"Bunda, bukankah hari ini adalah hari pertunangan kak Jingga dan Daniel?" tanya Tasya yang sedang asik memainkan ponselnya dan duduk bersandar di sofa.
"Panggil kakak ipar mu dengan sopan!" ucap Luna sedikit membentak Tasya. Pasalnya gadis itu sama sekali tidak pernah bersikap sopan pada Daniel.
Ck.
Tasya berdecak kesal. Apa bedanya memanggil Daniel dengan sebutan kak atau tidak, toh mereka tidak ada hubungan darah.
Devan yang sedang duduk dan menghadap laptop melirik kedua wanita itu bergantian lalu menghela nafas kasar. "Ayah tidak akan pernah merestui dan tidak akan mau tahu tentang semua yang berhubungan dengan keluarga Alfred!" tegasnya lalu beranjak dari sana.
Luna dan Tasya saling menatap seraya menelan susah payah saliva nya. Terlihat sekali dari raut wajah Devan kalau pria paruh baya itu sedang menahan amarah.
"Bunda..."
"Tunggu di sini, biar bunda yang bicara pada Ayah."
Tasya mengangguk seraya masuk ke kamarnya. Sedangkan Luna lebih memilih menyusul Devan yang saat ini berdiri di balkon, melihat pemandangan kota New York malam hari.
"Sayang, aku--"
"Kalau kamu datang kemari hanya untuk membahas tentang JIngga, maaf aku tidak mau mendengarnya," sakit hati yang Devan rasakan cukup dalam. Bahkan tidak bisa sembuh dengan iming-iming kalau Daniel memang mencintai Jingga dengan tulus.
"Kamu tahu kalau Daniel itu pria yang baik 'kan?" Luna memeluk Devan dari belakang dan mengusap dada suaminya penuh kelembutan.
Ya, selama keduanya berhubungan tidak pernah luput dari pengawasan Daniel. Dia pikir kalau Jingga hanya bermain-main saja. Tapi ternyata mereka malah memutuskan untuk bertunangan.
"Keputusanku sudah bulat. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah merestui semua yang ada kaitannya dengan keluarga mereka. Jadi bisakah kamu mendukung sebagai istriku, hum?" Devan berbalik dan mengusap pipi Luna seraya memberikan kecupan di bibirnya.
Luna pasrah. Mau seperti apapun wanita itu mencoba membujuk Devan, semua percuma. Devan tidak akan pernah luluh. Rasa kecewanya pada Jayden lah yang membuatnya seperti ini.
Tanpa mereka tahu, sejak tadi Tasya menguping pembicaraan kedua orangtuanya dan pergi dari sana.
.
.
.
Jingga dan Daniel sudah berada di dalam perjalanan menuju ke butik. Keduanya saling diam dan tak banyak bicara. Terhanyut dengan pikiran masing-masing.
"Maafkan aku..." ucap Jingga dan Daniel bersamaan lalu saling menatap untuk sesaat dan kembali berpaling.
Daniel menggenggam tangan Jingga dengan erat seraya fokus mengendarai mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.
"Aku tidak bermaksud menolak kamu, Niel. Hanya saja aku belum siap melakukan lebih dari itu dan--"
"Aku tahu, sayang. Aku akan menunggu sampai kamu siap," jawabnya dengan tersenyum getir. Daniel berusaha menyembunyikan rasa kecewanya pada Jingga. Tanpa sengaja, Ia sempat melihat Jayden berjalan keluar dengan keadaan yang sedikit acak-acakan.
Pantas saja semalaman Jayden tidak pulang. Membuat seisi mansion khawatir karena pria itu sama sekali tidak memberi kabar dan menonaktifkan ponselnya.
"Tahan emosimu Daniel. Pria itu pasti bukan kak Jayden!" gumam Daniel dalam hati, mencoba meyakinkan dirinya kalau tadi ia salah melihat.
Tapi kalau dilihat dari tato yang berada di punggungnya jelas sekalu kalau pria tersebut adalah Jayden. Karena Jayden memiliki dua tato, satu di perut dan satu lagi di punggungnya.
"Kita sudah sampai." mobil mereka berhenti tepat di depan sebuah butik ternama. Daniel melepaskan sabuk pengaman Jingga lalu mengajak gadis itu turun.
"Apa kamu gugup?" tanya Daniel.
"Sedikit." jawab Jingga.
Jelas saja Jingga gugup, pernikahan yang ia impikan sejak kecil akan segera terwujud. Namun, sayangnya pria dalam impiannya itu bukan Daniel tapi Jayden.
Setelah selesai mencoba beberapa gaun mereka segera kembali ke rumah sakit. Daniel tidak bisa mengambil cuti seharian penuh karena jadwalnya padat hari ini.
"Jingga!" panggil seorang pria yang tak lain adalah dokter William.
"Ya, Dokter. Ada yang bisa aku bantu."
"Ada pasien yang menunggumu. Cepatlah masuk. Sebelum banteng itu marah." ujar dokter William membisikan kalimat terakhirnya.
Daniel mengerutkan keningnya melihat kedekatan mereka berdua. Kalau saja tidak sedang sibuk, mungkin Daniel akan mengecek ke ruangan Jingga.
"Pergilah." ucap Daniel.
"Baiklah."
"Nanti malam aku akan menjemputmu."
"Tidak perlu, Niel. Aku akan datang bersama Amara ke hotel. Dia membawa mobilku kemarin." ujar Jingga, berharap kalau Daniel tidak curiga padanya.
Daniel meninggalkan Jingga tanpa mengucapkan apapun lagi.
"Apa kalian sedang bertengkar?" tanya dokter William.
Jingga terdiam, ia enggan menjawab pertanyaan dokter William yang menurutnya sedikit ikut campur.
"Apa karena banteng itu?"
"Banteng?" tanya Jingga bingung.
"Jayden, dia sudan menunggumu sejak tadi pagi."
"What?" pekik Jingga lalu tersadar dan segera menutup mulutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Dyah Oktina
amara atau anita nih..???
2025-03-20
0
Naraa 🌻
ini kenapa Jingga jadi murahan sih, ga bisa tegas sama Jay yg jelas udah sakitin malah nolak Daniel yg statusnya calon tunangan
2024-02-29
2
Qaisaa Nazarudin
Cih muna kamu Jingga, Saat digerayangi Jayden kamu menikmatinya..
2023-09-25
2