Namaku Farid Ramadhan, usiaku 28 tahun. Dari nama aja pasti sudah tahu kalau aku lahirnya di bulan ramadhan, Alhamdulillah ramadhan membawa berkah.
Aku besar dan tinggal di pesantren. Bukan karena aku seorang anak kyai atau ustad, tapi aku anak tukang krupuk yang beruntung. Abahku kerja serabutan, apa-apa bisa tapi pekerjaan tetap ya sebagai tukang krupuk keliling.
Kenapa aku bisa sampai di pesantren?
Sejak masih belum sekolah, aku selalu di ajak Abah berjualan kerupuk keliling, nah di situlah aku di pertemukan oleh Allah dengan kyai Syam.
Dari tiga bersaudara hanya aku yang beruntung bisa di comot pak kyai. Bagaimana bahasa halusnya ya, aku diambil dan di asuh di pesantren oleh salah satu kyai di sana sedangkan kedua saudaraku yang lain tetap ikut dengan orang tuaku, lebih tepatnya mereka memilih untuk tetap bersama orang tuaku.
Bukannya egois atau malu dnagn kehidupan orang tuaku yang tergolong bukan orang kaya, tapi tujuan utamaku ikut ke pesantren karena aku ingin mendapatkan ilmu yang banyak di sana.
Meskipun begitu, kyai yang mengasuhku sama sekali tidak melarang jika aku ingin berkunjung ke tempat orang tuaku, jarak rumahku dan pesantren tidak begitu jauh, setiap dua Minggu sekali aku masih bis berkunjung.
Berkat ketekunanku dan juga kuasa Allah, Alhamdulillah aku selalu dapat beasiswa, bahkan sebagian beasiswaku bisa aku berikan kepada kedua orang tuaku untuk membantu biaya pendidikan saudaraku yang lain.
Setelah lulus perguruan tinggi, sebagai rasa terimakasihku pada pesantren yang telah membesarkan namaku, aku mengabdikan diriku di sana, selain mendapatkan gaji, aku juga mendapatkan pengalaman yang banyak.
Kyai Syam, beliau yang telah begitu baik merawatku selama ini dan putranya juga temanku, namanya Zaki.
Kami besar bersama, walaupun aku masih tahu batasan. Aku hanya seorang anak orang biasa sedangkan dia anak kyai, pemilik pesantren juga.
Orang-orang menyebutnya ustad Zaki, dia memang sudah menjadi ustad besar tapi lebih suka mengabdikan dirinya di daerah, aku juga, sudah jadi seorang ustad sih,
Bedanya ia sudah menikah, sedangkan aku belum dan Alhamdulillahnya lagi istrinya tengah hamil.
Memang sejak remaja ustad Zaki sudah menjadi idola banyak cewek karena parasnya yang tampan,
"Assalamualaikum ustad Farid!"
"Wa_alaikum salam warahmatullahi wa barakhatu!" jawabku sedikit terkejut karena tiba-tiba ustad Syam sudah ada di sampingku, panjang umur baru juga di pikirkan.
"Kenapa melamun sendiri di sini?"
"Nggak pa pa kyai, lagi cari angin saja. Mangga nyai duduk!" aku segera berdiri dan memberi tempat duduk untuk kyai Syam.
"Ustad juga duduklah, ada yang mau saya bicarakan sama ustad!"
Akhirnya kamu pun duduk, aku menunduk takdim di depan kyai Syam. Beliau begitu berwibawa hingga membuat siapapun lawan bicaranya akan merasa begitu segan meskipun beliau selalu menampakkan senyumnya. Walaupun begitu beliau orang yang sangat hangat, suka bercanda juga.
"Ada apa ya kyai?"
"Saya mau ke Blitar, istrinya Zaki sedang menjalani operasi!" tampak wajah kyai Syam berubah cemas.
Tentu aku pun tidak kalah terkejutnya, Zahra yang pecicilan itu tiba-tiba harus operasi karena terakhir kali aku dengar kabar jika dia tengah hamil.
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un, ada apa kyai?"
"Iya mengalami kehamilan diluar kandungan, apa itu istilahnya_!" tampak Kyai Syam tengah berpikir.
"Hamil ektopik, kyai!"
"Nah iya itu namanya. Kata ummi, kamu juga mau ikut acara istigosah Akbar kan di Sidoarjo?"
"Iya kyai!"
"Dari pada naik bus, bisa nggak bawakan mobil saya? Soalnya kalau saya naik mobil kelamaan di jalan, rencananya siang ini juga saya sama ummi mau berangkat naik pesawat saja biar cepet, nanti pas pulang saja naik mobil sekalian bawa Dodik buat gantian nyetir!"
"Enggeh, kyai! Kalau begitu ke bandaranya biar saya antar kyai!" aku segera menawarkan diri sebelum kyai merasa sungkan saat ingin memintaku mengantar karena kyai Syam tipe orang yang tidak suka merepotkan orang lain.
"Boleh lah kalau kamu tidak sibuk,"
"Insyaallah enggak, kyai!" jawabku dengan senyum termanis yang aku punya.
Dan siang ini juga aku berangkat ke bandara untuk mengantarkan ummi dan kyai.
"Sampaikan salam saya sama Zaki dan Zahra ya ummi!" ucapku sambil membantu menyerahkan koper yang di bawa ummi.
"Insyaallah, mohon doanya agar semua baik-baik saja!"
"Aamiin!"
Setelah pesawat mereka berangkat, aku segera meninggalkan bandara tapi tidak langsung ke pesantren karena aku masih harus pulang ke rumah untuk berpamitan sama Abah dan Ambu, karena rencananya sore ini aku akan berangkat, acaranya besok pagi-pagi sekali.
Akhirnya aku sampai juga di depan rumah sederhana berdinding setengah bambu. Sebenarnya aku sudah berencana untuk membangunnya menjadi rumah permanen dengan dinding yang sepenuhnya bata, walaupun tidak banyak aku sudah punya tabungan dari gajiku selama ini yang sudah aku sisihkan, tapi Abah menolaknya. Katanya ia lebih nyaman dengan rumah yang seperti ini, katanya lebih adem.
Alhamdulillah kedua saudaraku juga sudah berumah tangga sendiri, kalau aku ...., bukannya nggak ada jodoh tapi memang belum di pertemukan jodohnya aja sama Allah.
Saat aku turun dari mobil kyai Syam, aku bisa melihat senyum lebar dari wajah tua yang sudah di penuhi kerutan di sana sini milik Ambu, senyum itu begitu meneduhkan.
Segera ku hampiri dengan langkah cepat, ku sambut tangannya dan ku kecup tangan rentanya,
"Assalamualaikum, Ambu!"
"Waalaikum salam, masuk Rid. Sudah lama kamu nggak pulang, di pesantren sedang sibuk ya?" Ambu langsung menarikku ke dalam rumah,
"Enggak Ambu, tapi memang farid nya yang sibuk, maaf ya Ambu!"
Tidak hanya sampai di situ, Ambu juga segera memintaku duduk di atas dipan,
"Nggak pa pa, ayo biar Ambu ambilkan makan!"
Seperti biasa saat pulang, selalu Ambu begitu repot membuatkan makanan untuk dan aku pikir makanan paling enak itu hanya masakan Ambu.
Dan dalam hitungan menit, makanan seadanya sudah tersaji di depanku, aku segera mencuci tangan dan mulai menyantap makanan yang di ambilkan oleh Ambu.
"Abah kemana Ambu, kok sepi?" tanyaku setelah menyadari di rumah itu hanya ada aku dan Ambu.
"Abah di tempatnya pak Dipo, suruh bantu nanam jagung!"
"Ohhhh, suruh jangan keras-keras Ambu, Abah kerjanya. Entar encok ya kumat, bingung! "
"Ambu sudah bilangin, tapi Abah kamu tuh katanya kalau tubuhnya nggak buat gerak malah capek semua! Ya Ambu bisa apa, abahmu memang keras kepala."
"Sudah cepetan makan," ucapnya saat aku memilih memperhatikannya bicara dari pada melanjutkan makan.
"Iya Ambu!" aku pun kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutku,
"Ratna sama Feri nggak ke sini, Ambu?" tanyaku, kami jarang bertemu karena memiliki kesibukan masing-masing.
"Ratna kemarin ke sini sama suaminya juga, Ratna juga sudah mulai hamil, empat bulan katanya!"
"Alhamdulillah!"
"Trus kapan kamu nyusulnya? Memang pak kyai nggak ada gadis yang mau di kenalin sama kamu?"
"Sabar Ambu, memang Farid nya yang belum siap!"
"Trus kapan siapnya, usia sudah mau kepala tiga, adik kamu saja sudah mau punya anak!"
"Kalau sudah ketemu jodoh Ambu!"
"Trus kapan ketemunya?"
"Ya kalau sudah di takdirkan sama Allah ketemu!"
"Bisa aja jawabnya, sudah cepetan makan trus ambilkan Ambu nagka muda!"
"Di mana Ambu, kalau ambil!"
"Di pohon, masak di warung!"
"Astaghfirullah hal azim Ambu, jadi Farid suruh manjat?"
"Ya iya, masak Ambu yang manjat!" jawabku pasrah, sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, aku yang selalu di minta memanjat pohon karena Abah dan Feri nggak pandai memanjat.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Ayuk Vila Desi
😂😂😂
2023-10-16
0
Ayuk Vila Desi
jadi kangen zahra
2023-10-16
0
Ayu Lestary
aku pikir mas parid sama nur tau2nya tebakan ku salah yah🤣🤣🤣
2023-02-25
4