"Kalau sudah mau tidur, matikan lampunya ya Nin!" ucap Ayu lagi sebelum berbalik membelakangi Anin.
"Iya!" jawab Anin, segera tangannya terulur ke dinding yang tepat berada di atas kepalanya, ia segera mematikan skalar lampu dan menggantinya dengan lampu kecil yang juga menempel di dinding, lampu tidur berbentuk rumah kecil yang cahayanya cukup untuk memberi temaram pada ruangan berukuran dua kali tiga meter itu.
Tapi nyatanya rasa lelah itu tidak lantas membuat Anin cepat terlelap, ia bahkan tidak bisa memejamkan matanya, ia tengah banyak pikiran.
Hingga ia teringat dengan ucapan ustad Farid,
"Memang ada apa dengan surah an-nisa ayah 76 dan Yusuf ayat 28!" gumamnya lirih agar tidak sampai membangunkan temannya yang sudah mulai tertidur,
Dan rasa penasarannya memuncak, ia benar-benar tidak bisa tidur. Ia segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di samping bantalnya dan membuka aplikasi Alqur'an terjemah di ponselnya, mencari arti dari QS an-nisa ayat 76 dan QS Yusuf ayat 28.
(Yang satu server sama Anin, kayaknya reader pun langsung auto buka aplikasi Alqur'an terjemah atau Al Qur'an yang punya Al-Qur'an terjemah trus cari QS an-nisa ayat 76 sama QS Yusuf yang 28)
"Ya Allah, tuh ustad bener-bener ya! Astaghfirullah hal azim, emang aku menggodanya, kan enggak!" gerutu Anin sambil kembali meletakkan ponselnya dengan kesal.
Ia segera menutup seluruh tubuhnya dengan selimut berharap bisa segera tidur dan melupakan semua masalahnya.
Di tempat lain, kini ustad Farid dan Wahid tengah merebahkan tubuhnya di serambi masjid sambil menunggu sambil menunggu waktu subuh datang.
Tapi nyatanya rasa lelah karena sudah berjalan kaki dan mendorong motor tidak lantas membuat matanya cepat terpejam.
"Astaghfirullah hal azim!" gumamnya membuat Wahid yang hampir terlelap kembali membuka matanya karena terkejut.
"Ada apa ustad, apa ada masalah?" tanya Wahid, ia sampai terduduk kembali karena istighfar dari ustad Farid.
"Nggak pa pa, tidurlah!"
Tapi Wahid tidak melakukan yang di perintahkan oleh ustad Farid, ia memilih menggeser duduknya dan menyenderkan punggungnya di dinding masjid persis seperti yang di lakukan oleh ustad Farid,
"Lagi mikirin temennya Ayu ya ustad? Namanya Anin, dia memang cantik sih ustad, imut! Pakek hijab, pasti juga Sholihah! Cocok tuh ustad sama ustad!"
Mendengar ucapan Wahid yang panjang lebar, ustad Farid menajamkan matanya dan mengambil selembar sajadah yang berada di dekatnya,
"Sekali lagi ngomong macam-macam, gue gebuk sama sajadah mau!" ancam ustad Farid yang sudah bersiap melayangkan pukulannya membuat Wahid berjaga-jaga menghadangnya dnagn kedua tangan.
"Ampun ustad, nggak lagi! Wahid tidur aja deh ustad!" dengan cepat Wahid pun kembali merebahkan tubuhnya dan membelakangi ustad Farid yang masih duduk di tempatnya.
"Aya Aya wae!" gumamnya lagi sambil kembali meletakkan sajadah di tempatnya.
***
Karena semalaman tidak bisa tidur akhrinya setelah sholat subuh ustad Farid memilih tidur di mobil sedangkan Wahid membantu marbot untuk membersihkan masjid.
Sedangkan di tempat lain, terlihat Anin dan Ayu tengah sibuk memasak di dapur.
"Banyak banget Yu masaknya?" tanya Anin yang terlihat sibuk mengaduk sayur yang mulai matang.
"Sengaja Nin, kan ada mas Wahid sama temannya. Kasihan mereka kalau harus beli, sekalian sebelum mereka ke Blitar kita makan bareng!"
"Jadi mereka orang Blitar?"
"Bukan! Mereka mau ke Blitar Nin, bukan orang Blitar. Mereka orang Bandung!"
"Ohhh, pantes!"
"Kenapa?"
"Nggak bisa basa Jawa!"
"Ya kamu sih aneh Bin, baru ketemu sudah kamu ajak ngobrol bahasa Jawa, nggak nyambung!"
"Ya aku kan nggak tahu kalau bukan orang Jawa!"
Mereka pun terus mengobrol sembari memasak, begitu banyak makanan yang sengaja di masak oleh Ayu untuk menjamu teman dan sepupunya.
"Oh iya Yu, aku sudah bilang belum ya kemarin!"
"Apa?"
"Hari ini aku balik ke Tulungagung ya,"
Ayu segara menghentikan kegiatannya,
"Cepet banget, nggak besok aja?"
"Bapak sudah khawatir sama aku, soalnya bapak kan tahu kalau aku pergi dari rumah budhe dalam keadaan marah! Maksudnya di diemin sama budhe!"
"Ya sudah, kamu yang sabar ya! Aku doain kamu dapat jodoh seperti yang kamu harapkan. Tapi kalau enggak, aku pikir David bukan pilihan yang buruk!"
Tapi segera ia teringat sesuatu, Ayu segera menatap Anin tidak percaya.
"Ehhh tunggu, kayaknya nggak asing sama yang namanya David!"
Anin tidak kalah penasaran, ia pun segera menatap Ayu,
"Apa?"
"Bentar ya aku ambil ponselku dulu!" Ayu pun segera meletakkan centong sayurnya dan berlari ke kamar.
Tidak berapa lama ia keluar kembali dengan membawa ponsel, ia tampak sibuk membuka galeri fotonya,
"Yang ini bukan?" tanya Ayu sambil menunjukkan sebuah foto pada Anin.
"Iya, bener! Gimana kamu bisa punya fotonya?" tanya Anin bingung.
"Gila Nin, serius yang begini kamu tolak?" tanya Ayu tampak tidak percaya dan Anin hanya mengangukkan kepalanya sambil menerka-nerka maksud Ayu.
"Dia itu bos aku di kantor, mapan, tampan, ya walaupun galak. Tapi berkarisma banget Nin. Serius??????" tanya Ayu tampak begitu tidak percaya.
"Iya!" jawab Anin dengan datar.
"Wh wah wah ..., kayaknya kok Ki seng gak normal Nin (kamu nih yang nggak normal Nin)!"
"Tepatnya bukan pilihanku, Yu!"
"Tapi kalau dia di pilih Tuhan buat jadi jodoh kamu gimana?"
"Kalau itu beda konteknya Yu, pasti Allah kasih jalan buat aku bisa nerima dia. Tapi untuk saat ini aku tengah beriktiar cari jodoh yang memang memiliki tujuan yang sama sama aku!"
"Andai yang di lamar itu aku, nggak Sampek mikir dua kali aku buat nerima!"
"Untung bukan kamu," ucap Anin sambil tertawa.
"Ngledek nih ya!"
Setelah memastikan semua masakan matang, Ayu pun segera menghubungi sepupunya untuk sarapan bersama.
***
"Sudah siap ustad?" tanya Wahid saat ustad Farid baru saja kembali dari kamar mandi masjid, ia tampak segar karena baru saja mandi.
"Memang mau ke mana?" tanya ustad Farid sambil melipat kembali handuk kecilnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Sarapan!" ucap Wahid, "Sudah lapar, perutnya minta di isi!" ucapnya lagi sambil mengusap perut.
"Ya sudah ayo, kamu aja yang pilih tempat makannya!" ucap ustad Farid dan Wahid pun tersenyum senang.
Ustad Farid pun memilih duduk di samping kemudi dan wahid yang duduk di balik kemudi. Mobil pun mulai meninggalkan masjid.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Fhebrie
ustadznya juga bar bar makanya di kerjain anin.. ternyata do'a zahra bakalan ke ijabah nih supaya farid dpt jodoh yg kayak jahra 🤣
2023-09-22
0
Sumarni Sumarni
cakep nich cerita.. sehat sehat ya thor.. sukses selalu.. ditunggu lanjutannya 😘😘😘
2023-02-27
0
Warini Blitar
numpang mas wahid ustadz faridz... sy juga mau pulang ke t.agung.
lumayan lah anin ngirit ongkos dan siapa tau itu jodoh yg dikirim..🤣🤣🤣...
2023-02-26
1