Bianca menatap dengan mata yang berbinar-binar penuh rasa kekaguman, ketampanan pria di depannya sebelas dua bela dengan Samuel.
"Maaf, Anda siapa yah?" tanya Juna dengan mata yang melihat sosok wanita asing di rumah saudaranya.
"Saya Bianca, pelayan di rumah ini." Jawab Bianca dengan memberikan senyuman terbaiknya.
"Maksudnya kau pelayan Samuel?"
"Iya, saya pelayan Tuan Samuel." Bianca tersenyum dan memperlihatkan citra baiknya sebagai seorang wanita kelas atas.
"Apa kau memang pelayan?"
"Iya, saya seorang pelayan. Lalu anda sendiri siapa?"
"Saya Juna, sepupu Samuel."
Bianca yang mengetahui jika pria tampan di depannya itu adalah sepupu Samuel langsung mempersilahkan pria itu untuk masuk.
Bianca yang masih pincang pun berusaha untuk jalan, tapi tiba-tiba ia hampir terjatuh dan Juna langsung menahan tubuh Bianca hingga mereka saling menatap satu sama lain.
"Kau tidak apa-apa?"
"Maaf, saya tidak apa-apa terimakasih."
"Tapi kaki mu sepertinya sedang sakit."
"Hanya terkilir, tapi sudah membaik."
"Biar saya tuntun." Juna langsung menuntun Bianca ke sofa.
...Ya Tuhan, pria ini sangat lembut sekali. Hati ku meleleh.....
"Terimakasih, Tuan Juna." Ucap Bianca senang.
"Jangan panggil Tuan, aku bukan majikan mu. Kau bisa memanggil Juna saja."
"Baik, Juna. Apa kau ingin minuman? Atau makanan ringan?"
"Tidak usah, aku tidak ingin merepotkan wanita cantik seperti mu."
Bianca terdiam dengan wajah yang memerah. "Arg... Hati ku meleleh."
Di saat keduanya tengah mengobrol, pintu rumah terbuka menampilkan sosok Samuel yang datang dengan membawa kantung plastik.
"Juna, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Samuel dengan tatapan mata tajam ke arah dua insan yang tengah duduk berdampingan.
"Hei, sepupu. Aku datang berkunjung karena ku dengar kau datang ke rumah ini. Bagaimana kabarmu!" Juna bangkit dan ingin memeluk Samuel, tapi pria itu mengabaikan Juna, ia malah berjalan ke arah Bianca dengan menatap tajam ke arah wanita itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Samuel dengan tatapan tajam.
"Eh? Tentu saja menyambut tamu kan aku pelayan di rumah ini." Jawab Bianca yang merasa merinding di tatap tajam oleh Samuel.
"Iya kau menyambutnya, tapi kenapa harus duduk berdua dengannya."
"Eh? Iya..." Bianca bingung harus menjawab apa.
"Sudahlah, sepupu. Lagi pula dia sedang sakit, kasihan nona cantik ini kau tidak boleh memarahinya." Ucap Juna memberikan pembelaan kepada Bianca.
Mendengar kata 'Nona cantik' Samuel langsung menatap tajam ke arah Juna.
"Kenapa kau datang ke sini? Memangnya aku mengizinkan mu untuk datang?"
"Hah? Kau kenapa, biasanya aku datang kau tidak pernah marah." Juna menatap heran sepupunya itu.
Lalu tatapan Samuel kembali tertuju pada Bianca. "Bianca, kau kembali ke kamar!"
"Baik." Bianca dengan kaki pincang berusaha untuk bangkit.
Juna pun mendekati wanita itu hendak membantunya berjalan, tapi Samuel langsung menghentikan nya.
"Kau tidak perlu membantu, biar aku saja." Ucap Samuel yang langsung menggendong tubuh Bianca dan membawanya ke dalam kamar.
Bianca tersenyum tipis, lalu tangannya memeluk erat leher Samuel. Sesampainya di kamar, pelukan Bianca masih belum lepas.
"Bianca, lepaskan." Perintah Samuel.
"Enggak mau!"
"Bianca."
"Enggak mau, Tuan. Tadi kau menatap ku seperti marah? Apa kau cemburu melihat ku dekat dengan pria lain?"
"Omong kosong, mana mungkin aku cemburu padamu. Untuk apa aku cemburu, memangnya kau siapa di kehidupan ku?"
"Tentu saja aku calon istri mu." Jawab Bianca tersenyum.
Deg...
Jantung Samuel berdetak dengan kencang, ia langsung memalingkan wajahnya dari Bianca.
"Bianca, lepaskan pelukan mu dari leher ku."
"Enggak mu, aku ingin seperti ini terus."
"Bianca jangan buat aku menggunakan cara kasar!"
"Aku tidak peduli, aku suka memeluk mu seperti ini Tuan. Tubuhmu sangat harum," bisik Bianca.
Samuel yang mendengar hal itu seketika salah tingkah, wajahnya memerah karena malu. Tapi gengsinya sangatlah tinggi, "Kau ini selalu menggoda ku, cepat turun."
Samuel langsung menurunkan tubuh Bianca dan menidurkannya di atas ranjang, tapi tangan Bianca masih memeluk leher Samuel.
"Lepaskan, Bianca."
"Enggak mau!" Bianca malah menarik tubuh Samuel hingga pria itu kini berada di atas tubuh Bianca, dengan kondisi wajah yang saling menatap satu sama lain.
Bianca tersenyum tipis, ia membelai wajah Samuel dan hendak mencium pria itu. Samuel pun terdiam dengan perasaan yang gugup, tapi akal sehatnya langsung menyadarkannya.
Tangan kanan Samuel langsung menutup bibir Bianca yang hendak menciumnya.
"Mau apa kau!" Tanya Samuel dengan tatapan mata yang tajam.
"Aku hanya ingin mencium bibir mu, Tuan. Tidak lebih," jawab Bianca tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Di otakmu hanya ada hal-hal mesum, sekarang kau diam di kamar dan jangan keluar sebelum aku menyuruh mu keluar!" Samuel langsung melepaskan paksa tangan Bianca, wanita itu hanya memonyongkan bibirnya kesal.
"Kenapa sih aku tidak boleh keluar? Em.. Tuan, pria tadi itu sepupu mu?"
"Iya, kenapa?"
"Em.. Dia sangat tampan, Arg.. Terus tadi dia memperlakukan ku sangat lembut. Sepertinya hati ku meleleh.." Ucap Bianca senang.
Mendengar hal itu Samuel memasang wajah tidak suka. "Sebaiknya kau hapus pikiran kotor mu itu kepada sepupu ku!"
"Kenapa? Tuan kau cemburu?" tanya Bianca dengan senyuman licik.
"Cemburu untuk apa?"
"Tuan, kau tenang saja. Aku hanya akan meniduri mu saja kok."
Wajah Samuel seketika langsung memerah sempurna saat mendengar godaan dari Bianca, pria itu langsung pergi begitu saja.
Samuel berjalan ke ruang tamu dengan wajah yang memerah, pikirannya masih memikirkan semua perkataan yang di lontarkan oleh Bianca.
"Dasar wanita itu, setiap hari terus menggoda ku."
Juna yang melihat Samuel datang langsung menyapa pria itu.
"Sam, kenapa kau malah membiarkan pelayan cantik mu itu pergi."
Mendengar hal itu Samuel langsung menatap tajam ke arah Juna. "Kau datang ke sini untuk menemui ku, dan tidak ada hubungannya dengan wanita itu!"
"Oke oke... Astaga! Aku lupa menanyakan namanya, siapa nama pelayan cantik mu itu?"
"Dia tidak memiliki nama! Untuk apa kau datang ke sini, langsung saja aku tidak memiliki banyak waktu."
"Waw.. Kenapa kau galak seperti ini?"
"Dari dulu sikap ku seperti ini, jadi untuk apa kau ke sini?"
"Oke, oke. Aku ke sini karena ku dengar kau akan menikah? Jadi Nenek meminta ku untuk menanyakan hal itu kepada mu."
"Darimana Nenek tahu tentang hal itu?"
"Dari Tomi, dia mengatakan hal itu kepada Nenek saat ia datang ke rumah untuk memberikan pesanan milik Nenek."
"Astaga, pria itu memang bermulut ember." Samuel hanya bisa menghela nafas saat mendengar perkataan dari Juna.
"Jadi siapa wanita itu? Dan bagaimana bisa kau akan menikah secara mendadak."
"Em.. Entahlah, ceritanya sangat panjang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Maryani Yani
samuel CEO lemot harusnya gercep cari bukti biar yurike ga lancang
2024-06-10
0
Tersiani Duni
ayolah CEO,,,cari bukti dong
2023-04-04
1
evita vita
km org hebat pasti punya bukti dong sam buat nendang yurika itu
2023-03-20
0