"Kalian berdua masih di sini?" tanya Daniel menaikan kedua alisnya heran. Jayden bukanlah tipe pria yang suka menunggu dan sangat disiplin waktu. "Pasti sedang menunggu adikmu yang tampan ini ya," Daniel menaik turunkan alisnya seraya tersenyum tipis. Menggoda Jayden dan juga Zayn.
"Ya kami sedang--"
"Pede sekali kamu! Aku sedang menunggu gadis ceroboh yang baru saja menjatuhkan ponsel mahal milikku, lalu dengan seenak jidatnya dia pergi tanpa berkata apapun padaku," potong Jayden lalu merogoh saku jasnya dan memperlihatkan pada Daniel. "Kamu lihat ini? Di dalamnya berisi aset milyaran. Dan semua hilang dalam hitungan detik karena ulahnya!"
Jingga mengepalkan tangannya erat. Jelas sekali kalau tadi ia meminta maaf dan berjanji akan bertanggung jawab. Bagaimana mungkin Jayden malah mengatakan hal yang sebaliknya. "Dasar pria arogan tidak tau diri," umpatnya dalam hati.
Daniel tahu kemana arah lirikan tajam kakaknya itu tertuju. Dengan cepat ia menarik Jingga ke belakang untuk melindunginya. "Aku yang akan menggantinya, Kak. Jangan khawatir," ucapnya sambil menepuk pundak Jayden, meski Daniel tau kalau pria itu sangat tidak suka dengan negoisasi.
Jayden melirik Daniel dan Jingga bergantian lalu menghela nafas panjang. "Baiklah, aku menerima tawaranmu. Tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan gadis itu," jika sudah berhadapan dengan Daniel, ia tidak bisa berkutik.
Zayn yang melihat interaksi mereka hanya bisa tertawa puas dalam hati. Karena selama ini seorang Jayden hanya tunduk pada keluarganya, terutama Daniel.
"Kita pulang sekarang, Zayn!" dengan berat hati Jayden melangkahkan kaki dari sana. Lebih baik dia pergi sebelum terjadi adu mulut antara dirinya dan Daniel. Bisa dipastikan kalau dia lah yang akan kalah.
"Oke," Zayn mengikuti Jayden yang sudah berjalan lebih dulu menuju ke parkiran mobil.
Jingga mengusap dadanya lega. "Akhirnya aku bisa terbebas dari pria menyebalkan itu," gumamnya namun terdengar jelas oleh Daniel. Bagaimana tidak, setiap tatapan yang Jayden tujukan padanya, ia merasa terintimidasi. Tatapan dingin dan angkuh, sama seperti tatapan seseorang dari masa lalunya.
"Kenapa, sayang. Apa kakak menyakitimu? Atau dia mengancam mu?" tanya Daniel menghentikan langkahnya. Menarik dagu Jingga agar mau menatapnya, karena sejak tadi gadis itu terus menunduk. Membuat Daniel semakin khawatir.
"Tidak, aku hanya tidak sengaja menabraknya lalu membuat ponselnya terjatuh. Itu saja," jawab Jingga sedikit gugup lalu memalingkan wajahnya.
Daniel tahu kalau Jingga sedang berbohong, apalagi semalaman ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali. Tidak biasanya kekasih yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya ini bersikap aneh. "Hanya itu? Tapi kenapa aku merasa kalau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku."
Jingga menatap Daniel, meletakkan kedua tangan nya di pipinya. "Niel, please. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Aku mencintaimu dan selamanya akan tetap seperti itu."
"Iya sayang, Iya. Maafkan aku," melihat kejujuran di mata Jingga membuat hati Daniel luluh. Gadis yang sudah ia kencani selama satu tahun terakhir ini selalu membuat dirinya menjadi sesosok pria paling beruntung, karena berhasil mendapatkan cintanya.
"Aku mau pulang, capek," Jingga memeluk lengan Daniel dengan manja. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin Jingga tanyakan padanya. Tentang siapa laki-laki yang Daniel sebut kakak. Namun, ia urungkan karena ini bukanlah waktu yang tepat.
"Aku akan mengantarmu."
.
.
.
"Cari tahu informasi mengenai gadis tadi."
"Untuk apa? Kamu tertarik padanya, hum?" tanya Zayn mengulurkan satu botol air mineral pada Jayden dan sebuah obat yang baru saja ia tebus di apotik ternama.
"Tidak! Mana mungkin aku tertarik pada gadis pada gadis berkacamata dengan dada yang kempes itu," ketus Jayden. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali memeluk Jingga tanpa mau melepaskannya.
"Kamu yakin?" meski Jayden berkata tidak, Zayn tahu ucapan sahabatnya itu selalu lain di mulut lain di hati.
"Tentu saja. Kenapa kamu jadi sangat cerewet begini, Zayn. Menyebalkan sekali!"
Baru saja Zayn memberi perintah pada salah satu orang kepercayaannya, tanpa menunggu lama pria itu menghubunginya. Bukan hal yang sulit bagi Zayn melacak identitas seseorang. Bahkan jika orang tersebut bersembunyi di belahan dunia paling jauh sekalipun.
"Jingga Alexander, dua puluh tahun. Putri pertama dari Devan dan Luna Alexander," celetuk Zayn seketika membuat Jayden melotot.
"Katakan sekali lagi!" Jayden ingin memastikan kalau telinganya tidak salah dengar.
"Sepertinya tidak hanya burung mu yang bermasalah, tapi juga telingamu," ejek Zayn terkekeh geli melihat raut wajah serius Jayden saat mendengar nama Jingga.
"Nama gadis berkacamata itu, Jingga. J-I-N-G-G-A!" ulang Zayn mengeja satu persatu kalimatnya.
"Aku tidak tuli, bodoh!"
"Cih! Kamu yang menyuruhku, lalu kenapa malah mengatai aku bodoh?! Atau jangan-jangan kamu mengenalnya? Cinta pertama, cinta masa lalu, atau cinta monyet?"
Plak!
"Brngsek! Kamu memukulku, hah?!" Zayn mengusap kepalanya yang terasa panas akibat pukulan tangan kekar Jayden.
"Fokus menyetir dan jangan banyak bicara!" Jayden menatap keluar jendela dan tersenyum seperti orang tidak waras. "Jingga, kamu milikku! Milik Jayden Alfred," gumamnya dalam hati.
...----------------...
Daniel Alfred, 22 tahun.
Saingan terbesar Jayden adek nya sendiri🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Khairul Azam
kakak adik tp beda jay wajah barat daniel wajah asia,,
2025-02-05
0
niktut ugis
seru nech saingan Jayden adalah Daniel adik tercinta 😌😀
2024-02-22
0
milkymilkjh
buset daniel ganteng bangett 😭😭🙏 jadi bingung numpang kapal daniel -jingga atau jingga-jay
2023-04-25
0