Bab 20

... "Maka nikahilah wanita-wanita lain yang halal bagi kalian untuk dinikahi; (apakah) dua, tiga, atau empat. Namun, apabila kalian khawatir tidak bisa berlaku adil (di antara para istri bila sampai kalian memiliki iebih dari satu istri), nikahilah satu istri saja atau mencukupkan dengan budak perempuan yang kalian miliki. Hal itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." - QS. An-Nisaa’: 3....

Anin memacu motornya tanpa arah tujuan yang jelas. Yang jelas saat ini ia hanya ingin menghilangkan rasa pusing di kepalanya gara-gara ulah David, pria yang bahkan belum ia kenal.

Ia harus mencari cara agar terhindar dari lamaran paksa David. Ia sungguh merasa tidak sejalan dengan cara berpikir David.

Ngkek ngkek ngkek .....

Twew wew wew ....

🤭🤭🤭🤭🤭

"Waduhhh, waduuuhhhhh ..., waduhhhhh!" segera perasaan Anin tidak enak saat tiba-tiba laju motornya melambat.

"Wes ta lah tor, nggak usah reno-reno (Sudah lah motor jangan macam-macam)!" gerutu Anin saat akhirnya motor yang ia kendarai berhenti tepat di tengah jalan.

"Astaghfirullah hal azim, kenapa bisa nggak inget sih. Semalam motornya di bawa bapak kondangan, kenapa juga bapak nggak ngisi bensin!" keluhnya lagi sambil turun dari motor. Jalanan terlihat sepi karena berada di daerah perbatasan. Sepertinya juga tidak begitu banyak rumah penduduk,

"Ini di mana lagi?" gumamnya lagi saat menyadari kalau dia tidak mengenal daerah itu. Sepertinya tadi ia terlalu jauh berpikirnya.

Terlihat sepi, hanya beberapa mobil dan motor yang lalu lalang. Di sebelah kanan kirinya hamparan persawahan.

Anin membuka helmnya, menatap motor yang sama sekali tidak bergerak.

Lengkap sudah hari ini ...., batin Anin.

Srekkkkkk

Tiba-tiba Anin duduk berjongkok di samping motor.

Hiks hiks hiks

Ia menangis sejadi-jadinya, seperti baru saja kehilangan sesuatu dan menundukkan kepalanya, menjadikan lututnya untuk menyembunyikan wajahnya.

"Kamu kecopetan?"

Pertanyaan seseorang berhasil menghentikan tangis Anin.

Ada orang ...., padahal Anin sengaja menangis agar bisa sedikit meringankan beban dalam pikirannya. Ia pikir tadi aman karena tidak ada orang dan berencana melanjutkan perjalanan, maksudnya mencari bensin setelah puas menangis. Tapi ternyata ada yang melihatnya menangis.

"Atau jatuh?"

Tanya seseorang lagi saat Anin tak kunjung mengangkat kepalanya.

"Atau terjadi hal buruk terhadapmu? Jika iya, mari saya antar ke kantor polisi. Tadi di seberang sana saya sempat melihat ada pos polisi kalau anda tidak keberatan!"

Kayaknya aku kenal sama suara ini..., batin Anin lagi dan dengan cepat ia mengangkat kepalanya,

"Ustad Parid!"

Pe lagi ...., keluh ustad Farid dalam hati. "Kamu_, ada apa?" tanyanya segera setelah merasa kenal dengan gadis yang tengah menangis itu. Ia masih membungkukkan badannya tepat di atas Anin membuat Anin bingun saat ingin berdiri, takut jika menyendul tubuh ustad Farid.

"Boleh Anin berdiri, ustad?" tanya Anin kemudian.

"Ohhh," dengan cepat pula ustad Farid menyadarinya, ia pun segera memundurkan tubuhnya dan Anin pun akhirnya bisa berdiri.

Anin membersihkan bajunya yang sedikit kotor karena melembreh ke tanah, ia juga mengusap sisa air matanya.

***

Kini mereka sudah duduk beton yang mengelilingi sebuah pohon besar yang ada di pinggir jalan, segelas es Pleret menjadi penawar haus di tengah terik matahari.

"Bisa cerita kan sekarang, kenapa bisa Sampek sini?" tanya ustad Farid kemudian setelah merasa Anin sudah bisa di ajak bicara. mereka tampak duduk berjauhan.

"Lagi banyak masalah! Trus ustad sendiri ngapain di sini? Bukannya ustad mau ke Blitar? Jangan-jangan ustad juga kesasar sama kayak Anin ya?" jawabannya singkat tapi cabang pertanyaannya jadi lebih banyak dari pada pertanyaan yang di ajukan oleh ustad Farid membuat ustad Farid menggelengkan kepalanya.

"Akan lebih baik kalau bahas kamu dulu, bahas aku nya nanti kalau persoalannya kamu sudah beres!"

"Maksudnya ustad mau bantu Anin menyelesaikan masalah Anin?" tanya Anin sambil sesekali menyendokkan butiran es Pleret ke dalam mulutnya.

"Ya, kalau saya bisa. Insyaallah saya bantu! Ceritakan jika menurut kamu itu pantas untuk kamu ceritakan dan jangan ceritakan kalau menurut kamu itu sebuah aib yang harus di simpan rapat!"

"Apaan sih ustad!?" protes Anin.

"Ya saya sebagai pendengar juga harus menjaga nama baik dan privasi kamu kan sebagai seorang muslim!"

"Baiklah, kalau menurut aku sih bukan sebuah aib yang harus di tutupi, jadi kalau ustad tidak keberatan mendengarkan saya akan cerita. Kalau saya pendam sendiri takutnya saya khilaf!"

"Astaghfirullah hal azim, jangan memikirkan hal yang buruk karena setan paling ahli membujuk dalam hal keburukan."

Kok bisa se nyesss ini ya kata-katanya, apa ...., Anin malam terbengong mendengarkan perkataan ustad Farid.

Karena Anin tidak lagi menanggapi ucapannya, ustad Farid pun akhirnya memutuskan untuk menoleh ke agar Anin,

"Kok diam, jadi cerita apa enggak?" tanyanya kemudian.

"Bisa tambah lagi nggak ustad nasehatnya, kayaknya aku udah mulai dapat mencerahkan dari ustad!" ucap Anin masih tanpa mengedipkan matanya.

"Ohhh mau nasehat, nasehat apa ya tapi?"

"Apa aja!"

"Emmmm," tampak ustad Farid berpikir sejenak,

"Bagaimana kalau saya bilang gini, Allah bakal bantu kita dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi bukan langsung mencabut masalahnya, tapi Allah bakal kuatkan hati kita untuk mengadapinya. Agar kita bisa menjadi manusia yang lebih kuat di hadapan Allah dan maklukNya!"

Iya, kayaknya aku nggak akan salah kali ini ..., batin Anin lagi sambil menghabiskan es Pleret nya dengan meneguk langsung pada gelasnya tanpa menggunakan sendok lagi.

"Boleh Anin tanya sesuatu ustad?"

"Tanya aja, bakal aku jawab kalau aku bisa jawab! Insyaallah!" ucap ustad Farid yang juga sudah menghabiskan esnya.

"Bagaimana menurut ustad tentang cinta dan pernikahan?"

Hehhhhh ...

Ustad Farid menghela nafas, ia sendiri belum berpengalaman soal cinta dan pernikahan tapi harus membahas soal dua hal itu.

"Baiklah, aku akan menjawab sebisaku. Yang aku tahu saja ya, soalnya_!"

"Aku tahu, ustad belum menikah kan? Dan sudah pasti ustad juga tidak pernah pacaran!" dengan cepat Anin menyela ucapan ustad Farid.

Astaghfirullah hal azim, sabar ...., batin ustad Farid sambil mengelus dada.

Untung perempuan, kalau laki-laki sudah aku ajak gelut dia ...

"Bisa dengarkan dulu atau mau bicara sendiri!" ucap ustad Farid dengan ketus.

"Ya Allah, gitu aja marah ustad!"

"Nggak," jawab ustad Farid dengan menahan emosinya.

"Ya udah cepatan ustad, Anin dengerin!"

"Apa?" ustad Farid jadi lupa apa topik pembahasan nya tadi gara-gara Anin terus menyela ucapanya.

"Soal cinta dma pernikahan!"

"Ohhh iya, jadi kalau dalam Islam pernikahan itu bukan berdasarkan cinta,"

Anin langsung menajamkan matanya, ia merasa tidak setuju karena jika memang begitu berarti ia salah karena telah menolak David.

"Kok gitu?"

"Dengarkan dulu kelanjutannya!" mendapat hardikan dari ustad Farid akhirnya Anin pun kembali diam.

"Karena jika pernikahan itu didasarkan pada hal-hal yang sifatnya tidak abadi, entah itu ketampanan atau harta. Jika semuanya hilang apakah pernikahannya juga akan berakhir? Enggak kan? Karena tampan, cantik, harta, tahta semua kan sifatnya hanya titipan dan sewaktu-waktu akan di ambil oleh Allah."

Anin mengangukkan kepalanya setuju dengan perkataan ustad Farid kali ini,

"Lalu bagaimana dengan cinta? Bukankah pernikahan itu butuh cinta?"

"Kalau cinta itu hanya bonus yang menarik, saat kita memasuki masa puber dulu, kita pasti lah pernah tertarik pada lawan jenis karena kita terus berada dalam satu sekolah atau satu kelas yang sama, melihatnya setiap hari dan hal itu terasa indah. Dan nanti saat kita menikah, bukankah kita jika akan tinggal satu rumah dengan pasangan, bahkan satu ranjang, cinta itu pasti juga akan tumbuh dengan sendirinya. Nggak mungkin kan kalau kita tidak jatuh cinta pada pasangan yang setiap hari menemani kita!"

Kenapa semakin ke sini, rasanya semakin kesana ya ...., batin Anin. Ia seperti mendapatkan sebuah jawaban atas kegundahannya selama berminggu-minggu ini. Semejak kelulusannya, ia benar-benar tidak bisa hidup tenang. Ia terus saja di hantui permintaan dan janjinya pada sang bapak.

Anin semakin menyunggingkan senyumnya mendengar penjelasan ustad Farid yang panjang lebar itu,

"Ustad,"

"Hmmm?"

"Boleh saya tanya satu kali lagi? Tapi ini sifatnya agak pribadi!"

"Boleh, tapi jika pribadi berarti saya punya pilihan untuk menjawab atau memilih untuk tidak menjawabnya ya!"

"Iya ustad!"

Setelah mendapat persetujuan dari ustad Farid, akhirnya Anin pun mengajukan satu kali lagi pertanyaan.

Bismillahirrahmanirrahim ....

Kali ini ia ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaannya selama ini.

"Kalau ustad, jika diberi jodoh oleh Allah. Pengennya nikah sama orang yang bagaimana?"

Mendengar pertanyaan Anin, ustad Farid pun tersenyum. Ia memang belum memikirkan tentang jodoh yang bagaimana yang akan mengisi hidupnya kelak tapi sedikit banyak ia punya patokan yang standart untuk orang yang mau menikah.

"Saya mau menikah dengan wanita yang memiliki tujuan yang sama denganku."

"Apa?"

"Allah!"

Jawaban singkat dari ustad Farid berhasil menggetarkan hati Anin, ia benar-benar tidak percaya dengan secepat ini mempertemukan dengan orang yang mungkin akan menjadi jodohnya.

"Ustad, nikahi aku!"

Bersambung

Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya

Follow akun Ig aku ya

Ig @tri.ani5249

...Happy Reading 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

langsung tembak ajah....

2023-11-15

0

Ayuk Vila Desi

Ayuk Vila Desi

waduh...gercep nih Anin

2023-10-16

0

Ayuk Vila Desi

Ayuk Vila Desi

kok koyok per...

2023-10-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!