"Ustad Zaki tahu nggak kalau ustad Farid baru saja dari Tulungagung juga!" ucap Wahid yang duduk di samping ustad Zaki, sengaja ustad Zaki menggantikan Wahid mengemudikan mobil karena ia tahu pasti Wahid sudah lelah berkendara dari Surabaya.
Mendengar ucapan Wahid, ustad Zaki menoleh sebentar dan mengeryitkan keningnya sedangkan kyai Syam yang duduk di belakang bersama ustad Farid menoleh pada ustad Farid penasaran.
Sok tahu banget sih Wahid nihhh ...., batin ustad Farid yang tampak serba salah karena mendapat tatapan seperti itu dari kyai Syam.
"Maksudnya?" tanya ustad Zaki.
"Ngaco itu Wahid!" segera ustad Farid menyahut sebelum Wahid menjawab pertanyaan dari ustad Zaki.
"Rid, aku nunggu jawaban dari Wahid loh bukan kamu!" protes ustad Zaki dan ustad Farid mendengus melayangkan wajah protes pada ustad Zaki.
Wahid yang mengawali perdebatan ini hanya tersenyum.
"Tapi aku nanya serius loh ini,kamu beneran habis dari Tulungagung? Ngapain? Nyasar?" tanya ustad Zaki yang begitu penasaran.
"Iya Rid, ku juga ikut penasaran!" kyai Syam pun ikut menambahkan dan kali ini ia tidak bisa mengelak lagi.
"Sebenarnya iya, kyai! Gara-gara teman sepupunya Wahid tadi pulang dari Surabaya sendiri, sepupunya Wahid sebenarnya minta tolong untuk memberi tumpangan!"
"Lalu?" tanya kyai Syam lagi yang semakin penasaran.
"Kamu bukan mahram, jadi saya menolaknya!"
"Ohhh jadi ceritanya seorang gadis?" tanya kyai Syam dengan senyum tipis yang terulas di bibirnya.
"Bukan begitu maksud Farid, kyai! Itulah sebabnya Farid tidak bisa mengantarnya dalam mobil kita jadi_!" ustad Farid menghentikan bicaranya sambil melirik ke arah Wahid.
"Jadi?" tanya ustad Zaki yang tidak kalah penasaran menunggu cerita selanjutnya.
"Jadi dia naik kereta, karena aku pikir seorang gadis bepergian sendiri tanpa mahram dan naik kendaraan umum, cukup rawan jadi aku memutuskan untuk menemaninya naik kereta." ustad Farid pun menyelesaikan ceritanya tapi malah mendapat tatapan yang sulit di artikan dari kyai Syam dan ustad Zaki, meskipun tidak menoleh ke belakang tapi ustad Farid bisa melihat ekspresi wajah ustad Zaki dari cermin kecil yang menggantung di kaca mobil depan.
"Ehhhh tapi kami sama sekali tidak ngobrol_, ehhh maksudnya ngobrol tapi nggak banyak, hanya sekedarnya saja..Setelah turun dari kereta aku juga langsung naik kereta lagi!" segera ustad Farid memberikan klarifikasi sebelum kedua orang ayah dan anak itu berpikir macam-macam padanya.
"Kalaupun ada sesuatu juga nggak pa pa Rid, asal nggak kebablasan! Pumpung di Tulungagung sekalian kita bisa ke rumah orang tuanya!" ucap kyai Syam dan langsung di sambut tawa ringan oleh ustad Zaki.
"Astaghfirullah hal azim, enggak kyai. sungguh!"
Ya Allah, jadi salah gini sih ...., batin ustad Farid sambil menggaruk kepalanya yang tertutup peci yang sebenarnya tidak gatal.
"Kok istighfar sih Rid, kan harusnya Alhamdulillah kalau benar berjodoh!" ucap kyai Syam lagi dan ustad Farid hanya menanggapinya dengan senyuman.
Ya Allah jangan deh, aku bukan pria penyabar sepeti Zaki, kalau jodohku di serupakan jodoh Zaki, hamba nggak yakin bisa mengatasinya ...., batin ustad Farid merasa merinding sendiri saat membayangkan setiap hari harus berhadapan dengan wanita yang tidak jauh beda dari istri temannya itu.
Akhirnya setelah melakukan perjalanan selama setengah jam mereka sampai juga di kedai lalapan yang tampak baru di buka itu, terlihat dari sisa bahan bangunan yang masih berada di depan kedai, ada pasir dan koral yang masih bertumpuk. Walaupun begitu tampak kedua sudah beroperasi, beberapa karyawan tampak sudah sibuk melayani pelanggan.
Setelah menunjukkan beberapa pekerjaan yang akan di lakukan oleh ustad Farid selama di Tulungagung, ustad Zaki juga menunjukkan mes sementara sampai ustad Farid menemukan tempat tinggal yang nyaman untuknya.
"Ustad, boleh tidak kalau Wahid menemani ustad Farid sampai kuliah Wahid masuk, itung-itung cari pengalaman?" tanya Wahid pada ustad Zaki, kebetulan ia baru saja mendaftarkan diri di salah satu universitas yang ada di Malang. Meskipun ia sudah berhenti selama lima tahun, tapi tahun ini ia ingin melanjutkannya. Sengaja ia berhenti untuk mencari uang agar bisa membiayai kuliahnya sendiri. Seperti ustad Farid, Wahid pun bukan terlahir dari keluarga yang berada, tapi ia harus berjuang untuk membiayai kehidupannya sendiri dan juga membantu keluarganya.
"Bagus sekali, aku malah senang jika kamu benar mau. Rencananya kalau memang benar kamu sudah tinggal di Malang selama kuliah, aku pengen buka di sana juga biar kamu bisa jagain ya!" ucap ustad Zaki yang tampak begitu senang begitu juga dengan ustad Farid. Seenggaknya dengan begitu akan membantu biaya kuliah Wahid selama di Malang.
Selagi ustad Farid dan ustad Zaki melihat-lihat lokasi-lokasi yang harus sering di kunjungi ustad Farid selama di Tulungagung seperti pasar dan beberapa tempat yang sudah menjadi pelanggan tetap kedua ustad Zaki, Wahid dan kyai s6am terpaksa harus pulang lebih dulu ke Blitar karena ada urusan.
Beruntung pak Dul juga tengah berada di Tulungagung, jadi mereka bisa pulang dengan pak Dul.
***
Akhirnya ba'dha ashar mereka sudah sampai kembali di Blitar, sebenarnya ustad Zaki sudah meminta ustad Farid untuk istirahat di rumahnya terlebih dulu sebelum ke rumah sakit dan menjenguk istrinya besok pagi, ustad Farid memang ke rumah ustad Zaki, tapi hanya menemui kyai Syam dan kembali ke rumah sakit setelah magrib nanti.
Karena rencananya besok pagi-pagi sekali sudah harus kembali berangkat ke Tulungagung untuk memulai tugas barunya.
"Ya sudah terserah kamu saja, kalau begitu aku ke rumah sakit dulu ya, kasihan Zahra sendiri," ucap ustad Zaki saat menurunkan ustad Farid di depan rumahnya, ustad Zaki sama sekali tidak berniat untuk mampir lebih dulu ke rumahnya.
"Iya, hati-hati!"
"Hmmm, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Setalah memberi salam, ustad Zaki pun berlalu dengan mobilnya sedangkan ustad Farid memilih berlalu ke rumah ustad Zaki.
Di rumah itu, kyai Syam sudah menunggunya bersama ummi dan Wahid juga.
Setelah urusannya dnagn kyai Syam selesai, tepat ba'dha shalat magrib di masjid kampung Zahra, ustad Farid pun bergegas pergi ke rumah sakit dengan motor milik ustad Zaki.
Meskipun tidak hafal dengan jalan di sana, tapi dengan berbekal google map, akhrinya ustad Farid sampai juga di rumah sakit tempat Zahra di rawat.
"Alhamdulillah sampai juga." ucap ustad Farid sambil melepas helmnya.
Sebelum memasuki gedung rumah sakit itu, ia sempat berdiri dan memejamkan mata.
"Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah beri hambaMu kekuatan!" gumamnya lirih kemudian menarik nafas dalam dan menghembuskannya persis seperti akan menghadapi guru BP.
"Assalamualaikum!" sapa ustad Farid saat sudah berada di depan ruang rawat Zahra tengah tangan yang membuka pintu.
"Waalaikum salam!" jawab ustad Zaki dan Zahra bersamaan.
Ustad Farid pun berjalan mendekati mereka, ustad Zaki pun segera turun dari tempat tidur dan menggeser kursi plastik untuk ustad Farid.
"Mas tadi belum sempat bilang, kalau ustad Farid mampir dulu menemui Abi sebelum ke sini!" ucap ustad Zaki pada sang istri.
"Duduk Rid!" perintah ustad Zaki.
"Terimakasih!" ustad Farid pun akhirnya duduk begitu juga dengan ustad Zaki, tapi bedanya ustad Farid duduk di kursi plastik sedangkan ustad Zaki kembali duduk di samping Zahra sambil memeluknya.
"Bagaimana kabarnya, Painem?" tanya ustad Farid sambil tersenyum menggoda.
"Ihhhh, masih gitu panggilnya. Bikin kesel aja ustad Parid nih!"
"La kamu aja panggilnya masih pakek Pe, bukan eF!?" protes ustad Farid.
"Ustad sih nggak ngerti, emang gini lidah orang Jawa, jadi jangan protes. Beruntung nggak kebalik aku panggilnya, biasanya kebalik-balik. Apalagi yang pelapalannya susah, mechael bisa jadi misel, malah ada tuh tetanggaku rencananya sih mau gaul kasih nama anaknya, Excel ehhh jadinya malah kesel!"
Ustad Farid dan ustad Zaki sampai terbengong mendengarkan Zahra yang bicara panjang lebar,
"Ya Allah, perasaan aku ngomong ya pendek, kenapa jawabnya jadi panjang gini!?" protes ustad Farid sambil menggelengkan kepalanya.
Dan ustad Zaki hanya tersenyum melihat mereka yang berdebat, ia baru tahu jika saat istrinya bertemu dengan temannya itu akan terjadi perdebatan sengit seperti itu.
"Makanya ustad, cari istri orang Jawa, biar tau rasanya di panggil dengan nama kebalik-balik!"
"Ogahhhh!"
"Jodoh nggak ada yang tau," ucap Zahra sambil menyebutkan bibirnya.
"Ampunnn, sebenernya yang sakit siapa sih nih, banyak banget ngomongnya. Sebenernya istri kamu jadi operasi nggak sih Zak?" ustad farid sampai bertanya pada ustad Zaki untuk meyakinkannya dan ustad Zaki hanya tersenyum seperti biasa.
"Jangan senyum aja," keluhnya pada ustad Zaki, "Kamu tahu nggak lama-lama Deket sama istri kamu bisa darah tinggi aku!"
Cuplikan adegan di cerita "Menikahi ustad tampan"
Benar saja apa yang ia khawatirkan sedari masuk rumah sakit jadi kenyataan, mereka benar-benar berdebat.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Ayuk Vila Desi
😂😂😂😂🤣
2023-10-16
0
Ayuk Vila Desi
Ojo ngono mas parid ..kan jodoh di tangan Allah...
2023-10-16
0
Maulana ya_Rohman
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-08-19
0