POV Anin
Seperti yang di janjikan bapak, hari ini budhe dari Surabaya datang. Aku sudah sangat tahu apa tujuannya datang.
"Kata bapak kamu, kamu sudah lulus kuliah ya, nduk?" tanyanya dan aku langsung faham dengan pertanyaan itu akan mengarah kemana.
"Iya budhe, Alhamdulillah!" jawabnya sambil menunduk sedangkan tanganku tengah sibuk memainkan plastik yang berada di depanku, kebetulan aku tengah membantu mempacking kripik. Karyawan ku tengah libur.
"Bagaimana, apa kamu sudah siap kalau budhe kenalkan dengan seseorang?" tanyanya terlihat sungkan. Sebenarnya aku tidak masalah kalau hanya ingin di kenalkan, tapi untuk di terima aku tidak janji. Jika pria itu tidak sesuai dengan kriteria maka mungkin aku akan menolaknya.
"Kalau Anin siap-siap aja budhe, hanya saja Anin tidak bisa menjanjikan kalau Anin akan bisa menerimanya,"
"Loh kok gitu! Kamu itu perempuan, jangan suka pilih-pilih pasangan. Ojo ngasi (Jangan sampai) pilih-pilih bungkik ( cacak, atau bisa juga di artikan jelek , atau malah tidak layak)!"
"Insyaallah enggak budhe, pasangan itu adalah orang yang akan menemani kita sampai tua nanti, kalau bisa nggak usah Gonta ganti. Kita akan menghabiskan waktu lebih panjang dengan pasangan di bandingkan dengan orang tua kita, jadi kalau pilih pasangan setidaknya yang benar-benar srek untuk kita, budhe. Bukan hanya asal comot trus mintai di nikahkan cuma gara-gara tuntutan lingkungan!"
"Wes terah Ra rugi lek mu kulian, lek di omongi wong tuwo njawab ae ( Memang benar, nggak rugi kamu kuliah, kalau di bilangin orang tua jawab terus)!" jawab budhe dengan kesal dan aku hanya bisa menghela nafas. Bukan ingin menggurui atau ingin menjadi pembangkang, Tapi aku tidak ingin karena desakan dari orang tua dan tetangga membuat aku salah pilih memilih pasangan, setidaknya ia bisa membimbing aku ke jalan yang benar, bukan hanya soal tampan atau mapan, ketampanan bisa pudar dengan bertambahnya usia, kemapanan bisa di cari bersama. Jadi keputusanku, menjadi suami harus bisa jadi imam yang baik buat aku dan keluarga kecil kami kelak.
"Yo wes lah, terserah awakmu. (Ya sudah terserah kamu.)
Budhe mek pengen tutur lan ngarahne ben ponakan budhe Ki ora Sampek salah milih bojo, ( budhe hanya ingin menasehati dan mengarahkan supaya keponakan budhe tidak sampai salah pilih suami),
lek terah awakmu iso golek Dewe, Yo gek golek o (Kalau memang kamu bisa cari sendiri, ya carilah),
nangeng Yen awakmu sek mbutuhne budhemu, Yo tak golekne. (Tapi kalau kamu masih membutuhkan budhe mu ya aku Carikan).
Ora mungkin Yen budhemu Ki bakal mblondronhne, nggolekne wong seng orang nggenah, mesti wong seng apik, penggaweane Yo mesti. (Tidak mungkin jika budhe kamu akan menyesatkan, mencarikan orang yang tidak jelas, pasti orang yang baik, pekerjaannya juga pasti) " ucap budhe panjang lebar, memang selama ini budhe yang paling bersemangat mencarikan suami untukku. Bahkan saat aku masih SMA budhe sudah berkali-kali menyodorkan pria yang menurutnya pantas untuk menikah denganku.
Tidak heran jika putri-putri nya sudah menikah di usianya yang masih muda, bahkan ada yang baru lulus SMP dan sudah menikah. Sekarang sudah punya anak besar.
Ternyata kehidupan di kota besar tidak bisa merubah sifat dan pemikiran seseorang, hanya orang-orang yang terbuka pemikirannya yang bisa menerima segara perkembangan zaman. Segala pemikiran yang tidak perlu buru-buru menikah untuk menjadi bahagia.
"Enggeh budhe, Anin pikir-pikir dulu. Sekalian mau cari sendiri dulu budhe!" hanya itu yang terus bisa aku ucapkan. Nyatanya semua perkataannya tidak akan merubah keputusanku.
Jika memang aku harus menikah sekarang, maka aku harus memastikan dia pria yang pantas untuk menikah denganku, bukannya aku jual mahal atau gimana, tapi memang mau bagaimana lagi itu sudah menjadi prinsip ku.
Dan seperti yang ku duga, rupanya budhe sudah mengundang seorang pemuda dari Surabaya, katanya di tetangga budhe. Seorang tukang parkir di minimarket dekat rumahnya.
"Silahkan tehnya mas!" ucapku sambil meletakkan teh hangat di meja yang ada di dekatnya.
"Terimakasih dek!"
Aku pun memilih duduk di kursi kayu yang agak jauh darinya. Melihat penampilannya terlihat kalau dia cukup rapi, wangi juga, rambutnya juga di sisir rapi,
Tidak masalah jika dia tukang parkir,kesan pertama cukup mengesankan.
Tapi di menit ke sekian, ada hal yang membuatku kehilangan ketertarikan ku padanya,
"Jangan khawatir dek, nanti kalau kita sudah menikah,dek Anin mau minta apa saja,pasti mas kasih, mau mobil atau rumah? Nanti setelah kita nikah kita bisa langsung beli rumah sendiri! Kalau dek Anin mau jalan-jalan, sudah pasti mas akan anter!"
Rasanya langsung muak mendengar mulut besarnya, bukannya nggak percaya dia bisa mewujudkannya tapi rasanya tidak pantas membicarakan hal seperti itu di pertemuan pertama,
Aku langsung terdiam seribu bahasa dan membalas perkataan besarnya dengan senyum dan anggukan kepala.
Yang begini yang mau di jodohin sama aku ....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
Happy reading 🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Ayuk Vila Desi
belum apa2 sudah sombong
2023-10-16
0
Maulana ya_Rohman
tinggi banget ya omongannya,🤔🤔🤔
2023-08-19
0
sherly
kayaknya tukang parkirnya lg halu
2023-07-29
0