"Oohh. Kalau begitu saya percaya kan kepada Bibik." ucap Bagas. Bibik mengangguk.
Bagas berjalan ke arah kamar Bibik.
"Tuan.. Apa tuan mau mencari Bibik tanya pelayan lain nya.
"Bagas menggeleng kan kepala nya, saya mau melihat Ajarin." ucap Bagas dan masuk ke dalam.
Pelayan itu terdiam. "Sejak kapan Tuan Bagas perduli kepada perempuan Simpanan nya?" ucap Pelayan itu sampai Bagas mau masuk ke kamar pelayan.
Bagas masuk, Ajarin yang sedang duduk melihat ke arah pintu dia berfikir itu Bibik namun ternyata suami nya.
"Bibik..." ucap Ajarin dengan nada yang sangat lemas sekali.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Bagas yang sedang berdiri menatap nya. Ajarin baru sadar kalau itu adalah suami nya.
"Tuan di sini?" ucap Ajarin langsung duduk dan berusaha berdiri dari tempat tidur nya.
Namun dia belum kuat sama sekali.
"Ikut saya." ucap Bagas.
"Ke-kemana tuan?" tanya Ajarin.
"Ikut saja." ucap Bagas. Tidak ada yang tau kalau Bagas membawa Ajarin pergi.
Ajarin di bawa ke dalam mobil.
"Tuan mau membawa saya kemana?" tanya Ajarin. "Masuk saja jangan banyak tanya." ucap Bagas.
Ajarin masuk ke dalam mobil.
Bagas Melihat tangan nya yang masih terasa panas badan Ajarin.
Selama perjalanan Ajarin tidak nyaman dia seperti mau berbaring namun tidak bisa.
Akhirnya berhenti di satu rumah yang terlihat sangat sepi.
"Kita ngapain ke sini Tuan?"
"Jangan banyak tanya!" ucap Bagas membuka pintu.
"Bagas.. Tumben sekali kamu ke sini, ada yang bisa aku bantu?" tanya Pria yang baru saja keluar dari Rumah itu.
Pria itu menoleh ke arah perempuan yang berdiri di depan Bagas menunduk.
"Siapa yang ikut bersama mu?" tanya pria itu.
"Tolong periksa kesehatan dia." ucap Bagas.
Mereka masuk ke dalam. Pria itu memeriksa keadaan Ajarin.
"Dia hanya demam tinggi karena kelelahan dan sering menahan lapar, dan satu lagi terlalu banyak pikiran." ucap Pria itu.
Bagas diam saja.
"Aku akan memberi kan obat dan sudah bisa pulang." ucap pria itu. Bagas mengangguk.
Ajarin menunggu di luar. Bagas mengikuti Pria itu ke dalam.
"Jangan bilang wanita itu adalah perempuan yang kamu baru nikahi itu?" tanya Pria itu.
Bagas diam saja.
"Diam saja kamu, segera berikan obat nya." ucap Bagas.
"Bagas dia masih sangat muda sekali, aku yakin dia sakit seperti ini karena kamu." ucap Pria itu.
Bagas menatap wajah pria itu. Dia langsung takut dan langsung memberikan obat nya.
"Perempuan itu tidak boleh telat makan karena akan tambah sakit." ucap pria itu.
"Iya." jawab Bagas dan langsung keluar dan menyusul Ajarin yang menunggu di luar.
Dia kaget melihat Ajarin malah tidur di kursi panjang.
"Bangun! Kita pulang." ucap Bagas.. Ajarin langsung sadar dan langsung duduk.
Ajarin baru saja membuka mata nya namun Bagas sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan dia.
Ajarin menarik nafas beberapa kali agar kuat. Namun obat yang baru saja dia makan sangat membuat dia mengantuk.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di dalam mobil.
Ajarin tiba-tiba mau pingsan namun langsung di tahan oleh Bagas.
"Maaf Tuan." ucap Ajarin langsung masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Ajarin sepanjang jalan hanya diam saja.
Sampai tidak terasa dia sudah tertidur di kursi samping Bagas.
Sesampai nya di rumah semua keponakan nya heran melihat Ajarin dan Pamannya keluar dari mobil yang sama.
"Paman dari mana saja? Bukan nya hari ini Paman akan membawa kami ke markas?" tanya Yoga.
Bagas melihat jam.
"Bik bawa dia ke dalam." ucap Bagas.
"Ada apa dengan Ajarin Paman?" tanya Yolanda.
"Itu bukan urusan kalian, bersiap lah ayo kita berangkat." ucap Bagas. Mereka pun berangkat meninggalkan kediaman mereka.
"Non ayo istirahat dulu non." ucap Bibik.
"Maaf yah Bik aku jadi merepotkan Bibik." ucap Ajarin.
"Tidak apa-apa Non, ayo langsung istirahat." ucap Bibik.
Setelah beberapa lama akhirnya Ajarin tidur.
Di siang hari nya Badan nya sudah membaik, dia sudah bisa duduk dan sudah berselera Makan.
"Apa benar non di bawa ke klinik teman Tuan Bagas?" tanya Bibik sambil menyuapi makan siang.
"Aku tidak tau bik, namun laki-laki itu terlihat sangat dekat dengan Tuan." ucap Ajarin.
"Itu pasti Tuan Riski." ucap Bibik.
"Tuan Riski adalah teman dekat tuan Bagas. Mereka sangat dekat dulu nya sebelum Tuan Bagas pindah ke kota." ucap Bibik.
"Oohh.." ucap Ajarin.
"Bik apa Makan siang sudah di kirim ke markas?" tanya Ajarin.
"Sudah non, tidak perlu khawatir. Semua nya aman. sekarang non harus fokus pada kesembuhan non sendiri." ucap Bibik.
Tidak terasa hari semakin malam.
"Paman." panggil Yoga. Bagas yang sedang fokus membaca Majalah di ruangan kerja nya menoleh ke arah Yoga.
"ada apa?"
"Aku lupa bilang kalau Besok kita adalah undangan untuk menghadiri ulang tahun Dari salah satu klien kita." ucap Yoga.
"Paman sudah tau." ucap Bagas.
"Oohh." ucap Yoga. Dia duduk di depan Paman nya.
"Paman ini sudah malam, apa kita tidak akan pulang ke rumah? Aku sudah sangat lapar." ucap Yoga.
Bagas menatap Yoga, seketika Yoga langsung takut dan gugup.
"Maafin aku paman, tapi aku benar-benar lapar dan aku juga pengen istirahat." ucap Yoga.
"Kami setuju paman." ucap tiga orang lagi keponakan nya.
Bagas menghela nafas panjang.
"Baiklah-baiklah kalian pulang saja."
"Loh paman bagaimana? Paman sudah lelah seharian. Makan masakan buatan ajarin pasti membuat perut kita kenyang dan penat kita hilang." ucap Yolanda.
"Dia sedang sakit mana mungkin bisa masak." ucap Yopi.
"Yah padahal aku pulang mau makan masakan Ajarin.. Kalau seperti ini sebaik nya kita tidur perlu pulang." ucap Yoga.
"Sudah-sudah ayo kita pulang." ucap Bagas. Akhirnya mereka pulang.
Aba-aba mobil memasuki Area Rumah.
Bibik yang sedang di kamar bersama Ajarin langsung pamit keluar.
Makanan sudah di sediakan di atas meja.
"Huff aku tidak papa melihat semua makanan ini, aku bosan." ucap Yoga dan Yopi.
"Makan saja yang ada, jangan banyak mengeluh." ucap Tian.
Bagas diam saja melihat semua keponakan nya ribut hanya tentang makanan saja.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka selesai makan.
"Paman aku istirahat dulu yah." ucap Yolanda dan berpamitan juga yang lain.
"Tidak terasa mereka sudah besar." ucap Bagas.
"Sayang sekali mereka belum bisa bertemu dengan mamah. kalau mereka bertemu dengan Mamah, mamah pasti tidak akan kesepian lagi. Namun kalau melihat mereka Mamah pasti akan mengingat kejadian itu dan membuat dia sakit." batin Bagas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments