek Bianca.
"Memangnya kau sedang sedih kenapa?" Samuel langsung duduk di sofa yang berhadapan dengan Bianca.
Bianca pun langsung berpindah tempat dan duduk di samping Samuel. "Apa yang kau lakukan? Duduk di tempat mu!" Maki Samuel dengan tatapan tajam.
"Enggak mau, jadi begini Tuan. Adik ku hamil dan sekarang kekasihnya sangat sulit di hubungi." Bianca langsung mengatakan kesedihannya dengan kepala yang bersandar di pundak Samuel.
Samuel terdiam sejenak, "Adikmu yang hamil tapi kenapa kau yang malah sedih?" tanya Samuel.
"Em.. Meski dia adik angkat ku, aku juga tidak mau melihat hidupnya menderita. Apalagi jika dia kembali melakukan aborsi hanya karena pria itu tidak mau bertanggung jawab, terlebih lagi aku takut hal itu sampai di ketahui oleh awak media karena kedua orang tua ku yang akan terkena imbasnya." Bianca menghela nafas sejenak saat mengatakan hal itu.
Samuel terdiam dengan pikiran yang kacau. "Bagaimana jika dia tahu, kekasih adiknya adalah aku. Apakah Bianca akan membenciku?"
"Tuan, bagaimana menurutmu?" tanya Bianca yang kini sudah berpindah posisi berada di pangkuan Samuel.
"Eh? Sejak kapan kau naik ke paha ku?" tanya Samuel kaget.
"Dari tadi, tapi kau seperti sedang memikirkan hal lain."
"Bukan urusanmu, tadi kau menanyakan apa?"
"Menurut mu, aku harus bagaimana?"
"Em.. Kau jangan ikut campur urusan adikmu, biarkan dia yang menyelesaikannya. Lagi pula dia sudah besar jadi dia harus menyelesaikan masalah yang dia lakukan sendiri."
"Emm.. Baiklah, tapi jika adik ku menikah. Bagaimana dengan ku?" tanya Bianca pada Samuel.
"Hah? kenapa kau bertanya kepada ku?"
"Tuan, aku juga ingin menikah. Jika adik ku menikah duluan, bagaimana kata orang. Aku tidak mau di sebut perawan tua."
"Ya kalau begitu, cepatlah menikah!"
"Tentu, jadi Tuan kapan kau akan melamar ku?"
Samuel langsung menatap ke arah Bianca, "Memangnya siapa yang mau melamar mu?"
"Tentu saja kau, siapa lagi."
"Memangnya sejak kapan aku mau menikah dengan mu."
"Tentu saja sejak kita pertama kali bertemu, kau tahu tahu saat kita bertemu waktu itu. Sudah ada benang merah yang mengikat kita berdua."
"Benang merah apaan, ucapan mu selalu melantur."
"Emm.. Tapi aku menyukai mu Tuan." Ucap Bianca yang menatap mata Samuel seraya memasang senyuman manis.
Samuel seketika terdiam, ia merasa terpana saat melihat wajah cantik Bianca dari dekat. Jantungnya berdetak dengan kencang seakan hendak melompat dari tempatnya.
"Apa yang kau katakan! Tapi aku tidak menyukai mu." Jawab Samuel dengan tatapan mata yang tajam meski wajahnya sedikit merona.
"Emm.. Kenapa kau tidak menyukai ku? Apa aku jelek?"
"Iya kau sangat-sangat jelek! Bahkan kau sangat beban, aku menjadikan mu sebagai pembantu ku untuk melakukan pekerjaan rumah bukan untuk menggoda ku."
Bianca memonyongkan bibirnya, Bianca yang kesal langsung turun dari pangkuan Samuel. Ia langsung pergi begitu saja tanpa melihat ke arah Samuel sama sekali.
Ada perasaan tidak enak di hati Samuel, "Apa aku terlalu keras kepadanya?" Gumam Samuel dengan mata yang menatap kepergian Bianca.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, Bianca berada di dalam kamarnya dan tidak keluar kamar sama sekali.
Samuel terus melihat ke arah kamar Bianca yang tertutup dan belum terbuka sama sekali sejak tadi sore, perasaan tidak enak mulai muncul di benak Samuel.
Perlahan Samuel berjalan ke kamar Bianca, ia mulai mengetuk pintu kamar wanita itu.
"Bianca, buka pintunya!"
Tapi tidak ada jawaban dari Bianca, tangan Samuel pun memutar gagang pintu yang rupanya tidak di kunci.
"Bianca, kenapa kau tidak keluar kamar?" Samuel berjalan mendekati Bianca yang tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi membelakanginya.
"Bianca, apa kau mendengarkan ku?" Samuel langsung menarik pundak Bianca agar bisa melihat wajah wanita itu.
Tapi Samuel terdiam saat melihat wajah Bianca yang sudah memerah dengan kantung mata yang sedikit bengkak, bahkan ada sisa-sisa air mata bagian matanya.
"Kau menangis? Kenapa kau menangis?" tanya Samuel.
Tapi Bianca tidak menjawab, wanita itu memiliki kembali membalikkan tubuhnya membelakangi Samuel.
"Bianca!" Samuel kembali menarik pundak Bianca, bahkan kini pria itu duduk di samping Bianca.
"Ada apa?" tanya Bianca dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa kau menangis?" tanya Samuel dengan tatapan dingin, meski di dalam hatinya ia merasa tidak enak kepada Bianca.
"Hiks.. Hiks... Tuan kau jahat sekali! Kau selalu menghina ku bahkan memaki ku dengan kasar." Tiba-tiba Bianca menangis dengan keras.
Samuel yang merasa tidak enak pun menarik Bianca agar bangun, "Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu."
"Hiks.. Hiks... Hiks..." Tapi Bianca terus menangis dan tidak berhenti sama sekali..
Melihat Bianca yang seperti itu membuat Samuel merasa bersalah, lalu pria itu langsung memeluk Bianca dengan tujuan untuk berusaha menenangkan wanita itu.
"Aku minta maaf," bisik Samuel dengan tangan yang mengelus rambut wanita yang kini berada di dalam pelukannya.
Bianca kini berhenti menangis, Samuel merasakan tangan Bianca kini tengah mengelus punggungnya dan wajah wanita itu tengah bergerak-gerak di dada bidang miliknya.
Samuel langsung menarik tubuh Bianca agar terlepasnya dari tubuhnya, ia melihat wajah Bianca dengan senyuman mesum milik wanita itu.
"Bianca, apa kau sedang menipu ku?!" Tanya Samuel dengan nada tinggi.
"Enggak kok," jawab Bianca yang kini sama sekali tidak menangis. "Tuan, peluk aku lagi." Pinta Bianca dengan tangan yang ingin memeluk Samuel, tapi tangan Samuel langsung menghalangi Bianca dengan memegang wajahnya agar menjauh dari dirinya.
"Tuan!" Rengek Bianca.
"Beraninya kau berpura-pura menangis hanya hanya untuk bisa di peluk oleh ku."
"Tidak kok, emm..." Jawab Bianca dengan mata yang mengalihkan pandangannya dari Samuel.
Lalu Samuel bangkit dari tempat tidur Bianca dan hendak pergi, tapi Bianca tidak membiarkan Samuel untuk pergi begitu saja. Wanita itu langsung memeluk punggung Samuel dan menarik pria itu hingga terjatuh di atas ranjang dengan keadaan terlentang.
Bianca dengan senyuman mesum miliknya langsung duduk di atas tubuh Samuel.
"Bianca, apa yang kau lakukan! Turun dari tubuh ku."
"Enggak mau!"
Samuel bukan pria lemah, ia langsung membalikkan tubuh Bianca yang membuat posisi mereka kini bertukar. Bianca berada di bawah tubuh Samuel dan Samuel berada di atas tubuh Bianca.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Ini Abs
iiihhhh aku mah nggak suka am kelakuan si Bianca jdi cewek ko gitu amat ngga ada harga dirinya terlalu agresif iiiiiihhhhhh amit amit
2023-04-01
2
Bunda Zhizan
dasar EA marimarrr,,, padahal lagi suasana Melo sempet" EA dia tuh omess,, aisshhh,, untung Bambang Samuel kuat imani jadi GX kebablasan 😁😁😁
2023-02-27
4
nurmalasari utami
ga kebayang nanti kalo Bianca tau calon suaminya Yurika itu Samuel, kejer kali yaa
2023-02-26
2