POV Anin
Ternyata budhe benar-benar tidak berubah pikiran, ia benar-benar mengajakku ke sebuah rumah makan, aku tidak tahu pria seperti apa yang akan budhe kenalkan padaku.
"Ya Allah budhe, Anin benar-benar nggak nyaman kalah kayak gini!"
"Kamu mau jadi perawan tua? Jangan sampek kamu tuh jadi pemilih malah nanti dapatnya jelek!"
"Astaghfirullah hal azim budhe, ucapan itu doa loh budhe!"
"Makanya, manut saya sama budhe! Ini tuh orang kaya, putranya mengusaha, pokoknya hidup kamu bakal terjamin kalau mau sama dia."
"Iya budhe!" jawabku dengan malas.
Akhirnya aku hanya bisa diam dari pada budhe terus mendoakan aku yang tidak-tidak.
Hingga akhirnya setelah setengah jam kami menunggu, seorang wanita yang berpenampilan sosialita mendekati kami, iya sih jika di lihat dari penampilannya memang dia orang kaya.
"Hai jeng, maaf ya nunggu lama!" sapanya, dia tampak ramah. Begitulah kesan pertama yang aku dapat.
"Iya jeng, nggak pa pa. Silahkan duduk!"
Wanita itu pun duduk, sepertinya dia tidak begitu memperhatikan keberadaanku. Barulah setelah duduk ia tersenyum padaku,
"Ohhh ini ya jeng yang mau kamu kenalkan sama anak saya?" tanyanya pada budhe.
"Iya jeng, pokoknya nggak rugi kalau punya menantu ponakan saya ini, selain sarjana, dia juga sedang merintis usahanya sendiri. Dan kalau Maslaah urusan rumah, dia ini sangat handal, pintar masak juga!"
Astaghfirullah hal azim budhe, promosinya lentera banget ..., masak air iya ...., aku hanya bisa garuk-garuk kepala mendengarkan promosi dari budhe, rasanya mengen banting kaca pas ingat kenyataannya tidak sebaik itu.
"Oh iya jeng, trus putranya jeng Kartika mana?"
"Maklum lah jeng, dia kan sibuk. Jadi kalau nggak pas jam makan siang dia nggak bisa keluar kantor!"
bos apa karyawan nih ...
"Ohhh gitu, jadi harus nunggu nih ya jeng?"
"Iya, nggak pa pa kan nunggu?"
"Ahhhh nggak pa pa!" ucap budhe dengan senang hati, tapi aku enggak.
Kalau suruh nunggu sapake jam makan siang kenapa nggak janjiannya pas jam makan siang aja, kenapa pagi-pagi pakek Dateng? Emang dia pikir enak nunguin sampai tiga jam, panas nih pantat .
"Nggak pa pa kan Anin?" tanya wanita itu dan hal yang bisa aku lakukan hanya tersenyum dengan manis dan menganggukkan kepala. Kalau bukan karena budhe mungkin sekarang aku sudah kabur.
Jadi penasaran, seperti apa sih rupanya, Sampek pengen banget nyuruh nunggu ....
Dan benar saja, tepat jam dua belas siang. Seorang pria dengan kemaja putih berjalan menghampiri kami, aku pikir dia orangnya,
"Maaf nyonya, pak David tidak bisa ke sini." ucap pria itu pada wanita bernama Kartika itu.
"Trus gimana dong?"
"Kalau nyonya memaksa, gadis itu di minta untuk menemui pak David di tempat meetingnya!"
Aku dan budhe hanya jadi pendengar, dari percapakan mereka. sangat menyakinkan kalau David pria mapan, buktinya dia punya entah ajudan atau sopir, yang jelas ia punya bawahan.
"Bagaimana Anin? Kamu nggak keberatan kan kalau ikut Anto?"
Aku yang di beri pertanyaan cukup terkejut, aku pun menoleh pada budhe dan budhe mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat tanda kalau aku harus setuju.
"Tapi Tante, saya tidak tahu mana yang mananya Anto!" ucapku dengan spontan.
"Dia ini Anto!"
Hahhhh, astaghfirullah hal azim, bodoh banget aku, bisa-bisa mengatakan hal itu, keliatan banget kalau aku loading lambat ...
"Ahhh, dia ya!?" ucapku sambil tersenyum, cukup malu.
Aku nggak tahu apa yang membuat Bu Kartika bisa langsung tertarik mengenalkan aku dengan putranya, padahal aku hanya anak kampung dengan pengetahuan minim. Jika memang si David ini pengusaha sukses, seharusnya ia juga cari istri yang selevel dengannya, setidaknya sama-sama pengusaha atau kalau nggak seperti yang ada di novel-novel, cari istri model atau artis dengan penampilan yang menarik, minimal tidak malu-maluin kalau di ajak ke kondangan.
"Mari!?" ucap pria itu dengan memberikan isyarat ya dengan tangan.
Aku tidak punya pilihan lain, ada budhe di sana, tidak mungkin untuk kabur. Mungkin nanti saat jauh dari budhe aku bisa cari cara untuk kabur.
"Kita hanya berdua di dalam mobil?" tanyaku saat pria bernama Anto itu membukakan pintu mobil, lumayan bagus juga mobilnya. Aku tidak matre tapi cukup tergiyur dengan mobil mewahnya, kayak ada di drakor-drakor.
Jangan-jangan gara-gara mimpi yang semalam, aku jadi masuk ke dunia drakor ....
Kayaknya aku terlalu banyak nonto drakor. Ha ha ha
"Iya mbak, tapi jangan khawatir jaraknya tidak begitu jauh dari sini, nanti mbak_!"
"Anin!" sahutku.
Sepertinya dia belum mengenal namaku. Ya iyalah, memang aku siapa, harus di kenal banyak orang.
"Iya, mbak Anin bisa langsung ketemu sama pak David di tempat meeting!"
Baiklah terserah dia, yang penting aku ingin segera mengobati rasa penasaranku dengan pria yang bernama David ini. Lebih cepat ketemu lebih baik.
Mobil melaju meninggalkan tempat dimana ada budhe. Aku benar-benar pergi sendiri sekarang hanya dengan pria asing.
Benar saja, tidak sampai sepuluh menit akhirnya kami sampai di depan sebuah hotel,
Deg
Kok hotel ....?????
Seketika segala pikiran negatif hinggap dan bersarang di kepalaku.
"Siapkan mbak?" Anto sudah membukakan pintu untukku, tapi aku masih memilih diam di dalam mobil.
"Kamu menjebakku ya?"
"Maksud mbak Anin?"
"Kenapa membawaku ke hotel?"
"Ohhh, kebetulan klien pak David tamu dari luar negri yang menginap di hotel ini, jadi mereka meeting di restoran yang ada di hotel ini!"
"Terserah apapun itu, tapi yang jelas aku nggak mau masuk ke sana, kalau atasanmu itu mau ketemu sama aku, suruh temui aku di sini, okey!" ucapku dengan keras kepala. Lebih tepatnya ini sebuah pertahanan, aku sekarang hanya sendiri di sini, aku harus waspada dengan segala kemungkinan terburuknya.
"Tapi mbak_!"
"Terserah, kalau nggak mau. Berarti aku pergi sekarang!" Aku pun keluar dari mobil dan hendak meninggalkan mobil dan juga Anto.
"Tunggu mbak, mbak Anin tolong tunggu di sini dulu, biar saya tanyakan sama pak David dulu. Nanti kalau pak David tidak setuju menemui mbak Anin di sini, mbak Anin boleh pergi! Jadi tolong tunggu saya di sini ya mbak! Saya mohon!"
Anto terus memohon membuatku tidak tega untuk meninggalkannya, mungkin jika aku pergi sekarang bisa jadi Anto akan kena imbasnya.
"Baiklah, aku tunggu sampai sepuluh menit kalau tidak datang aku pergi!"
"Baik mbak!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Ayuk Vila Desi
waspada itu penting nin...jadi penasaran kayak apa orangnya
2023-10-16
0
Ayuk Vila Desi
🤭🤭🤭
2023-10-16
0
sherly
segitunya nyari jodohmu nin
2023-07-29
0