Yurika dan Samuel yang tengah makan bersama pun nampak sangat menikmati suasana makan siang itu, lalu Samuel pergi ke toilet.
Yurika tersenyum puas saat melihat Samuel pergi, ia tidak sabar untuk bisa menikah dengan Samuel seorang pria kaya raya dan merupakan seorang pemilik perusahaan ternama.
Hingga senyum Yurika seketika luntur saat melihat kedatangan Bianca, wanita itu berjalan ke arah Yurika dengan tatapan marah.
"Kak, ada apa kau ke sini?" tanya Yurika dengan senyuman ramah meski dalam hati ia tengah gugup.
"Apa maksudmu, Yurika!"
"Hah? Apa yang kau katakan, aku tidak mengerti."
"Kau mengatakan pada orang-orang jika aku adalah anak pungut dari keluarga Boenavista, apa maksudmu itu?! Dan kau mengatakan jika dirimu lah anak sah yang sesungguhnya," ucap Bianca dengan penuh amarah.
"Kak, mungkin mereka memfitnah ku. Aku mana berani mengatakan hal itu." Yurika berusaha menjelaskan kepada Bianca dengan mata yang sendu dan berkaca-kaca.
"Yurika, selama ini aku tidak pernah mengusik mu atau mempermasalahkan latar belakang mu di keluarga ku. Tapi ingat! Jangan pernah melupakan siapa dirimu, jika bukan karena aku. Kau tidak akan pernah masuk ke keluarga Boenavista! Ingat itu, Yurika!" Tunjuk Bianca.
Yurika menganggukkan kepalanya, lalu setelah puas memaki Yurika. Bianca langsung pergi begitu saja, tanpa mereka sadari jika Samuel melihat semua hal itu dan ia juga mendengar pembicaraan antara Bianca dan Yurika.
Samuel berjalan mendekati Yurika, ia berusaha berakting seolah ia tidak melihat apapun.
"Kau kenapa?" tanya Samuel.
"Tadi Bianca datang ke sini," jawab Bianca dengan nada sendu.
"Bianca? Untuk apa dia datang ke sini?" tanya Samuel dengan nada lembut, tangannya lalu memegang pundak Bianca dan mengajaknya untuk duduk.
Yurika tersenyum saat melihat perlakuan manis Samuel, "Bianca marah kepada ku karena ia di usir dari rumah, dan Bianca melampiaskan semuanya kepada ku." Yurika langsung menangis, ia memeluk Samuel dan bersandar di dada bidang pria itu.
"Berhentilah menangis," bisik Samuel dengan tangan yang mengelus rambut Yurika.
"Terimakasih, sayang. Di dunia ini hanya kau saja yang bisa mengerti kan diri ku, aku sangat bersyukur bisa mendapatkan pria seperti mu." Yurika tersenyum dengan tangan yang membelai wajah Samuel.
"Iya, sebaiknya kau pulang. Aku masih ada urusan di kantor," ucap Samuel yang bangkit dari tempat duduk.
Yurika langsung bangkit, ia segera menggandeng tangan kekasihnya keluar dari restoran hingga mereka berpisah di parkiran karena keduanya membawa mobil masing-masing.
Samuel mengendarai mobilnya, ia melihat sosok yang sangat di kenalnya tengah berjalan kaki menggunakan sendal jepit. Tampilan Bianca saat ini sangat berbeda jauh dengan Bianca yang dulu pernah ia dengar, wanita yang memiliki kecantikan di level tinggi dan kekayaan yang melimpah.
Samuel menepikan mobilnya dan membunyikan klakson yang membuat Bianca terkejut.
"Tuan, kau membuat ku terkejut!" Bianca langsung bersorak riang saat melihat Samuel.
Lalu tangan Bianca hendak membuka pintu mobil tapi masih di kunci, "Tuan, buka kunci nya!"
"Mau kemana kau? Memangnya aku mengizinkan mu masuk."
"Ayolah, aku cape jalan kaki. Jika tidak mengizinkan masuk, aku akan masuk lewat kaca mobil." Ancam Bianca.
Karena tidak ingin di jadikan bahan tontonan, Samuel langsung membuka kunci pintu mobil. Bianca pun segera masuk ke dalam mobil, "Tuan, antar kan aku pulang." Ucap Bianca seakan tengah memerintah.
"Heh! Kau ini pembantu ku, untuk apa aku mengantarkan mu pulang."
"Ayolah, jika kau tidak ingin. Biar aku yang mengendarai mobilnya," ucap Bianca.
Samuel melihat tampilan Bianca dari atas sampai bawah, pakaian wanita itu memang terlihat biasa tapi jika di pakai oleh Bianca malah membawa kesan yang berbeda dan terlihat jauh lebih berkelas.
"Kau menggunakan pakaian seperti itu untuk keluar rumah? Bukankah aku sudah membelikan beberapa pakaian yang lebih tertutup."
"Aku tidak nyaman dengan pakaian seperti itu jika untuk keluar rumah dan pakaian seperti itu membuat ku gerah."
"Alasan!" Samuel langsung mengendarai mobilnya.
Bianca nampak santai saat berada di dalam mobil, "Bianca, ini mobil ku, tapi kenapa kau bersikap seperti sedang berada di dalam mobil mu." Omel Samuel.
"Emm.. Aku sudah terbiasa seperti ini," jawab Bianca yang melihat kuku-kuku cantiknya.
Samuel kembali memfokuskan dirinya ke jalanan, meski entah kenapa dia cukup senang dengan keberadaan Bianca.
"Tuan, aku lapar." Rengek Bianca, perkataan Bianca langsung membuat Samuel mengerutkan keningnya.
"Bianca, kau bekerja untuk ku sebagai pembantu tapi kenapa malah kau bersikap seperti majikan!" Omel Samuel, ia tidak habis pikir Bianca terus saja membuatnya kesal.
"Emm..." Bianca melihat ke atas dengan bibir yang monyong, "Aku tidak peduli, tapi yang jelas aku lapar. Tuan, apa kau ingin melihat pembantu mu yang seksi ini mati kelaparan."
"Aku tidak peduli!" Jawaban itu langsung di lontarkan oleh Samuel, Bianca yang melihatnya segera menyipitkan matanya dan bibir yang monyong.
Otak kecil Bianca mulai berputar, senyuman penuh kelicikan mulai terlihat di wajah cantiknya.
"Tuan, aku lapar." Rengek Bianca sekali lagi.
"Aku tidak peduli." Jawab Samuel yang masih fokus pada jalanan.
"Jika kau tidak memberiku makan, aku akan membuka baju ku di depan mu!" Ancam Bianca dengan senyuman di wajahnya.
"Apa kau gila," maki Samuel.
Bianca langsung membuka kaos bajunya yang menampilkan BH berwarna navy terpasang di oppai besar miliknya, Samuel yang tengah mengemudikan pun langsung menepikan mobilnya di tempat yang sepi.
"Apa kau gila! Cepat pakai baju mu," maki Samuel meski matanya terus melihat oppai milik Bianca yang tersembunyi di balik kain berwarna navy.
"Emm.. Tapi makan yah?" tanya Bianca.
"Iya iya." Jawab Samuel yang masih tidak bisa memalingkan matanya dari pemandangan di depannya.
"Oke, terimakasih tuan." Bianca langsung menggunakan pakaian miliknya, tanpa rasa malu Bianca langsung kembali duduk dengan tenang seperti seorang anak kecil. Mata Bianca langsung melihat ke arah Samuel yang masih belum menjalankan mobilnya, "Tuan, kenapa belum jalan?"
"Arg... Ini semua gara-gara kau!" Maki Samuel yang langsung menghidupkan mesin mobilnya.
Ia langsung mengemudikan mobilnya dan mencari restoran terdekat, meski kini keadaan Samuel sedang tidak baik-baik saja karena setelah melihat oppai milik Bianca antenanya kini tengah tegak berdiri tapi bukan untuk mencari keadilan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Dul...😇
🤔🤦
2023-04-16
0
YuliaMile
godain terus bi ... biar sam makin panas dingin
2023-03-30
2
Bunda Zhizan
dasar marimar omess,, tapi Don Juan mah seneng itu🤪🤪🤪
2023-02-23
2