Bab 9

Segera setelah gadis itu pergi, ustad Farid pun menuju ke kamar mandi yang di tunjuk oleh gadis itu, kamar mandi yang tepat berada di sebelah tempatnya tadi, hanya berbatas sebuah tembok tinggi, tapi karena terlalu banyak orang membuat ustad Farid tidak teliti.

Setelah mengganti bajunya, ia segera menuju ke tempat parkir dimana ia dan Wahid memarkirkan mobil milik kyai Syam. Mereka janji bertemu di sana.

Tapi betapa terkejutnya dia saat sampai di tempat parkir ternyata mobil sudah tidak ada.

"Wahid kemana?" gumamnya sambil terus mengedarkan pandangannya ke s segala penjuru, berharap ia hanya salah posisi. seperti tadi karena terlalu banyak orang.

Tapi tetap saja ia tidak bisa menemukan mobilnya. Ia pun segera merogoh tas kecilnya, mengambil benda pipih di dalamnya.

"Wahid juga nggak hubungi aku lagi, " keluhnya sambil menatap layar ponselnya, " Apa dia lagi ngisi bensin, iya kali ya!?"

Akhirnya ustad Farid pun memutuskan untuk menunggu saja, ia memilih duduk di sebuah beton pembatas.

Lima belas menit kemudian,

Satu per satu mobil mulai meninggalkan lokasi, sekarang lahan parkir yang begitu luas itu tidak lagi sepadat tadi, tapi Wahid dan mobilnya tidak juga kembali.

"Apa aku hubungi aja ya!" gumamnya tapi belum sampai ia menghubungi Wahid, pria itu sudah lebih dulu menghubunginya.

"Panjang umur nih anak!" gumamnya sambil menggeser tombol terima dan menempelkan benda pipih itu ke duan telinga sebelah kanannya.

"Hallo, assalamualaikum Hid. Kamu di mana? Aku sudah menunggumu lama?" ustad Farid segera memberondongi Wahid dengan banyak pertanyaan.

"Waalaikum salam, ustad. Punten_, punten ustad jangan marah ya!"

"Hid, jangan macam-macam ya kamu. Jangan bilang kamu bawa lari mobilnya pak kyai!?" pikiran ustad Farid sudah menjurus ke hal-hal yang berbau kriminal.

"Astaghfirullah hal azim, ustad. Nggak gitu!"

"Lalu?"

"Sebenarnya tadi Wahid sudah ketemu sama sepupu Wahid!"

"Trus?"

"Tiba-tiba sepupu Wahid jatuh pingsan, terpaksa Wahid bantu bawa ke klinik,"

"Innalilahi wa innailaihi Raji'un!"

"Belum meninggal, ustad!"

"Ya Allah, siapa yang bilang meninggal. Trus gimana keadaannya sekarang?"

"Maaf lagi ustad, punnntennn!"

"Apaan sih maaf maaf terus, ini keburu malam dingin di luar! Cepetan ke sini!"

"Masalahnya itu ustad,"

"Apa?"

"Sepupu Wahid nggak ada siapa-siapa, nih Wahid lagi ada di kontrakannya. Tapi masalahnya Wahid nggak bisa masuk kontrakan, tapi juga nggak tega ninggalin sepupu sendiri. Bisa minta tolong ustad ke sini nggak, sekalian cariin temennya sepupu Wahid!"

"Maksudnya?" ustad Farid gagal faham dengan permintaan Wahid.

"Kata sepupu Wahid, karena dia pingsan, temennya ketinggalan di sana. Dia juga pendatang seperti kita, takutnya kalau pas pulang nyasar. Motornya sepupu Wahid juga di sana, tapi masalahnya kuncinya kebawa pulang. Kan kasihan kalau gadis pulang malam-malam sendiri ustad."

"Aku kok malah semakin bingung sih Hid, langsung aja atuh, maunya gimana?"

"Tolong cariin temennya sepupu Wahid dan temenin pulang ya ustad! Kata sepupu Wahid, dia juga sedang di parkiran sekarang."

"Yang benar saja, gimana caranya!"

Terdengar di seberang sana Wahid tengah mengobrol sepertinya dengan sepupunya, setelah berhenti mengobrol barulah Wahid kembali bicara pada ustad Farid.

"Biar Wahid kirim nomornya ya ustad, sekalian kirim serlok kontrakan sepupu Wahid!"

"Terserah kamu saja deh!" akhirnya ustad Farid hanya bisa pasrah.

"Terimakasih ustad, assalamualaikum!"

"Waalaikum salam!"

Akhrinya sambungan telpon terputus,

"Aya Aya wae nih si Wahid. Kalau kayak gini trus gimana lagi!?" gerutu ustad Farid.

Setelah beberapa saat, beberapa pesan masuk ke ponselnya, ustad Farid segera membuka pesan itu, ternyata Wahid yang tengah mengirimkan kontak nomor wa seseorang dan juga membagikan lokasi terkininya saat ini.

Ustad Farid pun segera melakukan panggilan telpon terhadap nomor baru yang masuk ke kontaknya itu, dan suara dering ponsel terdengar cukup dekat dengan posisi dirinya saat ini.

Ustad Farid pun segara mengedarkan pandangannya ke sumber suara, dan benar saja seorang gadis tengah berdiri di samping sebuah motor.

"Itu dia orangnya!"

Karena suasana malam, ustad Farid jadi tidak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu, apa lagi gadis itu tengah berdiri sedikit membelakangi tempatnya.

Ternyata benar, gadis itu meneti telpon darinya, saat gadis itu menempelkan ponselnya ke daun telinganya, ustad Farid sudah lebih dulu berjalan mendekatinya.

"Assalamualaikum!" sapa.usrad Farid.

"Kenapa suaranya, Doble!?" gumam gadis itu sambil kembali menjauhkan ponselnya dari daun telinganya, ia mengamati layar ponselnya yang masih terhubung dengan panggilan telpon.

"Assalamualaikum!" ustad Farid sekali lagi mengucapkan salam.

"Astaghfirullah hal azim!" gadis itu begitu terkejut sampai terlonjak dari tempatnya saat menyadari keberadaan ustad Farid, hampir saja ponselnya terjatuh beruntung ia berhasil menangkapnya kembali.

"Kamu?????" ustad Farid tidak kalah terkejut saat melihat dengan jelas wajah gadis itu, rupanya gadis yang sama yang ia temui di toilet.

"Kamu!!!! Si mesum!"

"Enak saja, jangan sembarangan ngomong! Bisa kena pencemaran nama baik." ustad Farid tidak terima di panggil si mesum, ia hanya tidak sengaja terdampar di toilet wanita.

"Ehhh tunggu!" gadis itu kembali menatap ponselnya lalu bergantian menatap ponsel yang berada di tangan ustad Farid, ponsel mereka berdua masih terhubung dalam panggilan,

"Bagaimana kamu bisa dapat nomorku? Atau jangan-jangan memang benar kamu penguntit? Penjual gadis-gadis muda? Ojo di pikir aku gadis deso, awakmu iso sepenake Dewe ya, ngene-ngene aku sarjana, aku sekolah duwur, Ra gampang di apusi (Jangan dipikir aku gadis desa, kamu bisa seenaknya sendiri, gini-gini aku sarjana, aku sekolah tinggi, nggak mudah ditipu)!"

Mendengar perkataan gadis itu yang panjang lebar, malah membuat ustad Farid terbengong.

Astaghfirullah hal azim .....

"Kenapa bengong?" tanya gadis itu sambil berkacak pinggang.

"Mbak, neng, kalau ngomong pakek bahasa manusia aja, jangan pakek bahasa planet, nggak ngerti aku!"

"Enak aja bilang bahasa planet!"

"Ini negara kesatuan Indonesia mbak, jadi usahakan kalau ngomong sama orang asing, bukan tetangga mbak, pakek bahasa Indonesia yang baik dan benar, emang kamu pikir saya ini cenayang yang bisa ngerti bahasa kamu!"

Gadis itu mendengus kesal, ternyata setelah ia ngotot dan bicara panjang lebar lawan bicaranya tidak mengerti dengan apa yang dia bicarakan,

"Ya udah gini deh, bagaimana kamu bisa sampai dapat nomor aku?"

"Dari temanmu!"

"Ayu?"

"Mana aku tahu namanya!"

"Nah iya kan! Gimana aku nggak curiga, kamu pasti salah satu komplotan dari sindikat penculikan gadis-gadis muda!"

"Auah, gini aja deh. Kamu ngomong sendiri sama temen kamu!"

Ustad Farid pun segera melakukan panggilan pada Wahid,

"Hallo, assalamualaikum. Hid!"

"Waalaikum salam, ustad. Apa sudah ketemu anaknya?"

"Mana sepupumu, suruh bicara sendiri sama orangnya, biar percaya!"

Ustad Farid pun akhirnya menyerahkan ponsel miliknya pada gadis itu,

"Nihhh!"

Tapi terlihat gadis itu ragu untuk menerimanya.

"Ayo ambil!" perintah ustad Farid lagi.

"Kamu nggak kasih obat bius kan di ponsel kamu?"

Ustad Farid menghela nafas kesal sambil mengusap rambut yang berada di depan di bawah pecinya,

"Astaghfirullah hal azim, kalau aku kasih obat bius, udah dari tadi aku pingsan. Udah deh nggak usah ribut, aku loundspeaker aja!"

Akhrinya ustad Zaki memutuskan untukengeraskan suaranya agar gadis itu bisa mendengarnya.

"Hallo Anin, nih aku Ayu. Maaf ya tadi aku terpaksa pulang duluan, soalnya aku pingsan!"

"Astaghfirullah hal azim, trus gimana keadaan kamu sekarang?"

"Alhamdulillah sudah lebih baik, beruntung sepupu aku datang tepat waktu, dia bawa aku ke klinik. Maaf ya aku jadi ninggalin kamu!"

"Nggak pa pa, yang penting kamu baik-baik aja sekarang!"

"Maaf lagi, kunci motornya kebawa sama aku. Itu yang sama kamu temannya sepupu aku, nggak pa pa ya kamu pulang sama dia?"

Gadis itu menatap ustad Farid dan menganggukkan kepalanya dengan ragu.

"Nggak pa pa kan, Nin?" tanya gadis yang ada di telpon itu lagi.

"Iya nggak pa pa!"

"Tapi motor aku_, kalau kalian dorong gimana? Nggak pa pa kan, lagi pula rumah aku nggak terlalu jauh kan!"

Yang bener saja ...., keluh ustad Farid dalam hati.

"Emang kalau di tinggal aja ngapa?" tanya gadis itu lagi, sepertinya ia juga keberatan untuk mendorong motor.

"Ya nggak pa pa sih, tapi kalau_!"

"Hilang maksudnya?"

"Iya!"

"Ya udah deh, aku coba dorong nanti!"

"Terimakasih banyak ya Nin, kamu memang yang terbaik!"

Bersambung

Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya

Follow akun Ig aku ya

Ig @tri.ani5249

...Happy reading 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Ayuk Vila Desi

Ayuk Vila Desi

astaghfirullah...sabar ustad 🤭

2023-10-16

0

Norfadilah

Norfadilah

Heehee...kacian dorong motor...🤣🤣🤣

2023-06-02

0

Eka Choiriyah

Eka Choiriyah

koncone ayu y s anin

2023-05-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!