Bab 15 Angry Bird

"Lepaskan, Kak! Kamu ini kenapa sih, dari tadi tidak mau diam." bentak Jingga saat Jayden terus memeluk dirinya yang sedang memasak bubur untuknya.

Sejak tadi Jayden terus mengatakan kalau dirinya merasa lapar. "Pakai bajumu sana!" pinta Jingga.

"Aku masih ingin memelukmu seperti ini."

Bukannya menyingkir, Jayden malah semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Jingga tidak bisa leluasa bergerak.

"Dasar duda manja!" ejek Jingga. "Kamu benar-benar tidak tahu malu, sudah ku tolak tapi masih berani menemui ku. Bahkan masuk dan tidur di atas ranjang ku tanpa ijin. Bagaimana kalau ada yang melihat?!" seru Jingga. Sedangkan tangannya fokus mengaduk bubur.

Jayden membenamkan kepalanya di ceruk leher Jingga dan mencium nya. Namun, Jingga tidak merespon sama sekali.

Jingga menahannya mati-matian agar Jayden menyerah. Ia juga sudah menyuruhnya untuk pergi, tapi ucapannya tidak di dengar sama sekali oleh Jayden.

"Apa kamu selalu bersikap manja seperti ini pada semua wanita yang baru saja kamu temui?!" tanya Jingga.

Jayden tak menghiraukan Jingga. Tentu saja dia tidak bisa menjawab ucapan gadis itu. Karena Jingga bukanlah satu-satunya wanita yang Jayden perlakukan seperti ini.

"Hanya pada mantan istriku dan kamu. Selain itu tidak ada." jawab Jayden singkat namun berhasil membuat Jingga tertohok.

Mendengar pria yang sedang memeluknya saat ini membahas mantan istrinya, ada perasaan kesal dalam hati Jingga. Namun, ia tidak tahu perasaan apa itu.

Hanya saja Jingga tidak rela kalau Jayden menyebut wanita lain.

"Makanlah," ucap Jingga meletakkan satu mangkuk bubur hangat di depan Jayden.

"Suapi aku."

"Tidak mau. Minta saja mantan istrimu itu untuk--"

Cup.

Jayden mengecup bibir Jingga dengan lembut. Hanya sebuah kecupan tidak lebih dari itu. Rasanya bibir mungil milik Jingga sudah menjadi candunya saat ini. "Dia sudah tidak ada, untuk apa kamu cemburu." ujarnya dengan senyum penuh kemenangan karena sudah berhasil membuat Jingga jealous.

"Aku cemburu padamu?"

Jayden mengangguk antusias.

"Aku rasa kamu sedang bermimpi," ujar Jingga menyentuh dahi Jayden, memastikan kalau pria itu sudah baik-baik saja. "Pantas saja, ternyata masih demam."

"Jingga!"

"Buka mulutmu!" pinta Jingga menyuruh Jayden membuka mulutnya.

Jayden menelan perlahan bubur yang sudah berada di rongga mulutnya. Meski rasanya hambar dan membuatnya ingin muntah. Pria itu tidak mau membuat gadisnya kecewa.

Kelopaknya tidak berkedip sama sekali saat melihat pemandangan yang begitu memanjakan matanya.

"Cantik..." lirih Jayden.

"Ya aku tahu."

"Tapi sayang sekali, kamu bukan milikku."

"Bagus kalau kamu sadar diri!"

Jingga kembali terdiam, hingga bubur yang berada di mangkuk itu habis. "Tidur dan bangunlah lebih awal. Pukul tujuh Daniel akan datang kemari!"

"Untuk apa bocah itu datang pagi-pagi sekali. Apa dia berniat untuk berduaan denganmu?" tanya Jayden bingung.

"Anda terlalu kepo, Tuan." jawab Jingga seraya beranjak dari tempat duduknya dan berniat mencuci mangkuk.

"Katakan, kalian mau kemana!"

"Pergi membeli gaun yang akan aku pakai nanti malam. Puas?!"

"Jadi, sudah tidak ada kesempatan lagi untuk ku?"

Jingga menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Tidak! Bagiku kamu hanya masa lalu yang harus aku lupakan. Lagipula, sudah tidak ada namamu di sini," Jingga menyentuh dadanya dan tersenyum getir.

"Kamu yakin?" Jayden berjalan mendekat lalu mendorong tubuh Jingga hingga gadis itu tersudut. Menarik kedua tangan Jingga kebelakang dan mengikatnya. Meski mencoba memberontak, itu sudah terlambat.

"Apa yang mau kamu lakukan!" pekik Jingga saat Jayden sudah mengangkat tubuh mungilnya ke atas meja.

Pria itu melebarkan kedua kaki Jingga dan melingkarkan nya di perut sixpack Jayden.

"Kak, jangan seperti ini..." lenguuh Jingga saat Jayden menyesap kuat lehernya. Kembali meninggalkan tanda kepemilikan di sana.

Bibir mereka kembali menyatu dan kali ini Jingga tidak bisa menolaknya sama sekali. Rangsa-ngan yang diberikan oleh Jayden sungguh memabukkan.

Tanpa sadar, sesuatu di balik celana Jayden menu-suk paha Jingga.

"Berhenti, Kak!"

Mendengar suara teriakan, bi Ijah segera berlari ke dapur dan mencari dimana asal suara.

"Loh, tadi aku seperti mendengar suara perempuan berteriak. Kenapa sekarang tidak ada siapapun. Aneh." gumamnya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Dasar pengganggu!" umpat Jayden dalam hati.

Setelah wanita itu pergi Jayden mengangkat tubuh Jingga dan membawanya masuk ke dalam kamar. Tibanya di kamar, Jayden membaringkan tubuh Jingga perlahan.

"Lukamu berdarah,Kak!"

"Tidurlah," Jayden ikut berbaring dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua lalu memeluk Jingga dari belakang. "Jangan bergerak atau dia akan memaksa masuk!"

"D-dia siapa?"

"Angry bird!"

"Hah?!" Jingga terlihat seperti gadis bodoh saat ini.

"Mau tidur atau memilih melihat angry bird marah?" tanya Jayden sedikit menggoda Jingga.

Dengan polosnya gadis itu mengangguk lalu memejamkan matanya dan memilih untuk tidur. Daripada harus melihat angry bird marah.

Jingga lupa kalau saat ini sedang berada di atas ranjang bersama dengan calon kakak iparnya sendiri,

"Gadis bodoh!" Jayden terkekeh pelan.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Naraa 🌻

Naraa 🌻

Jingga kamu bodoh bgt sih, menolak tapi mau, secara ga langsung Lo khianati Daniel, Jay juga tega BGT, padahal tau sakitnya di khianati ini lu bikin Jingga jahat dan nyakitin adek Lo sendiri.

huhu kasian Daniel

2024-02-29

1

niktut ugis

niktut ugis

ya ampun jay, angry bird kamu suka marah ya

2024-02-25

0

🏘⃝Aⁿᵘ𝐀⃝🥀му𒈒⃟ʟʙᴄ𝐙⃝🦜ˢ⍣⃟ₛ

🏘⃝Aⁿᵘ𝐀⃝🥀му𒈒⃟ʟʙᴄ𝐙⃝🦜ˢ⍣⃟ₛ

kenapa harus angry bird sih Jay, mana keren 🤣🤣

2023-03-24

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!