Samuel langsung menceritakan semuanya pada Juna.
"Jadi kau akan tetap menikahinya?"
"Entahlah, sebenarnya aku tidak ingin. Jadi sekarang aku masih menyelidiki semuanya, tapi itu bukan hal yang mudah."
"Em.. Aku akan membantumu untuk menyelidiki pada malam itu karena bisa saja wanita itu menipumu."
"Iya, aku juga merasa seperti itu. Tapi aku tidak memiliki bukti sama sekali jika dia menipu ku."
"Lalu bagaimana sekarang?"
"Apanya?"
"Iya hubungan mu dengan wanita itu, eh.. Tunggu dulu, siapa nama kekasih mu itu?"
"Yurika, namanya Yurika. Untuk hubungan ku, dia memaksa ku untuk segera menikahinya."
"Menurut ku untuk saat ini kau jangan dulu mengiyakan untuk menikah dengannya."
"Tentu saja, jadi kau ke sini hanya untuk menanyakan hal itu?"
"Iya."
"Sekarang semuanya sudah jelas, kau boleh pergi dari sini."
"Tapi aku ingin berpamitan dulu dengan pelayan cantik itu."
"Tidak ada pamit-pamitan, sekarang kau pergi dari sini."
Samuel langsung mengusir Juna dari rumah, setelah itu Samuel berjalan masuk ke dalam kamar Bianca.
"Tuan, ada apa?"
"Apa kau sudah makan?" tanya Samuel dengan ekspresi yang datar.
"Belum, apa kau membeli makanan?"
"Iya, aku tadi beli. Aku makan," ajak Samuel, lalu Samuel membantu Bianca untuk berjalan menuju ruang makan.
"Tuan, jangan tuntun aku." Ucap Bianca dengan wajah yang cemberut.
"Baiklah." Samuel langsing melepaskan tangannya.
"Maksud ku bukan begitu, gendong." Rengek Bianca.
"Setelah kaki mu terluka, kata-kata itu sering keluar dari mulut mu." Samuel menatap tajam wanita di depannya.
"Iya mau bagaimana lagi, ayolah Tuan. Gendong," ucap Bianca dengan mata yang berbinar-binar.
Samuel hanya bisa menghela nafas, ia langsung menggendong tubuh Bianca dan membawanya ke ruang makan.
5 hari kemudian...
Kondisi kaki Bianca kini sudah sembuh dan Bianca sehari-hari hanya bekerja membersihkan rumah yang notabenenya sudah sangat bersih.
Bianca kini tengah bersantai di atas sofa, ia merasa hidupnya sangat membosankan terlebih lagi Samuel sudah jarang berada di rumah karena pria itu sibuk dengan urusan kantor.
Hingga suara ponsel milik Bianca berbunyi dan rupanya itu adalah Daniela.
"Ada apa Ma?"
"Nak, kau pulang sekarang!"
"Hah? Kenapa Mama tiba-tiba menyuruh ku pulang."
"Ini tentang Yurika jadi kau harus pulang."
"Jika masalah Yurika, kenapa aku harus datang."
"Iya karena kau juga Kakaknya jadi kau harus datang."
"Memangnya dia kenapa sih, Ma?"
"Yurika hamil."
"A..pa? Hamil, gak salah?"
"Iya nak, jadi sekarang kau datang ke sini."
"Ya udah, aku datang ke rumah."
Bianca langsung buru-buru bersiap ke rumah ibunya, ia sangat terkejut mendengar berita kehamilan Yurika yang sangat mendadak.
Sesampainya di rumah kedua orangtuanya, Bianca melihat Yurika tengah duduk di ruang tamu dengan ekspresi wajah yang biasa saja. Berbeda dengan kedua orang tuanya yang nampak panik dan khawatir.
"Ma." Panggil Bianca.
Daniela dan Moris langsung memeluk Bianca saat melihat wanita itu datang.
"Akhirnya kau datang juga." Ucap Moris senang.
"Jadi apa yang Mama katakan di telpon itu benar, Yurika hamil?"
"Iya Nak."
Bianca langsung melihat ke arah Yurika, wanita itu nampak biasa saja yang membuat Bianca sangat jengkel.
"Jadi kamu beneran hamil?" tanya Bianca.
"Iya, aku sedang hamil." Jawab Yurika dengan senyuman senang.
"Jadi sudah berapa bulan?"
"Baru 6 Minggu."
"Jadi kapan kau akan menikah?" tanya Bianca dengan mata yang menatap tajam ke arah Yurika.
"Entahlah, tapi aku berusaha untuk membujuk kekasih ku agar segera menikahi ku."
"Ini sudah yang kedua kali."
"Apa maksudnya, Kak?" Yurika menatap tidak senang dengan perkataan Bianca.
"Iya, ini sudah yang kedua kali kau hamil di luar nikah."
"Maksudmu apa mengatakan hal seperti itu? Memangnya siapa sih yang mau hamil di luar nikah. Gak ada kak! Tapi mau bagaimana lagi, semua ini kecelakaan dan sudah terjadi. Dan aku tidak bisa melakukan apapun!" Yurika langsung membela dirinya.
"Itu bukan kecelakaan! Tapi itu suatu hal yang kau nikmati bersama dengan pasangan mu, tapi apa yang terjadi sekarang! Kau hamil, dan jika kau ingin melakukan hal itu setidaknya pake pengaman! Apa kau tidak kasihan kepada orang tua kita, mereka harus menanggung malu atas apa yang kau lakukan."
"Jangan munafik jadi orang, Kak! Kau juga selalu ke klub malam. Apa yang kau lakukan itu baik? Enggak! Jadi sebelum kau mengatakan hal itu kepada ku, sebaiknya kau ngaca dulu."
Bianca terdiam dengan tatapan mata yang tajam. "Iya, aku memang suka ke klub malam. Tapi setidaknya aku tidak semudah itu melemparkan diri ku ke atas ranjang setiap pria yang ku temui! Dan setidaknya aku tidak hamil di luar nikah sampai harus menggugurkan kandungan ku!"
Yurika terdiam dengan mata yang menatap marah ke arah Bianca, untuk pertama kalinya Bianca menghina Yurika habis-habisan.
"Yurika, selama ini aku diam karena aku yakin jika kau pasti berubah. Selama ini aku tidak pernah ikut campur urusan mu tapi jika kau melakukan hal yang membuat keluarga kita malu. Aku turun tangan, dan sekarang kau hamil. Apa kau pikir hal itu tidak membuat kedua orang tua kita malu? Apa pria yang menghamili mu akan sungguh-sungguh menikahi mu?"
"Tentu saja dia akan menikahi ku! Kekasih ku sudah berjanji."
"Hanya janji? Tapi apa kau yakin dia akan menepatinya? Yurika jika sampai pria itu melakukan hal yang sama seperti pria yang lain yang pernah menghamili mu lalu meninggalkan mu. Kau jangan pernah berpikir untuk melakukan aborsi!"
"Kak, sebaiknya kau urus hidup mu! Bahkan ayah dan ibu juga tidak memarahi ku, atas dasar apa kau malah memaki ku hanya karena hal sepele seperti ini."
"Ini bukan hal sepele, Yurika. Kehamilan itu mu itu mempertaruhkan masa depan keluarga kita, masa depan mu dan masa dengan anak yang ada di kandungan mu."
"Lebay tahu gak?! Bahkan di luar sana itu banyak yang hamil di luar nikah, mereka tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Lalu kenapa kau malah mempermasalahkan hal seperti ini!"
"Itu karena mereka tidak berpendidikan! Sementara kau, wanita berpendidikan tapi malah memiliki pemikiran sempit seperti itu."
Bianca menatap tajam ke arah Yurika, untuk saat ini Bianca tengah berada dalam suasana hati yang serius.
Yurika yang kesal langsung pergi begitu saja meninggalkan Bianca.
"Bagaimana sekarang, Bianca? Mama takut jika pria itu tidak tanggung jawab pada Yurika." Daniela langsung mengatakan kekhwatiran nya.
"Semoga saja pria itu mau bertanggung jawab, atau kalau bisa Mama hubungi pria itu secara langsung dan menyuruhnya datang ke sini."
"Baik, nanti Mama akan coba hubungi pria itu."
Bianca tersenyum tapi di hati kecilnya ada perasaan tidak enak, ia seperti memiliki firasat buruk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
YuliaMile
maap thor bapaknya bianca itu simon apa moris sih ??? kok beda² di setiap bab
2023-03-30
1
happy oktavia
buang aja kelaut nih yurika.. sdh dipungut dan dimanusiakan, eh ga tau terima kasih. ciiih
2023-02-26
2
Îen
jgn sampe sam nikahin si burik😑😑😑😑😑
2023-02-26
1