Pagi hari setelah menginap semalaman di rumah ustad Zaki, ustad Farid dan Wahid pun bersiap ke Tulungagung untuk memulai tugas barunya.
"Jangan khawatir, kebetulan saya punya teman di sana, insyaallah nanti kamu sekalian bisa mengajar di madrasah teman Abi!" ucap kyai Syam saat mengatakan kepergian ustad Farid.
Memang benar dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia takut, takut jika sampai melupakan ilmunya karena terlalu sibuk dengan urusan dunia.
Setelah mendengar perkataan kyai Syam, ia sedikit lega. Setidaknya nanti ia tidak akan hanya sibuk bekerja, tapi di tulungagung ia juga bisa mengamalkan ilmunya yang menurutnya masih perlu di asah. Dengan terus di amalkan, insyaallah ilmu tidak akan habis tapi akan semakin banyak.
Dan benar saja, baru saja sampai di stasiun tulungagung. Mereka langsung di sambut oleh seorang pria yang menurut pengakuannya teman satu angkatan dengan kyai Syam saat menempuh pendidikan di pesantren.
"Kalau menurut saya, lebih baik ustad tinggal saja di tempat saya, kebetulan ada rumah yang kosong dan sayang kalau di anggurin!" ucap pria berkumis itu yang kemudian ustad Farid tahu dari sopirnya kalau pria itu ternyata kepala madrasah tempatnya akan mengajar.
"Sebenarnya saya sangat tidak keberatan pak, tapi untuk sementara ini akan lebih baik kalau kami tinggal dulu di mes yang sudah di siapkan oleh kyai Syam dan ustad Zaki!"
"Ohhh baiklah, saya tidak masalah. Nanti kalau ustad Parid sudah berubah pikiran silahkan ngomong sama saya, insyaallah akan saya bantu pindahannya!"
Seketika wajah Ustad Farid kesal saat pelafalan namanya salah.
Seneng banget ganti-ganti nama orang ..., batinnya tapi dengan cepat merubah ekspresi wajahnya dengan membubuhkan senyum tipis.
"Terimakasih banyak pak Purwanto," dengan sedikit di tekan saat menyebutkan nama, "sudah membuat bapak repot!" ucapnya lagi sambil memperlebar senyukmu. Melihat hal itu Wahid hanya bisa menahan senyum agar tidak sampai kelepasan dan tertawa.
"Tidak sama sekali, justru saya sangat senang. Ohhh iya, jadi kapan siapnya mengajar?"
"Insyaallah, satu atau dua Minggu lagi. Untuk sementar ini kami rasa kami butuh pengenalan lingkungan!"
Setelah bercakap banyak dengan pria berkumis yang bernama pak Purwanto itu, pria itu pun mengantar ustad Farid dan Wahid sekalian ke mes.
Hehhhh ...
Sebuah helaan nafas mengiringi kepergian mobil yang baru saja mengantarnya ke mer.
"Berat banget ya ustad?" tanya Wahid dengan sedikit menggoda.
"Kayaknya setelah ini aku harus membuat tag nama dan aku pasang di setiap bajuku, biar orang tidak terus salah menyebut nama!" ucap ustad Farid sambil menggelengkan kepalanya dan berlalu masuk, meninggalkan Wahid yang masih berdiri di tempatnya.
Rupanya ustad Farid tidak sabar untuk segera merebahkan tubuhnya, sembari memeriksa ponselnya. Tapi hanya ada beberapa pesan saja yang masuk dan itupun dari gruop.
Sesekali ustad Farid melirik Wahid yang tengah duduk di lantai dan bersandar di dinding tidak jauh dari tempatnya merebahkan tubuh. Terlihat Wahid begitu asik dengan ponselnya dan sesekali tersenyum hingga membuat tubuhnya sedikit tergoyang.
"Memang di hp kamu ada badutnya ya?" tanya ustad Farid dan membuat pria yang baru tersenyum itu mengalihkan perhatiannya ke arah ustad Farid.
"Ustad tanya sama saya?" tanyanya dengan wajah polos.
"Enggak! Aku lagi tanya sama penghuni tempat ini!" ucap ustad Farid dengan tanpa ekspresi, tapi berbeda dengan Wahid yang tiba-tiba memegang tengkuknya.
"Ustad yakin di sini ada penghuninya?"
"Ada,"
Mendengar hal itu, dengan cepat Wahid melompat dan mendekat ke arah ustad Farid,
"Ustad bisa melihat yang begituan ya?" tanyanya sambil menarik ujung sarung ustad Farid.
"Begituan apa?"
"Makluk halus!"
"Yang ada dua makluk kasar yang akan tinggal di sini!"
"Ahhhhh, ustad!" ucap Wahid sambil melepaskan sarung ustad Farid.
"Siapa suruh serius banget, memang apa sih yang ada di hp kamu Sampek senyum-senyum sendiri kayak gitu?"
"Ustad sih, nggak tahu ya yang namanya punya pacar ya gini!"
"Jadi kamu punya pacar?"
"Lebih tepatnya bukan pacar sih ustad, ada cewek yang lagi pengen aku deketin!"
"Tapi dapat?" ustad Farid jadi penasaran.
"Ya belum, tapi masih proses mau dapat!"
"Isssttttt!" ustad Farid pun segera berdiri dari duduknya, "Kamu tuh ada-ada aja!"
Ia berjalan menuju pintu,
"Ustad mau ke mana?"
"Jalan-jalan, cari angin!"
"Sekalian cari pacar, ustad!" ucap Wahid saat ustad Farid berlalu.
"Gitu tuh kalau terlambat puber, bingung kan kalau ada yang lagi seneng mau dapat pacar!" gerutu Wahid sambil kembali duduk dan memanikan hp nya.
...Ketika Allah mencintaimu, Dia akan menempatkan cintamu di hati seseorang yang cintanya memang layak untuk dimiliki. Https://www.google.com/amp/s/www.bola.com/amp/4309155/27-kata-kata-islami-tentang-cinta-sebuah-pelajaran-dalam-menjalin-hubungan...
...Karena Allah tempat paling indah untuk meminta dan menitipkan jodoh...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Ayuk Vila Desi
nur kah...
2023-10-16
0
Ayuk Vila Desi
🤣🤣🤣🤣
2023-10-16
0
Selvianah Bilqis
sama si ustadz saya jg sebel klo dipangil nama menggunakan pe
pdahal jelas2 nama saya selvi eh dipanggil org sini selpi😌😌
aturan vi jdi pi. . pipi x ahh
2023-08-26
2