Bab 14 Jangan Pergi

"Selamat malam, Non." sapa salah satu pembantu rumah tangga yang bekerja di kediaman Alexander.

"Malam, Bi. Ayah sama Bunda kemana ya?" Jingga berjalan menuju ke ruang keluarga, karena saat mencari kedua orangtuanya di kamar, mereka tidak ada di sana.

"Maaf, Non. Tuan dan nyonya sedang pergi keluar negeri untuk beberapa hari, menjemput nona Tasya." ucap pelayan tersebut mengulurkan segelas teh hangat pada Jingga.

"Menjemput Tasya?" tanya Jingga.

Bi Ijah mengangguk.

"Diminum dulu, Non. Mumpung masih hangat."

"Terima kasih." Jingga melanjutkan makan malamnya yang tertunda, lalu mengambil ponselnya. "Sepertinya aku harus menghubungi, Tasya."

Ya, Tasya adalah putri kedua Devan dan Luna, yang belum lama melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Karena tidak betah, Tasya minta di jemput dan akan melanjutkan kuliah di Jakarta.

"Baru juga satu bulan sudah mengeluh," gumam Jingga seraya melihat benda pipih yang melingkar di tangan kirinya. Jingga mengingat kembali ucapan Jayden yang memintanya untuk datang pukul tujuh malam di apartemen pribadi pria itu.

"Dia pikir aku akan datang? Tidak akan pernah!" lirihnya sambil menyeringai tipis.

Jingga masuk ke kamar dan berniat untuk membersihkan diri. Namun, getaran dering ponsel yang sejak tadi terdengar membuat gadis itu terganggu.

"Bisakah kamu tidak menggangguku sebentar saja!" geram Jingga. "Nomor baru? Siapa?" perlahan ia menggeser tombol berwarna hijau tersebut dan terkejut.

"Apa kamu sengaja membuatku menunggu?!" ucap pria tersebut dari sebrang sana.

"K-kamu, bagaimana bisa tahu nomor ponselku?! Dasar tidak sopan!" Jingga berniat mematikan sambungan ponsel tersebut, tapi ia urungkan karena lagi-lagi Jayden mengancamnya.

"Mungkin lebih baik aku yang ke sana," Jayden tersenyum licik lalu mengakhiri pembicaraan mereka.

"Kak, tunggu! Kamu tidak akan...ya! Kenapa dia selalu seenaknya saja sendiri, sih! Sejak kapan dia punya sisi menyebalkan dan tukang memaksa seperti ini." tentu saja sikap Jayden yang berbeda membuat Jingga merasa risih. Dulu saja pria itu selalu menolaknya, kenapa sekarang keadaan seakan berbalik?

Jingga berjalan ke arah balkon, berdiri dan mengusap kedua lengannya merasakan hembusan angin malam yang menerpa tubuhnya. Apalagi hujan turun lumayan lebat malam ini.

"Apa dia benar-benar menungguku di tempat itu?" jauh dari dalam lubuk hati jingga yang paling dalam, ia tidak tega membiarkan Jayden menunggunya. "Mana mungkin dia masih bertahan di tengah hujan. Sudahlah, lebih baik aku tidur."

.

.

Malam semakin larut, waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Hujan deras yang semalam mengguyur sudah mulai reda. Jingga sudah terlelap dalam tidurnya, namun ia merasa sesak seakan ada sesuatu yang menindih tubuhnya.

Matanya terbelalak saat melihat kedua tangan kekar sudah melingkar di perutnya. Bahkan tangan yang lain berhasil masuk dan meremas salah satu benda kenyal milik Jingga.

"Daniel? Mana mungkin dia..." Jingga hendak berbalik dan berusaha melepas tangan yang sejak tadi menguncinya.

"Diam lah, kamu bisa membuatnya bangun lagi." suara serak terdengar menggelitik telinga Jingga.

"Sejak kapan kamu ada di sini?! Lepaskan aku!"

"Aku sudah bilang kan kalau kamu--"

Dugh!

"Aww..." Jayden meringis kesakitan saat kepala Jingga mendongak dan sengaja melukai dagunya. Ditambah lagi, saat ini Jayden jatuh terjengkang ke bawah. "Kamu keterlaluan, Jingga!"

Jingga merapikan pakaiannya yang terlihat berantakan lalu berkacak pinggang menghampiri Jayden.

"Kamu yang keterlaluan! Masuk ke kamar calon adik ipar mu dan menggerayangi nya. Kamu pikir aku gadis murahan!" Jingga sudah tidak bisa lagi membendung emosi yang meluap, entah darimana Jayden tiba-tiba bisa masuk ke kamarnya dan menyentuh tubuhnya seenak jidatnya.

Dengan tubuh yang hanya berbalut celana boxer berwarna putih Jayden berdiri seraya mendekat ke arah Jingga.

Jingga menelan saliva nya dengan susah payah. Ia akui kalau bentuk tubuh Jayden sangat menggoda di matanya. "Astaga, apa yang kamu pikirkan, Jingga! Dari mana otak mesum mu muncul!" umpatnya pada diri sendiri.

Brugh!

"Kak, apa yang kamu lakukan!" pekik Jingga.

Jayden tidak menjawab, hanya terdengar suara menggigil dan nafas yang sedikit tersengal. "Dingin..." gumam pria itu.

Jingga menyentuh dahi Jayden dan memeriksanya. "Astaga panas sekali. Apa dia benar-benar menungguku." Mendorong tubuh Jayden dan menidurkannya perlahan di ranjang.

"Jangan pergi." pinta Jayden.

"Tentu saja aku tidak akan pergi, karena ini rumahku!" ketus Jingga berlalu dari sana, membuat Jayden sedikit kecewa.

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Kamu harus jual mahal Jingga, Biarkan giliran Jay yg berjuang sekarang, Jangan mudah luluh,walaupun aku tau org tipe Jay ini mmg nekat orgnya, Kalo udah katanya A tetap A gak akan berubah jadi B, Karena suami aku juga kek gitu, Jadi aku ada pengalaman nih 😃

2023-09-25

2

🍊 NUuyz Leonal

🍊 NUuyz Leonal

astagfirullah 😂😂😂
fokus sama akhir part jangan pergi
lah ya iya gak pergi itu kan rumah jingga 🤣🤣🤣🤣🤣

2023-03-10

1

jaran goyang

jaran goyang

mmmmm so sweet🤣❤❤❤❤💪💪💪

2023-02-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!