Bab 11

"Kenapa nggak jadi naik angkot?" tanya ustad Farid saat Anin sudah berjalan mensejajari langkahnya.

Meskipun seharusnya ia meminta Anin untuk menggantikannya menodong motor, tapi ustad Farid tidak melakukan hal itu. Ia merasa laki-laki yang lebih pantas melakukannya.

"Takut motornya kamu bawa lari!"

"Suudzon banget jadi orang!"

"Bukan suudzon, tapi waspada!"

"Terserah lah!"

Ustad Farid mengakhir perbincangan mereka, terlihat sekali kalau ia sudah kelelahan. Kemeja putihnya tampak basah karena keringat.

Kasihan sekali dia, kalau kayak gini. Dia pasti sudah capek banget, ini kan sudah sangat jauh ...., batin Anin sambil diam-diam memperhatikan ustad Farid.

Kayaknya bukan deh kalau orang jahat, buktinya dia tidak melakukan hal-hal yang aneh kan sedari tadi ...

"Kenapa memperhatikan aku, aku ganteng ya?" tanya ustad Farid seketika membuat Anin terkejut.

"Siapa? Ngarang ya? Jangan Ge Er," ucap Anin sambil memalingkan wajahnya ke tempat lain.

"Ya aku akui aku ganteng, tapi sayang aku tidak berniat berjodoh sama gadis Jawa!" ucap ustad Farid dengan begitu percaya dirinya membuat Anin menghentikan langkahnya.

"Hahhhh, yang benar saja. Lagi pula siapa juga yang mau berjodoh sama dia, masih mending David kemana-mana!?" gerutu Anin sambil berkacak pinggang sedangkan ustad Farid sudah berjalan jauh di depan.

"Ehhhh, kenapa jadi nginget-nginget David. Jadi kepikiran lagi kan, dua Minggu. Ahhhh kenapa aku pakek janjiin dua Minggu segala sih, jadi pusing sendiri kan!" gerutunya sambil memukuli kepalanya dengan tangan.

"Ahhhh entah lah," ucapnya menyerah sambil berlari menyusul ustad Farid.

"Ini masih jauh?" tanya ustad Farid lagi, padahal ia kira akan sampai dalam lima belas menit tapi nyatanya ia sudah mendorong motor hampir satu jam, tapi tidak sampai.

"Seharusnya kalau berdasarkan google map ini sih sudah hampir sampai!?" jawab Anin sambil mengamati layar ponsel milik ustad Farid yang sengaja ia minta Anin untuk membaca google map.

Mendengar jawaban Anin, ustad Farid pun segera menghentikan langkahnya, ia menoleh pada Anin,

"Seharusnya?" tanyanya kemudian membuat Anin ikut menghentikan langkahnya.

Mendapat pertanyaan itu Anin malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal,

"Maksudnya ini gimana? Bukannya kamu sudah tahu rumah teman kamu itu?" tanya ustad Farid lagi memastikan.

"Iya, tapi_!"

"Tapi?" ustad Farid semakin curiga.

"Tapi aku ke sananya naik angkot sama ojek, jadi yang Thu persis alamatnya mereka." jawab Anin sambil tersenyum merasa bersalah.

"Tapi kan kamu sudah pegang google map, atau jangan bilang kamu nggak bisa baca google map?"

"Ya_, Ya_," Anin terlihat bingung bagaimana harus menjelaskannya, " Ya kan siapa suruh cewek baca google map, sudah banyak sejarahnya cewek nggak bisa baca google map!"

"Kenapa nggak bilang dari tadi!?" ucap ustad Farid sambil mengeratkan gigi-giginya, ia sudah benar-benar kehilangan kesabarannya.

"Ya tadi kan nggak nanya!" Anin masih bisa menjawabnya.

Ustad Farid pun menutup matanya sejenak, menarik dan menghembuskan beberapa kali untuk mengendalikan emosinya. Sedangkan Anin, sebenarnya ia merasa bersalah tapi ia juga tidak mau di salahkan.

"Sekarang bantu aku pegang motornya!" pinta ustad Farid, "Ponselnya taruh di jok motor!"

Anin pun melakukan sesuatu perintah ustad Farid, sengaja ustad Farid memintanya seperti itu agar tidak membatalkan wudhu nya.

Setelah motor berpindah pada Anin, ustad Farid mulai melihat google map dan ternyata benar selama hampir satu jam Meraka muter-muter di gang sekitar kontrakan Ayu, padahal jarak mereka cukup dekat.

"Nihhh pegang, tapi jangan jauh-jauh agar aku bisa melihatnya. Aku mau dorong motor lagi!" ucap ustad Farid sambil menyerahkan lagi ponselnya pada Anin.

"Biar aku aja yang dorong, kamu yang baca google mapnya!" ucap Anin karena ia sudah cukup merasa bersalah.

Bukannya memberi jawaban, ustad Farid memilih menatap Anin dan hal itu membuat Anin tidak bisa berkutik selain melakukan seperti yang di minta ustad Farid.

Akhirnya ustad Farid kembali mendorong motornya dan Anin berjalan di sampingnya sambil menunjukkan layar ponselnya.

Dan benar saja, hanya butuh waktu sekitar lima menit mereka akhirnya sampai juga di kontrakan Ayu.

"Itu mobilnya!?" gumam ustad Farid dan berhasil membuat Anin ikut memperhatikan mobil yang terparkir.

"Iya benar, itu rumah Ayu!" ucap Anin sambil tersenyum senang dan membuat ustad Farid mendesis kesal.

Bersambung

Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya

Follow akun Ig aku ya

Ig @tri.ani5249

...Happy reading 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

gak nyampek²... ternyata muter²...🤣🤣🤣🤣🤣

2023-11-15

0

Ayuk Vila Desi

Ayuk Vila Desi

😂😂😂ngakak

2023-10-16

0

Norfadilah

Norfadilah

Haahaaa...bikn ngakak....😃😃🤣🤣

2023-06-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!