Anin cukup heran karena mas nya menjemputnya pulang padahal ia tidak memintanya, itu sungguh hal yang aneh, sepanjang jalan Anin terus bertanya pada masnya.
"Nyapo aku di jemput mas, mas Ipul nggak ngarit (Kenapa aku di jemput mas, mas Ipul nggak mencari rumput)?" tanya Anin sambil sedikit memiringkan kepalanya agar bisa menggapai kaca spion di depan. Agar bisa melihat ekspresi wajah mas Ipul.
"Nggak dek, sapine wes di retne mbakyumu (Nggak dek, sapinya sudah dicarikan rumput mbak kamu)!" jawab mas Ipul dengan tanpa berminat menjelaskan sesuatu.
"Yakin mas?" tapi Anin masih tidak percaya begitu saja.
Ia sudah biasa bepergian ke pasar sendirian dan biasanya pulang naik ojek, tapi kali ini mas Ipul yang menjemputnya.
"Wes ta lah nin, nggak usah kokean tekok, engko Ra Yo eroh Dewe (Sudahlah Nin, nggak usah banyak tanya, bukannya nanti juga tahu sendiri)!" tampak dari jawaban mas Ipul, pria itu sudah mulai kesal karena Anin terus menanyainya.
"Berarti bener kan mas, mesti enek seng nggak beres (Pasti ada yang tidak beres)!"
Kali ini mas Ipul tidak lagi menanggapi. Ia memilih diam dari pada semakin kesal karena Anin terus menanyainya.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan rumah yang sudah 22 tahun ini menjadi tempat berteduh bagi gadis yang baru merintis usahanya sebagai pengusaha keripik singkong.
"Mas, itu mobilnya siapa?" secepat kilat rasa penasaran Anin semakin memuncak apalagi saat melihat dua pria berkemeja putih yang tengah berdiri di samping mobil itu. Walaupun tidak terlalu jelas tapi ia masih ingat siapa pria-pria itu.
"Wes turun saja, itu tamu kamu. Mas mau lanjut cari rumput!" ucap mas Ipul tanpak tidak berniat untuk turun.
"Tadi katanya sudah cari rumput, gek Pye to mas, mas (Bagaimana sih mas, mas)!" protes Anin dengan wajah kesalnya dan mas Ipul pun kembali melajukan motornya hingga menimbulkan suara khasnya dengan asap yang mengepul keluar dari knalpot.
Hehhhhh ....
Anin menghela nafas panjang saat dia pria yang berdiri di samping mobil menoleh padanya karena suara bising dari motor mas Ipul.
Anin harus menyiapkan jawaban untuk kedatangan orang-orang itu ke rumah orang tuanya.
Dengan perlahan Anin berjalan menuju ke halaman rumah, senyum terulas saat melintas di depan pria-pria itu hanya untuk berbasa-basi menyapanya.
Dan ternyata senyumnya mendapat balasan,
Wajahnya serem, tapi masih bisa ramah juga ..., batin Anin sambil berlalu.
Pintu depan tampak terbuka lebar, meskipun dari jarak yang cukup jauh ia bisa melihat pria yang tampak duduk angkuh membelakangi pintu. Ibuk dan bapak tampak tersenyum sumringah melihat kedatangan Anin.
"Assalamualaikum!" sapa Anin, meskipun tidak langsung menatap padanya , tapi ia tahu pria itu tengah menatap ke arahnya.
Anin berlalu begitu saja dan menyalami kedua orang tuanya.
Sambutan dalam hanya ia dengar dari kedua orang tuanya, dan tidak terdengar dari pria itu.
"Duduk dulu nduk, ini ada tamu katanya dari Surabaya!" Karena sang ibu sudah bicara seperti itu, Anin tidak bisa mengelak lagi. Ia memilih duduk di kursi plastik tanpa penyanggah punggung yang ada di pojok ruangan.
Tatapan Anin sejenak mengarah ke David lalu kembali ia menunduk.
"Saya tidak mau panjang lebar lagi, saya ke sini mau melanjutkan niat saya yang kemarin. Saya berniat melamar kamu langsung pada orang tua kamu, kamu pasti setuju kan? Kalau iya, besok kita bisa langsung menikah!"
Deg
Sebuah hantaman keras seolah mendarat tepat di dada Anin. Entah apa yang membuatnya berat hingga ia tidak mampu berkata-kata lagi. Seharusnya ia merasa senang karena sudah terbukti jika David pria yang mapan, tampan dan pastinya dia bisa bertanggung jawab. Tapi sepertinya bukan itu yang Anin inginkan.
"Pye nduk (Bagaimana nduk), bapak sama ibuk manut (Ikut) kamu saja!" ucap bapaknya Anin.
Dan kali ini ia tidak bisa diam saja, diamnya seorang anak perempuan itu tandanya setuju dan Anin tidak mau seperti itu.
"Maaf_," ucapan Anin menggantung, karena ia ingin melihat ekspresi wajah ketiga orang di depannya. Persis seperti perkiraan, ketiganya tampak terkejut.
"Ndukk," ucap bapak, tampak ia ingin mengatakan sesuatu untuk mengajukan pendapatnya.
"Ngapunten pak, kersane Anin lanjutne riyen (Maaf pak, biarkan Anin lanjutkan dulu)!" ucap Anin segera menghentikan bapaknya.
Dan beruntung bapak bisa mengerti, ia pun memilih untuk diam dan mendengarkan dulu apa yang ingin di sampaikan oleh putrinya.
"Anin dan mas David ini sudah bertemu sebelumnya di Surabaya, dan saya sudah mengatakan sebelumnya jika saya meminta waktu dua Minggu untuk berpikir, jika sampai saat itu saya atau mas David belum mendapatkan jodoh, insyaallah kita bisa melanjutkan pembicaraan kita yang tertunda." ucap Anin dengan tegas meskipun tangannya kini tengah me*emas ujung kaosnya hingga basah, ia tengah menahan grogi.
"Kenapa harus menunda hal baik? Iya kan pak?" tanya David meminta pendapat dari bapak dan bapaknya Anin pun mengangukkan kepalanya. "Saya tidak punya banyak waktu, lima hari lagi saya harus sudah kembali ke Surabaya, kalau kamu mau kita bisa langsung menikah besok!" David tampak masih memaksa.
"Maaf, tapi jawaban saya masih sama. Kalau mas David tidak punya waktu, mas David tidak perlu repot-repot mencari saya!"
"Anin_!" ucap David dengan penuh penekanan, terlihat ia tengah menahan emosi. Ia masih menjaganya karena ada orang tua Anin,
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Tapi besok kita bisa kan bertemu? Anak buahku yang akan menjemput!"
Baru Anin akan membuka suara, segara David berdiri dan merapikan jasnya yang sebenarnya tidak berantakan.
"Saya tidak terima penolakan! Pak, buk saya permisi dulu. Saya akan kembali lagi besok!"
Setelah berpamitan pada bapak dan ibuknya Anin, David pun meninggalkan rumah mereka. Dan akhirnya debat pun di mulai saat Anin melihat begitu banyak bingkisan yang teronggok di depan tv di ruang tengah yang hanya berukuran 3 kali empat meter itu tampak penuh dengan berbagai bingkisan.
"Pak, buk, Iki opo (ini apa)?" Anin begitu terkejut,
"Ya Iki nduk seng nggowo David mau, la Pye Lo bapak Karo ibukmu arep nolak, Yo nggak iso (Ya ini nduk yang membawa David, mau bagaimana bapak dan ibuk tidak bisa menolak). Ibuk Karo bapak Ki nggak ngerti kahanane Pye awakmu Karo David, awakmu Yo ora tau cerita karo ibuk opo bapakmu (ibuk dan bapak nggak tahu bagaimana hubunganmu dengan David, kamu juga tidak pernah cerita sama ibuk atau bapakmu)!"
Mendengar penjelasan bapaknya, kepala Anin semakin terasa pusing, ia harus mengembalikan barang-barang itu tapi ia tidak tahu harus mengembalikan kemana. Memang benar, ini bukan salah orang tuanya. Ia belum sempat bercerita tentang David pada kedua orang tua ya setelah kembali dari Surabaya.
Anin pun segera berdiri dari duduknya,
"Anin mau cari angin dulu pak," ucapnya dan mengambil helm juga kunci motor yang berada di atas nakas.
"Ojo adoh-adoh (jangan jauh-jauh)!" ucap ibuknya, sepertinya ia sudah sangat hafal dengan putrinya itu juga ada masalah selalu memilih jalan-jalan untuk mencari solusinya.
Saat keluar rumah, ia berpapasan dengan adik perempuannya yang baru pulang dari sekolah,
"Mbak Anin mau ke mana? Novi ikut ya, Novi mau beli bahan untuk kerajinan besok!" rengek adik perempuannya itu saat melihat Anin keluar dengan membawa helm dan kunci sepeda motor.
"Nggak_," tolak Anin dengan cepat, "mbak nggak lama perginya!"
"Janji ya mbak, awas kalau enggak!"
Ani sudah tidak mempedulikan ancaman adiknya, ia memilih. berlalu dan menghampiri motor yang terparkir di teras bagian samping rumah.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Ayuk Vila Desi
kok mekso...opo ora payu
2023-10-16
0
Titi
curiga ada sesuatu ko maksa banget pengen nikah sama Anin,dia kan orang kaya CEO,ganteng mapan masa gak bisa dapetin cewek lain
2023-03-27
0
Dwi MaRITA
yaelah.... si dapit, mo nikahin anak orang pa anak kucing... maen paksa ja... nodong, sekarang nglamar besoknya ijab... mang niat nikah pa maen².... nijah nggak semudah ntu ferguso... 😳🙈
Nin.... sono kluar bentar nyarik angin, sapa tau parid keterpa angin, ada d dpnmu... suruh langsung nikahin aja dah... drpd nikah ma dapit yg sombongnya nggak ketulungan, ya mending nikah ma parid yg punyak landasan agamis... 🙈🙉🙊😁
2023-03-11
1