Keesokan harinya terjadi keributan di mansion milik keluarga Alfred. Dimana mom Jean begitu histeris saat mendengar kabar dari Jayden. Wanita paruh baya itu segera berlari menuju ke kamar putranya, di ikuti oleh dad Darren dan juga Daniel.
"Astaga, baby! Apa yang terjadi padamu? Kenapa bisa begini? Darimana kamu mendapatkan luka ini, hah?!" sederet pertanyaan yang keluar dari mulut mom Jean membuat Jayden menggeleng perlahan dan memijat pelipisnya.
Inilah sebabnya kenapa Jayden malas pulang ke mansion utama. Mommy Jean selalu menganggap Jayden masih remaja, apapun yang ia lakukan harus dengan pengawasan ketat darinya. Padahal jelas sekali kalau dirinya sudah pernah menikah dan menjadi duda.
"Jawab, Jayden Alfred! Jangan diam saja!" untuk pertama kalinya mom Jean memanggil nama Jayden, pertanda kalau wanita itu sangat marah. Raut cemas terlihat dari wajah wanita itu, tentu saja ia sangat mengkhawatirkan putranya.
"Mom, tenanglah. Kakak baik-baik saja." Daniel ikut menyela. Ia tau kalau saat ini Jayden sedang tertekan dengan semua pertanyaan yang keluar dari mulut mommy nya.
Dad Darren yang melihat semua itu segera menarik lengan istrinya agar menjauh dari Jayden. "Berhentilah memberi perhatian padanya, sayang. Temani aku sarapan pagi, karena aku masih lapar," rengek nya pada sang istri mirip seperti bocah yang minta di belikan es krim.
"Kamu ini benar-benar keterlaluan, Darren! Putramu sedang terluka, malah mementingkan perutmu. Oh God! Bagaimana bisa aku menikah dengan pria egois sepertimu?!" mom Jean cemberut seraya mencubit perut Darren. Saat ini tatapannya tertuju pada Zayn yang sejak tadi duduk di samping Jayden.
Zayn menelan saliva nya dengan susah payah. Tatapan mom Jean saat ini setajam mata elang yang hendak menerkam mangsanya.
"Ikut Mommy keluar, sekarang!"
"Auw...ampun, Mom!" teriak Zayn saat telinganya terasa panas, seakan ingin lepas dari tempatnya.
Hanya Jayden dan Daniel yang masih tertinggal di dalam. Mereka saling menatap sesaat lalu memalingkan wajah masing-masing.
"Bolehkan aku memeriksa lukamu, Kak?" tanya Daniel.
"Lakukan," jawab Jayden singkat.
Daniel mulai mendekat dan membuka perlahan perban yang melilit di lengan Jayden. Keduanya terlihat canggung, sudah lama mereka tidak melakukan interaksi seperti ini.
Jayden yang sibuk dengan pekerjaannya dan Daniel yang sibuk dengan kuliahnya. Mereka hanya bertemu satu atau dua kali dalam setahun. Itupun karena permintaan mom Jean. Berbeda saat mereka masih remaja dulu.
"Lukanya tidak terlalu dalam. Aku akan memberikan obat pereda rasa sakit. Untuk sementara, jangan terlalu banyak bergerak," Daniel berniat membuang perban tersebut dan menggantinya dengan yang baru. Namun, ditahan oleh Jayden.
"Siapa yang menyuruhmu untuk menggantinya? Pakai yang lama saja," pinta Jayden.
"Tapi perban ini sudah--"
"Aku tidak suka di bantah, Daniel Alfred!" potong Jayden dengan nada sedikit membentak. Mau tidak mau, Daniel menuruti ucapannya.
Daniel mulai membalut kembali luka Jayden dengan perban yang sama. "Kamu aneh sekali, Kak. Hanya masalah perban saja sampai membentak ku. Sebenarnya apa istimewa nya benda dengan banyak noda darah ini?"
"Bukan urusanmu."
"Tapi aku peduli padamu, Kak."
Jayden menghela nafas kasar. Sungguh ia tidak tega memperlakukan adiknya dengan kasar begini. Tapi apa boleh buat, tekadnya untuk merebut Jingga sudah bulat.
"Seorang gadis menolongku dan membawaku ke apartemen miliknya," jawab Jayden tanpa menjelaskan siapa gadis yang ia bicarakan. "Aku sudah jatuh cinta padanya pada pandangan pertama."
"Benarkah?" mendengar ucapan Jayden barusan, raut wajah Daniel langsung berubah ceria. Ini adalah kabar bahagia yang akan membuat keluarganya tercengang.
Akhirnya, setelah lima tahun menduda, Jayden menemukan tambatan hatinya.
"Siapa gadis beruntung yang berhasil meluluhkan hatimu, Kak?" tanya Daniel. Tentu saja ia ingin tahu, karena selama ini Daniel tidak pernah melihat Jayden bersama seorang wanita sekalipun.
"Kamu yakin penasaran dengan gadis itu," ujar Jayden tersenyum tipis, bahkan sangat tipis sampai Daniel tidak bisa melihatnya. "Namanya Ji--"
"Tunggu sebentar, Kak. Kekasihku menelfon," Daniel beranjak dari duduknya dan berdiri agak jauh dari Jayden.
Ck!
Jayden berdecak kesal dan memilih untuk merebahkan dirinya di atas ranjang. Meski saat ini hatinya terasa panas saat mendengar Daniel memanggil nama Jingga dengan begitu mesranya. "Seharusnya aku yang ada di posisi Daniel sekarang," gumam Jayden lalu memejamkan matanya erat.
"Aku pergi dulu. Jingga memintaku untuk menjemputnya karena hari ini dia tidak enak badan. Entah apa yang gadis itu lakukan semalaman, sampai jatuh sakit begini," pamit Daniel dan hanya di angguki oleh Jayden.
Setelah memastikan kalau Daniel sudah pergi dari sana, Jayden membuka mata dan menyandarkan punggungnya di head board ranjang.
"Dia sakit? Apa karena ulahku semalam?" Jayden bangkit lalu berjalan menuju walk-in-closet. "Aku harus menemuinya dan si botak untuk menunjukkan foto itu padanya."
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
🌹ᴀʏʀᴀ 🅽 🅷💕💕
tapi apakah daniel akan tetap. bahagia klo tahu siapa wanita yg dimaksudnya
2023-04-25
0
🌹ᴀʏʀᴀ 🅽 🅷💕💕
duda tapi perjaka ya jay🤣🤣🤣
2023-04-25
0
🍊 NUuyz Leonal
di buat geleng-geleng kepala melihat tingkah duda satu ini 😁😁
2023-03-10
0