Bab 14

"Hid, kenapa ke sini?"

Ustad Farid begitu terkejut saat mobil yang dikemudikan oleh Wahid berhenti di depan sebuah rumah yang semalam mereka singgahi, walaupun tidak terlalu jelas karena suasana gelap tadi malam tapi ia yakin, rumah yang sekarang berada di seberang jalan itu rumah yang sama.

Tempat parkir mobilnya pun juga sama, rumah sederhana dengan cat berwarna abu-abu khas rumah minimalis.

"Ya_, ya kita sarapan ustad!" jawab Wahid yang terlihat bingung.

"Wahid yang nomor satu, dengarkan saya baik-baik!" tampak ustad Farid menahan kesal, "Jadi menurut hemat saya, sarapan itu di warung atau kedai, bukan di kontrakan sepupu kamu!"

"Tapi ustad, menurut hemat Wahid dan benar-benar hemat, sarapan di tempat Ayu justru yang paling hemat karena sudah pasti gratis."

Yang benar saja, masak aku harus ketemu sama cewek yang tadi malam sihhh ....

"Gimana ustad? Setuju kan?" tanya Wahid lagi saat melihat ustad Farid yang malah terdiam.

"Atau jangan-jangan ustad Farid sudah mulai suka ya sama temannya Ayu?" goda Wahid.

"Jangan ngarang ya kamu, nggak mungkin lah saya suka sama gadis Jawa yang katanya kalem ternyata cerewet minta ampun, sudah cukup ketemu sama Zahra istrinya Zaki, nggak usah di tambah lagi, pusing aku!!!"

Mendengar jawaban yang panjang lebar dari ustad Farid membuat Wahid tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

"Kenapa malah tersenyum, ada yang aneh?" tanya ustad Farid lagi.

"Jawaban ustad yang aneh, lagi pula bukan Maslaah dia gadis Jawa atau gadis manapun, yang namanya perempuan dimana-mana juga cerewet ustad, sudah kodratnya! Memang ambunya ustad nggak_, mohon maaf cerewet?" tanya Wahid terlihat sungkan.

Benar juga ya ...., batin ustad Farid.

"Sudah terlanjur di sini ustad, nggak enak kan kalau balik dan nggak jadi makan!?" ucap Wahid membujuk ustad Farid.

"Baiklah, apa boleh buat!" ustad Farid hanya bisa pasrah sekarang.

Akhirnya mereka pun memutuskan untuk turun dari mobil,

"Hid, sebaiknya makannya di luar saja, itu ada Gasebo. kita makan di sana saja!" ucap ustad Farid lagi saat mereka sudah berada di depan pintu, ustad Farid menunjuk sebuah Gasebo yang berada di halaman, sepertinya itu Gasebo umum, biasa di gunakan untuk ronda.

"Kenapa di luar, ustad?"

Mendengar pertanyaan Wahid, ustad Farid langsung melotot,

"Mau aku tonjok!?" ulangan ustad Farid sambil melayangkan tinjuannya seperti hendak menonjok Wahid.

"Ampun ustad, enggak!" ucap Wahid dengan reflek menghindarkan kepalanya, "Baiklah, saya panggil dulu Ayu nya ya ustad!"

"Hmm!"

Selagi Wahid mengetuk pintu dan memanggil si tuan rumah, ustad Farid memilih menunggu duduk di Gasebo yang tadi di tunjuk olehnya.

Di dalam rumah tampak Anin ragu-ragu untuk membuka pintu,

"Yu, kamu yakin nyuruh aku?" tanya Anin mastikan.

"Iya Nin, memang ada apa sih? Aku masih belum selesai goreng tempenya!" teriak Ayu dari dapur.

Dan Anin pun segera kembali ke dapur untuk menemui Ayu,

"Kok malah balik lagi?" tanya Ayu sambil menatap Anin heran.

"Aku aja Yu yang lanjutin goreng tempe, kamu yang buka pintu!" ucap Anin sambil mengambil alih spatula yang ada di tangan Ayu.

"Ya Allah Nin ribet banget!" gerutu Ayu sambil melepaskan apronnya dan mencuci tangan.

Beruntung Ayu bersedia di gantikan, Anin sedikit bernafas lega. Ia belum siap untuk bertemu dengan ustad Farid.

Seandainya aku tahu kalau dia ustad kan aku nggak gitu-gitu amet ...., batin Anin sambil membayangkan betapa canggung nya nanti saat bertemu dengan ustad Farid.

"Lama sekali Yu, bukannya?" tanya Wahid saat Ayu sudah membuka pintu.

"Anin ribet banget soalnya mau buka pintu, sendiri aja katanya sama temennya mas?" tanya Ayu sambil mengedarkan pandangannya ke belakang Wahid.

"Ustad Farid memilih duduk di Gasebo, dia nggak mau masuk soalnya tempatnya perempuan. Sudah matang belum sarapannya? Aku sudah lapar nih!" tanyanya sambil mengelus perutnya yang memang sudah protes minta di isi.

"Sudah mas, bentar lagi. Ya udah mas tunggu di sana, biar aku sama Anin yang bawa ke sana!"

"Siap!"

Akhrinya setelah menunggu sepuluh menit, Ayu dan Anin keluar dengan membawa makanan.

"Assalamualaikum, mas Farid!" sama Ayu dan ustad Farid pun tersenyum.

"Waalaikum salam, bagaimana keadaannya, apa sudah lebih baik?" tanya ustad Farid pada Ayu.

"Alhamdulillah mas, sudah biasa tiba-tiba pingsan jadi nggak kaget!"

Anin memilih diam dan terus menunduk di balik tubuh Ayu persis seperti anak yang tengah berlindung di balik punggung ibunya, beruntung tubuh Ayu sedikit berisi jadi ia bisa merasa aman saat berada di balik punggung Ayu.

Kini mereka pun sudah duduk bersama di Gasebo dengan makanan yang sudah di siapkan oleh Anin dan Ayu. Mereka menikmati sarapan bersama. Meskipun sesekali Anin ikut bicara tapi ia benar-benar tidak berani menatap wajah ustad Farid. Ia masih malu dengan apa yang ia lakukan tadi malam.

"Oh iya mas Farid, Anin hari ini juga mau balik ke Tulungagung loh, iya kan Nin?" ucap Ayu pada ustad Farid kemudian bertanya pada Anin dan Anin pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.

"Oh iya?" tanya ustad Farid sambil menatap Anin sejenak lalu menundukkan kepalanya lagi.

"Iya mas, kata mas Wahid, kalian mau ke Blitar kan? Gimana kalau aku titip Anin sekalian?" tanya Ayu.

"Apaan sih, enggak!" tapi langsung mendapat protes dan penolakan dari Anin.

"Kenapa? Kan sekalian sejalan Nin, lagi pula kamu pulang sendiri, aku nggak tega!"

"Nggak boleh Ayu!" jawab Anin dengan sedikit penekanan.

"Nggak boleh kenapa?" tanya Ayu tidak mengerti.

"Tanya aja pada ustad!" ucap Anin tapi tidak berani menyebut langsung pada ustad Farid.

Ayu yang mengerti dengan maksud ucapan Anin pun segera menatap pada ustad Farid membuat ustad Farid tidak punya pilihan lain selain menjelaskannya pada Ayu.

"Jadi aturannya, jika bukan mahram tidak boleh bepergian bersama antara laki-laki dan perempuan. Jika pun boleh harusnya perempuannya yang dua dan laki-laki nya satu, atau setidaknya lebih banyak jumlahnya dari laki-laki, selain agar tidak menimbulkan mudharat juga menghindarkan dari fitnah!" ustad Farid tengah menjelaskan apa yang ia mengerti

"Ohhhhh!?" Ayu hanya bisa mengangukkan kepalanya beberapa kali.

"Ehhh tapi tunggu, menurut mas Farid, mana yang paling banyak mudharatnya? membiarkan Anin pulang sendiri tanpa ada yang menemani atau bareng kalian yang jelas lebih aman?" tanya Ayu yang masih kurang terima dengan penjelasan ustad Farid.

"Kamu yakin, jika sama kami teman kamu akan aman?"

"Ya yakin!!!" jawab Ayu mantap.

"Kamu percaya sama setan yang mungkin bisa menggoda kami di tengah jalan?"

Ya ampun nih ustad ...., batin Ayu yang sudah tidak bisa mendebat lagi.

Bersambung

Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya

Follow akun Ig aku ya

Ig @tri.ani5249

...Happy reading 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Ayuk Vila Desi

Ayuk Vila Desi

😂😂😂😂

2023-10-16

0

Norfadilah

Norfadilah

Pak Ustad gitu lho...🤣🤣

2023-06-02

0

Titi

Titi

galak amat pak ustadz 🤣🤣🤣🤣

2023-03-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!