Bab 7 Jadilah Wanitaku

"Menyebalkan, kenapa harus datang di saat seperti ini sih," gerutu Jingga yang baru saja keluar dari sebuah minimarket untuk membeli sesuatu karena tamu bulanannya datang.

Namun, rintik hujan menghentikan langkah kakinya.

"Bagaimana ini, aku juga lupa membawa payung," lengkap sudah penderitaan Jingga malam ini. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, dimana tempat yang gadis itu lewati sudah semakin sepi.

Cukup lama Jingga menunggu. Tapi, hujan tak kunjung reda. Terpaksa ia kembali masuk ke minimarket untuk membeli sebuah payung. "Tolong sekalian berikan aku betadine, kain kasa dan juga pereda rasa sakit," pinta nya kasir.

"Hanya itu, Nona? Ada yang dibutuhkan lagi?" tanya kasir tersebut.

Jingga mulai berpikir kira-kira stok bulanan apa yang habis. Karena saat pergi keluar tadi, ia lupa mengeceknya terlebih dahulu. Sifat pelupanya memang belum sepenuhnya hilang ternyata.

"Apa ada masalah, Nona?"

"Tidak, berikan itu saja padaku dan jangan lupa berapa total nya," Jingga mengambil kredit card dan memberikannya pada kasir.

"Terima kasih," ucap Jingga. Ia nekad pulang ke apartemen yang kebetulan tidak terlalu jauh dari sana.

"Argh, peluru sialan!" pekik seorang pria, menahan sakit di bagian lengannya. Kemeja putihnya kotor terkena noda darah, Pria tersebut merogoh saku celananya, namun kembali mengumpat karena tidak menemukan apa yang ia cari. "Ponselku pasti terjatuh," desisnya.

Ya, pria itu adalah Jayden. Saat berada di club malam tadi, ia sempat berkelahi dengan salah satu pengunjung yang ternyata adalah musuh bebuyutan nya sendiri. Mereka terlibat baku hantam cukup sengit. Hingga Jayden terpaksa melarikan diri karena pihak keamanan sudah berhasil mengepung tempat itu. Salah satu dari mereka melepaskan satu tembakan yang berhasil mengenai lengan kanannya.

"Shh.." Jayden menekan lukanya dan duduk meringkuk, bersandar di bawah pohon. Ia membiarkan hujan membasahi tubuhnya, bahkan tidak peduli jika saat ini banyak darah keluar akibat luka yang baru saja Jayden dapatkan.

Mata Jayden perlahan terpejam. Pria itu tidak sadarkan diri.

Jingga yang tadinya berniat untuk pulang malah menemukan seorang pria tergeletak di pinggir jalan dengan lengan bersimbah darah. Terpaksa ia membawa pria itu masuk ke dalam apartemennya meski dengan sedikit susah payah.

"Benar-benar merepotkan!" keluh Jingga menidurkan Jayden di atas ranjang lalu melepas satu persatu kancing kemejanya. "Astaga, darimana dia mendapatkan luka seperti ini." tak menunggu lama, Jingga segera melakukan pertolongan pertama pada Jayden.

Dengan perlahan ia mulai mengeluarkan satu butir peluru yang bersarang di lengan Jayden.

"Akh..." pekik Jayden saat pisau tajam milik Jingga mulai merobek sedikit kulitnya. Matanya terbelalak saat melihat gadis yang ada dalam mimpinya baru saja ada di hadapannya. "Kamu..."

"Bisakah kamu diam dan jangan berisik!" seru Jingga yang merasa kesal mendengar jeritan Jayden. "Lain kali jangan bermain-main dengan senjata seperti ini, jika akhirnya membuatmu terluka," imbuh Jingga.

Gadis itu segera membalut luka Jayden dan beranjak dari duduknya.

"Mau kemana?" Jayden menarik pergelangan tangan Jingga agar tidak pergi.

"Tidur. Kamu tidak lihat ini jam berapa?" Jayden melirik jam dinding yang berada di dekat pintu keluar.

"Jadi berapa lama aku pingsan?"

"Pikir saja sendiri," ketus Jingga.

"Aku haus," rengek Jayden.

Jayden tidak menyangka jika penyelamat hidupnya adalah Jingga. Gadis kecil yang dulu selalu ia tolak saat menyatakan perasaan padanya.

"Ada di sebelah mu," Jingga menunjuk satu gelas air yang memang sengaja ia siapkan jika sewaktu-waktu Jayden haus.

"Aku lap--"

"Makan malam mu juga sudah tersaji di sana," Jingga terpaksa memasang senyum manisnya, padahal jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa kesal.

Waktu istirahatnya terganggu karena harus menolong Jayden. Ya, meski yang dilakukan olehnya adalah satu kewajiban kemanusiaan juga.

Entah kenapa saat melihat Jayden ada sesuatu yang membuatnya sesak. Padahal, Jingga sama sekali tidak mengenal pria itu.

"Kamu masih punya hutang padaku," ucap Jayden dengan penuh percaya diri.

"Tenang saja, aku belum amnesia," ketus Jingga.

"Jadi kalau kamu amnesia, kamu akan melupakannya?"

"Maybe."

Jayden mendengus kesal. Sikap dan juga semua yang ada pada diri Jingga saat ini sangat jauh berbeda dengan Jingga yang dulu.

"Kamu tidak mengingatku?" tanya Jayden.

Kening Jingga berkerut, tentu saja dia tidak ingat bahkan tidak tahu siapa sebenarnya Jayden. Kecuali tadi, saat Daniel memanggilnya dengan sebutan kakak. Bisa dipastikan pria yang sedang tidur di atas ranjang ini adalah calon kakak iparnya.

"Aku tidak perlu mengingat seseorang yang tidak penting dalam hidupku," jawabnya seraya melepaskan genggaman tangan Jayden.

Sial! Mendengar ucapan Jingga membuat hati Jayden menjadi semakin panas dan tidak terima.

"Jadilah wanitaku."

"What?" Jingga menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jayden. Pria itu masih memperlihatkan wajah datarnya. Bagaimana bisa ia bersikap santai seolah tidak mengatakan apapun?

"Apa kurang jelas? Jadilah wanitaku, Jingga Alexander!"

Lagi-lagi ucapan Jayden membuat Jingga tercengang dan menghela nafas kasar.

"Dasar tidak waras!" umpat Jingga melangkah masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya kasar.

...----------------...

Terpopuler

Comments

💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ

💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ

jadi dulu selalu di tolak toh jay...lah sekarang giliran kamu yg ditolak disaat kamu menginginkan dia

2023-03-22

3

🍊 NUuyz Leonal

🍊 NUuyz Leonal

jayden sudah mulai tidak waras karena dia ada maunya 🙈🙈

2023-03-09

0

🍊 NUuyz Leonal

🍊 NUuyz Leonal

hilih 😒😒😒

2023-03-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!