Bab 5

POV Anin

Benar saja, setelah beberapa menit aku menunggu, pria bernama Anto tadi berjalan kembali mendekatiku dengan seseorang.

Tampan ....

begitulah kesan pertama yang aku dapat dari pria berdasi itu, dia juga tampak tegas terlihat dari raut wajahnya yang serius.

"Ini pak!" ucap Anto saat sudah berada di dekatku.

"Kamu yang mananya Anin?" pertanyaan itu langsung muncul dari bibir merah jambu milik pria itu yang aku yakini dia pria yang berna David.

"Iya!" jawabanku singkat, aku tidak mau terkesan sok akrab dengan langsung banyak bicara.

"Ikut denganku!"

"Hahhh, Kemana?" tanyaku, tapi belum selesai rasa terkejutnya kembali dia mengejutkanku dengan menarik tanganku.

"Heiiii, tunggu. Aku mau di bawa ke mana?" tanyaku sambil meronta agar pria itu melepaskan tanganku tapi sepertinya teriakanku sama sekali tidak berpengaruh padanya, bahkan orang-orang yang melihat kami sama sekali tidak beranjak menghentikan pria itu dan menolongku.

Krekkkkkk

Hanya dnagn sekali hempasan, aku terduduk di sebuah sofa dan aku baru sadar jika saat ini kami tengah berada di sebuah restauran yang ada di dalam hotel.

Pria itu dengan begitu santainya dan rasa bersalah langsung duduk dan menyantap makanan yang ada di depannya,

Kapan dia memasangnya ...

Aku bahkan tidak sadar kalau sudah banyak makanan di sana, sejak kapan.

"Saya mau pergi!" ucapku hendak berdiri tapi segera aku urungkan saat melihat tatapan tajam pria itu,

"Masih tidak merasa bersalah?"

Aku tercengan dengan pertanyaan pria itu, bukankan seharusnya aku yang menanyakan hal itu.

"Hahh, aku bersalah apa?"

"Kamu sudah membuang waktuku hanya untuk menjemputmu ke parkiran!"

"Aku nggak nyuruh kan!" jelas aku tidak mau di salahkan karena semuanya bukan salahku.

"Baiklah, aku tidak punya banyak waktu untuk berdebat denganmu, kita langsung bicara ke intinya saja!"

"Aku juga, sama!" aku paling tidak suka dengan pria sombong seperti itu, benar-benar budhe ada-ada aja calon yang di kenalkan sama aku.

"Syarat buat jadi istri saya, dia harus mau tetap di rumah setelah menikah, urusan saya yang nomor satu, jadi hanya melayani saya, kalau masalah fasilitas, jangan khawatir semua kebutuhan kamu akan terpenuhi, bahkan kamu bisa belajar setiap hari di toko-toko bermerk. Apa kamu setuju?"

Hahhh, syarat apaan itu ..., enggak lah jelas enggak, bukan dia yang nomor satu, ya nomor satu itu Allah, enak aja ...

"Maaf, tapi saya tidak setuju. Saya bukan wanita yang mau terus berada di belakang pria, jadi anda salah jika ingin memperistri saya."

"Sombong sekali kamu,"

"Bukan sombong, tapi ini prinsip. Saya rasa urusan kita sudah selesai, saya permisi! Assalamualaikum!"

Rasanya begitu kesal saat membayangkan jika benar aku menjadi istrinya, aku akan bagaikan hidup di dalam sangkar emas. Hidup mewah tapi tidak bisa menikmati hidupku sendiri.

Walaupun tidak yakin, tapi sejenak aku sempat melihat ekspresi kemarahan pria bernama David itu, jelas aku tidak peduli, aku lebih peduli dengan kemarahan budhe nanti di rumah.

Ahhh_, biarlah. Ini hidupku, aku yang paling berhak menentukan jalan hidupku setelah Allah dan bapak tentunya.

Ahhh, bapak ....

Bagaimana kalau bapak juga setuju aku berjodoh dengan pria yang egois seperti itu,

Walaupun tidak sering berkunjung ke Surabaya tapi aku masih hafal Dangan jalan pulang ke rumah budhe. Tak apa jika nanti kena marah, dari pada harus jadi istri pria angkuh seperti dia.

Benar saja, baru juga turun dari angkot, budhe sudah menungguku di depan pintu dengan ekspresi wajah yang tidak mengenakkan.

"Assalamualaikum, budhe!" sapaku sambil mencium punggung tangannya.

"Waalaikum salam, cepet masuk. Budhe mau ngomong sama kamu!"

"Iya budhe!"

Akhh, aku benar-benar seperti akan di sidang.

"Budhe sudah dengar!"

"Dengar apa budhe?" aku pura-pura tidak tahu.

"Kamu itu bodoh atau terlalu lugu sih, bisa-bisanya pria sekaya dan seganteng David masih juga kamu tolak?! Memang kamu mau cari yang bagaimana lagi? David itu sudah punya segalanya, kamu mau minta apa aja langsung di kasih, kamu nggak perlu kerja!"

"Nah itu budhe yang nggak Anin suka, Anin tetep pengen kerja walaupun sudah nikah!"

"Budhe nggak habis pikir sama kamu, sudah di enakin malah minta yang susah. Tadi budhe sudah membicarakan ini sama jeng Kartika, dia suka sama kamu begitu juga dengan David, mau atau tidak mau, bulan depan kalian akan menikah!"

"Lohhh kok maksa sih budhe!"

"Kamu tuh kalau nggak di paksa nggak akan nikah-nikah, budhe juga sudah ngomong sama bapak kamu, dan bapak kamu setuju!"

"Enggak! Anin pokoknya tidak setuju, dua Minggu lagi Anin nikah!"

"Nahhh itu bagus, lebih cepat lebih baik!"

"Tapi bukan sama David itu!"

"Kamu jangan keras kepala ya!"

"Enggak, anin serius! Dua Minggu lagi Anin bakal nikah sama pria pilihan Anin sendiri!"

"Ngeyel Kowe yen dikandani wong tuwo ( ngeyel kamu kalau di bilangin orang tua) Dasar bocah Ra kenek di atur ( dasar anak tidak bisa di atur), wes sak karep-karepmu, tapi awas Yen ngasi rong Minggu engkas awakmu urong rabi, Kowe kudu gelem Karo David ( sudah terserah kamu, tapi awas jika dua Minggu lagi kamu belum menikah, kamu harus mau dengan David)! Ojo ngisin-ngisini wong tuwek ( Jangan mempermalukan orang tua)!"

Setelah selesai bicara budhe langsung pergi, entah kemana tapi yang pasti ia dia sangat marah.

Aku pikir kemarahannya seperti biasa, akan berakhir setelah beberapa jam, tapi ternyata kali ini tidak, budhe bahkan tidak bicara denganku hingga dua hari aku tinggal di rumahnya.

Memang tidak salah jika budhe marah, karena David itu pria yang ke sebelas yang sudah budhe kenalkan padaku, tapi mau bagaimana lagi, aku belum merasa srek dengan David.

Kini sudah empat hari aku di rumah budhe, dan aku harus berpamitan. Aku berencana mampir ke Sidoarjo untuk ikut istigosah Akbar di saja, rencananya aku akan menginap di kontrakan teman aku, namanya Ayu. Dia asli Tulungagung tapi tengah bekerja di Sidoarjo.

Pagi ini aku sengaja menyiapkan sarapan untuk budhe, aku ingin berpamitan padanya, walaupun galak tapi budhe orangnya baik, aku begitu merasa bersalah karena telah membuatnya marah,

"Budhe, hari ini Anin pulang ya."

Tidak ada respon dari budhe, ia tetap sibuk mengunyah makanannya, tapi walaupun. begitu UU aku tahu dia pasti mendengarkan ucapan ku.

"Anin akan mampir di Sidoarjo, di tempatnya Ayu, tahu kan budhe, Ayu itu anaknya pak Gito. Aku sekalian mau ikut istigosah Akbar budhe di sana!"

"Hati-hati!" jawab budhe singkat, tapi aku tahu itu bentuk perhatian. Dia pasti sudah terlalu lama menahan bibirnya untuk tidak bicara padaku.

Bersambung

Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya

Follow akun Ig aku ya

Ig @tri.ani5249

...Happy reading 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Ayuk Vila Desi

Ayuk Vila Desi

apa nanti bdkal ketemu si parid🤭

2023-10-16

0

sherly

sherly

budhenya buka biro jodoh aja

2023-07-29

0

☠ᵏᵋᶜᶟ 𝕸y💞Sarinande⒋ⷨ͢⚤

☠ᵏᵋᶜᶟ 𝕸y💞Sarinande⒋ⷨ͢⚤

Dan ketemu deh ma Parid eh Farid ding🤭🤭🤣🤣🤣

2023-03-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!