"Sayang, apa kamu ada di dalam?" ucap Daniel yang mengetuk pintu apartemen milik Jingga. Namun, sejak tadi gadis itu belum membukanya sama sekali. "Aku sudah membawakan sarapan pagi untukmu."
Merasa khawatir akhirnya Daniel terpaksa masuk tanpa ijin, kebetulan ia juga memiliki kunci cadangannya.
Daniel melangkah masuk, lalu kembali menutup pintunya rapat. Ia di kejutkan dengan bekas noda darah yang mulai mengering di lantai sampai ke kamar Jingga.
Bahkan pria itu sama sekali tidak menemukan keberadaan kekasihnya dimana pun. Hanya ada satu tempat yang belum Daniel periksa, kamar mandi.
Saat mendekat ke sana, terdengar suara gemercik air shower. Benar dugaannya, kalau Jingga sedang membersihkan diri.
"Apa dia terluka parah, kenapa ada peralatan medis disini? Dan ini, terlihat seperti kemeja seorang pria." gumam Daniel dalam hati.
Degan sedikit rasa curiga, ia membereskan semuanya sambil menunggu kekasihnya menyelesaikan ritual mandinya.
Setengah jam berlalu, akhirnya Jingga keluar.
Gadis itu terkejut karena tiba-tiba melihat Daniel yang sudah duduk di depan meja makan dengan sarapan pagi yang tersedia di atasnya.
"Niel, kamu sudah di sini?" tanya Jingga seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Aku cemas memikirkan keadaanmu."
Daniel mendekat dan memeluk erat Jingga. Pria itu memberikan kecupan lembut di keningnya. Namun, entah kenapa gadis itu malah menghindar. Seakan ada dinding yang membatasi mereka berdua.
"Maaf, karena sudah lancang. Masuk tanpa meminta ijin darimu." Jingga mengangguk lalu duduk. Daniel mengepalkan tangannya erat dan berpura-pura seakan tidak terjadi apapun.
Pria itu tahu kalau Jingga sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Buka mulutmu," ucap Daniel.
Tanpa menunggu lama, Jingga langsung membuka mulutnya.
"Aku sudah kenyang."
"Noda darah dan peluru milik siapa itu?" ceplos Daniel tiba-tiba, membuat Jingga tersedak dan memukul pelan dadanya.
Jingga lupa membuang kemeja dan peluru milik Jayden. Karena terlalu lelah, gadis itu memutuskan untuk langsung tidur dan berniat membereskannya besok pagi.
"Sayang, makanlah dengan perlahan," Daniel memberikan satu gelas air pada Jingga dan mengusap punggungnya.
Pria itu berlutut di hadapan Jingga dan meraih tangannya.
"Niel, apa yang kamu lakukan. Cepat bangun!"
Jingga merasa bersalah, kenapa harus Jayden yang mengambil ciuman pertamanya. Yang seharusnya itu adalah milik Daniel calon suaminya. Ingin rasanya gadis itu menceritakan semuanya, tapi ia tidak mau menyakiti Daniel dan membuat kedua saudara itu bertengkar karena dirinya.
"Kalau kamu belum siap mengatakannya sekarang, aku akan menunggu."
"Maaf..."
"Hei, berhentilah meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah kamu lakukan," ucap Daniel mengusap air mata Jingga. "Jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, katakan saja padaku, oke."
Jingga mengangguk lalu memeluk Daniel.
"Terima kasih."
.
.
.
"Kamu percaya padaku 'kan, sekarang!" ucap Jayden pada dokter William yang baru saja memeriksa foto yang berada di ponselnya.
Ya, mendengar Jingga sakit, Jayden langsung keluar dan melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit tanpa peduli kalau luka di lengan kananya kembali terbuka.
Pria keras kepala dan arogan itu langsung menemui dokter William dan meminta penjelasan padanya.
"Tuan, ini benar-benar kejadian langka. Bagaimana bisa hanya karena seorang gadis, dia bangun dengan begitu gagahnya?" ujar dokter William masih terus menatap foto tersebut.
Jayden merebut kembali ponselnya lalu melirik tajam dokter William.
"Aku ingin Jingga menjadi dokter pribadiku!"
"Anda tidak sakit kan, Tuan?"
Dokter William tidak menganga tak percaya dengan permintaan Jayden. Bukankah Jingga adalah salah satu mahasiswi magang yang kebetulan menemani Daniel untuk beberapa bulan ke depan.
Lagipula, Jingga bukanlah dokter spesialis seperti dirinya. Lalu untuk apa Jayden menginginkan gadis itu?
Brak!
"Aku datang kemari untuk berkonsultasi denganmu, bukan untuk melihatmu melamun!" sentak Jayden membuat dokter William terbangun dari lamunannya.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya akan segera mengatur semua nya." Mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Cukup lama Jayden menunggu, akhirnya kabar baik datang padanya. Hingga senyuman licik terukir di salah satu sudut bibirnya.
Jayden bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar menuju ke ruangan Jingga.
"Silahkan masuk, Tuan." ucap Jingga yang masih fokus dengan layar laptop yang berada di hadapannya.
Sesekali gadis itu memijat pelipisnya, rasanya saat ini kepalanya ingin meledak. Belum selesai dengan tugas nya, ia sudah di minta untuk melayani pasien yang lain.
"Selamat pagi, dokter Jingga."
Mendengar suara pria yang sangat ia kenali, Jingga langsung mendongakkan kepalanya.
"Jadi kamu pasien yang dokter William--"
"Jayden Alfred, panggil saja Jayden!"
Deg!
Takdir macam apa ini, pria yang selama ini ingin Jingga hindari muncul di hadapannya dan bahkan sudah mengambil ciuman pertamanya!
"Apa kamu begitu bahagia karena bertemu denganku, sampai tidak bisa bicara seperti ini?" Jayden mengulurkan tangannya, berharap jika gadis yang berada di hadapannya ini akan menyambutnya dengan hangat.
"Keluar!"
"What?"
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Ciuss Kalee
tapi aku merasa tidak adil bagi daniel dia yg menjaga gadis y tp si kakak yg mendafat kn y.
2023-07-23
0
🍊 NUuyz Leonal
gak mau jauh jauh dari kamu jingga makannya Jayden mau kamu jadi dokter pribadi nya
2023-03-10
1
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
penasaran loh aku 😂😂😂😂
2023-03-07
1