Keesokan harinya. Saat membuka kedua matanya, Jingga sudah tidak menemukan keberadaan Jayden di sampingnya. Mungkin saja pria itu sudah pergi saat dirinya masih tertidur dengan nyenyak.
"Syukurlah, dia sudah pergi. Akhirnya aku terbebas dari pria arogan dan menyebalkan itu." gumam Jingga seraya beranjak dari tidurnya. Ia meregangkan otot tubuhnya yang terasa pegal lalu menuju ke kamar mandi.
Langkah kaki Jingga terhenti saat melihat Jayden yang ternyata sudah berada di dalam kamar mandi dan berdiri membelakanginya tanpa mengenakan sehelai benangpun. Jayden menoleh dan tersenyum tipis ke arah Jingga.
"Astaga, apa itu tadi besar sekali! Pasti aku sedang bermimpi. Ya, mimpi!" Jingga memalingkan wajahnya kemudian mencubit pipinya sendiri. "Aww, sakit sekali! Ternyata ini bukan mimpi."
"Mau mandi bersama?" tanya Jayden yang sudah berada di hadapan Jingga. Aroma maskulin memabukkan membuat Jingga terdiam. "Kenapa diam saja? Aku mengajakmu mandi bersama, Jingga." bisik nya lirih tepat di telinga Jingga.
"Berhentilah bersikap seolah-olah kalau kita ini dekat, Kak!" seru Jingga.
Wajahnya memerah dan terlihat sekali kalau gadis itu sedang gugup namun berusaha untuk menyembunyikannya.
"Kita memang dekat 'kan? Sebentar lagi kamu akan menikah dengan Daniel, dan menjadi adik iparku." jawab Jayden.
"Ya, kamu benar. Jadi segera pakai bajumu dan keluar!" usir Jingga. Matanya tertuju pada lengan Jayden, darah segar kembali menetes dari sana. "Kemarilah, biar aku ganti perbannya! Sudah kubilang bukan, jangan terlalu banyak bergerak."
"Tidak perlu!" jawab Jayden ketus.
"Tapi itu sudah kotor, lukamu bisa terinfeksi bakteri dan--"
"Berhentilah peduli padaku mulai sekarang! Fokuslah pada Daniel dan pertunangan kalian," potong Jayden memakai pakaiannya dan keluar dari kamar Jingga.
"Ada apa dengan nya, kenapa tingkahnya jadi aneh? Tapi terserahlah, aku tidak peduli!" Jingga menutup kuat pintu kamar mandi dan menguncinya.
.
.
"Pagi, Non." sapa bi Ijah yang baru saja menyiapkan sarapan untuk Jingga. "Tuan menelfon tadi pagi, kalau malam ini tidak bisa hadir di acara pertunangan nona Jingga dengan tuan Daniel." lanjutnya seraya mengambil nasi untuk Jingga.
Jingga mengulum senyuman lalu meraih segelas air putih yang berada di atas meja. Tenggorokannya terasa kering mendengar ucapan bi Ijah.
Jingga tahu kalau kedua orang tuanya memang sengaja tidak ingin hadir. Karena sejak awal mereka berdua tidak menyetujui hubungan Jingga dan Daniel.
Terlebih lagi, mereka sudah tahu kalau Daniel adalah adik dari Jayden, pria yang dulu sudah membuat Jingga menderita. Namun, Devan dan Luna sengaja menyembunyikan semua kenyataan itu karena takut putrinya akan kembali terluka.
"Nona Jingga kenapa diam? Apa masakannya tidak enak? Kalau begitu biar saya ganti dengan yang baru." bi Ijah mengambil piring yang berada di depan Jingga.
"Tidak perlu. Aku harus segera pergi, beresan saja semuanya. Kalau Daniel datang, katakan aku ingin menemui pasienku sebentar!"
Bi Ijah membungkuk sekilas, ia membiarkan Jingga pergi uuntuk menenangkan hatinya. Seakan tau apa yang sedang Jingga rasakan saat ini.
"Maafkan bibi karena tidak bisa berbuat apa-apa." lirih bi Ijah menatap punggung Jingga yang sudah mulai menjauh dari pandangannya.
Jayden yang sejak tadi bersembunyi dan mendengar apa yang mereka bicarakan mengeraskan rahangnya dengan tangan terkepal.
"Mau pergi kemana?" tanya seorang pria menarik pergelangan tangan Jingga saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Daniel, kamu sejak kapan ada di sini?" tanya Jingga.
"Lima belas menit yang lalu." jawab Daniel.
"J-jadi kamu sudah--"
Sebuah pelukan hangat dan tiba-tiba Jingga dapatkan pagi ini. "Jangan berpura-pura sedang bahagia, padahal kamu begitu tersiksa." Daniel mengusap punggung Jingga.
"It's oke, Niel."
Air mata yang Jingga tahan sejak tadi akhirnya menetes. Cukup deras sampai kemeja milik Daniel menjadi basah karena ulahnya. Tidak peduli apakah Daniel keberatan atau tidak dengan perlakuannya sekarang.
Daniel menarik dagu Jingga lalu mendekatkan wajahnya, ia bermaksud untuk mencium gadis itu. Namun sayangnya Jingga memalingkan wajahnya ke samping.
"Maaf..." ucapnya lirih.
"Tidak apa-apa. Kita pergi sekarang," dengan raut wajah kecewa Daniel meraih tangan Jingga dan membawanya masuk ke mobil. Karena ini bukan yang pertama kalinya gadis itu menolak saat Daniel ingin mencium bibirnya. "Aku merasa kamu mulai menjauh," gumam Daniel melirik sekilas Jingga, yang lebih memilih untuk melihat ke luar jendela.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
aouh jadi Daniel yg bersembunyi? Ku pikir Jayden..
2023-09-25
1
thv30
jingga bodoh, jijik bgt sama cewek model gini. dokter kok begok bgt
2023-08-18
1
🍊 NUuyz Leonal
ucapan Jayden sepertinya benar jingga masih mencintai Jay
2023-03-10
0