Ajarin sakit

Bagas terdiam sejenak melihat tubuh Ajarin.

"Ternyata kamu sudah melakukan perawatan." ucap Bagas.

"Ma-maaf Tuan."

Bagas tidak menunggu lama dia pun melakukan Aksinya.

Ajarin hanya bisa berpasrah diri kepada Bagas karena Bagas setiap bermain pasti melukai Ajarin tanpa sadar atau sadar.

"Paman Kemana yah?" ucap Yopi kepada Yoga.

"Kita dari tadi bersama, aku juga tidak tau."

"Apa kakak melihat nya?" tanya Yoga kepada Tian.

"Paman sedang istirahat." ucap Tian.

"Waktu yang sangat bagus, aku mau berbicara dengan pelayan muda itu." ucap Yoga.

"Heh kamu mau kemana? Jangan bertingkah aneh-aneh." ucap Yolanda.

Yoga menoleh ke arah Yopi.

"Mampus." ucap Yopi.

"Ayo lanjut kan periksa pekerjaan kalian sebelum Paman keluar. Dia akan marah Kalau kalian belum menyelesaikan nya." ucap Yolanda.

"Baiklah." jawab mereka berdua.

Sudah sore Bagas baru saja keluar dia baru saja mandi dia melihat Keponakan nya masih di ruang tamu.

"Paman sudah bangun?" ucap Yolanda. Bagas mengangguk.

"Paman mau minuman dingin?" tanya Yolanda.

"Aku juga mau."

"Aku juga." ucap Yoga dan Yopi.

"Ya sudah buat kan saja." ucap Bagas. Setelah beberapa lama akhirnya Yolanda berjalan ke dapur.

"Loh kok Bibik sendiri? Ajarin mana?"

"Humm seperti nya Ajarin di atas non."

"Oohh,"

"Non mau ngapain? Biar saya saja non."

"Gak apa-apa Bik, aku bisa kok." ucap Yolanda.

Tidak terasa Sudah malam. Keponakan Bagas akan menginap di rumah itu.

"Tuan belum tidur?" tanya Bibik yang tidak sengaja lewat ruangan kerja Tuan nya.

Bagas menggeleng kan kepala nya. "Saya Akan menyelesaikan pekerjaan saya dulu."

"Saya mau bertanya Non Ajarin kenapa belum keluar dari kamar Tuan? Kalau non Ajarin telat makan Non akan sakit." ucap Bibik.

Bagas terdiam sejenak, dia bahkan tidak mengingat Ajarin.

"Saya akan melihat ke kamar." ucap Bagas." Setelah beberapa lama Bagas kembali ke kamar.

Dia melihat Ajarin masih tidur di Tempat tidur dengan badan yang di tutupi oleh selimut tebal hanya yang terlihat bagian kepala nya saja.

"Apa dia dari tadi belum bangun?" batin Bagas.

"Hei! Apa kamu tidak bangun?" tanya Bagas.. Namun Ajarin tidak merespon.

Bagas mencoba menarik selimut Ajarin.

"Bangun." ucap Bagas.

Bagas berfikir kalau Ajarin dari tadi memang tidak bangun ternyata dia sudah bangun bahkan sudah mandi.

Namun yang aneh adalah Ajarin memakai pakaian yang tebal dan juga menggunakan Kaos kaki.

"Ajarin bangun!" ucap Bagas meninggikan suara nya.

Setelah Bagas meninggikan suara nya dia langsung bangun.

Ajarin membuka mata nya dia melihat Bagas berdiri menatap nya dengan tatapan tajam.

"Tu-tuan." ucap Ajarin.

"Kenapa kamu tidak bangu? Ini bahkan sudah malam..Kamu pikir kamu di sini hanya tidur saja!?" ucap Bagas dengan nada marah.

"Ma-maaf kan saya Tuan, saya akan bangun." ucap Ajarin.

Bagas melihat wajah Ajarin yang sangat pucat.

Ajarin Tidak tau dia bangun mau ngapain. Dia bahkan tidak bisa berfikir dengan jernih.

"Heh berjalan lah yang benar." ucap Bagas. Namun Ajarin kehilangan keseimbangannya dia terjatuh ke lantai.

Bagas kaget dia mau membantu nya namun terhenti dia memutuskan memanggil Bibik.

Tidak beberapa lama Bibik Sudah selesai mengompres badan Ajarin yang sangat panas. Bibik menoleh ke arah Bagas yang berdiri di samping tempat tidur sambil melihat Ajarin yang berbaring lemas.

"Tuan seperti nya non Ajarin harus di bawa ke rumah sakit." ucap Bibik.

"Kenapa tidak panggil saja dokter Ke sini? Sebentar lagi dia pasti sembuh." ucap Bagas.

"Baiklah Tuan." ucap Bibik.

"Kalau begitu saya akan memindahkan Non Ajarin ke kamar saya agar saya bisa merawat nya Tuan."

"To perlu! besok pagi saja, dia baru saja tidur." ucap Bagas.

Bibik mengangguk. "Kalau terjadi apa-apa langsung panggil saya Tuan. Saya permisi." ucap Bibik dan langsung keluar dari kamar itu.

Bagas menghela nafas panjang. Dia duduk di sofa sambil melihat ke arah Ajarin yang tidak berkutik sama sekali.

Satu jam menunggu namun Ajarin sama sekali tidak berkutik. "Apa dia masih hidup?" ucap Bagas dia mendekati dan mentoel-toel badan Ajarin.

Dia juga memeriksa nafas Ajarin.

"Huff nafas nya saja sangat panas." ucap Bagas.

Dia kembali duduk di sofa. Karena dia sudah ngantuk akhirnya mereka memilih untuk tidur.

Setelah beberapa lama akhirnya akhirnya dia tidur dengan nyenyak, namun tidak beberapa lama dia terbangun karena mendengar suara tangisan dari arah tempat tidur.

Dia terbangun dia dan melihat ke arah tempat tidur.

Bagas langsung bangun melihat Ajarin menangis seperti ketakutan.

"Bik.. Bik.." panggil Bagas Bibik langsung ke kamar nya.

"Ada apa Tuan?"

Bibik melihat Ajarin.

"Non.. Non bangun..." ucap Bibik. Ajarin menangis terus Tampa henti, meminta seseorang menjauh dan ketakutan.

"Non bangun non, ini saya bik." ucap Bibik. Bagas mengambil air di menyiram wajah Ajarin membuat Bibik kaget dan Ajarin langsung bangun.

"Bibik..." Ucap Ajarin langsung memeluk Bibik sambil menangis terisak-isak.

"Non kenapa? Non mimpi buruk." ucap Bibik. Ajarin ketakutan dia memeluk Bibik tampa melepaskan nya.

"Aku takut bik..." ucap Ajarin.

"Tidak apa-apa non, ini sudah ada Bibik. Ayo tidur di kamar Bibik." ucap Bibik.

Bibik mengangguk. Dia turun dari tempat tidur, dia menoleh ke arah Bagas sekilas dan setelah itu pergi.

"Huff sangat menyusahkan." ucap Bagas, dia melihat tempat tidur yang sudah basah karena Air yang di Tuang tadi.

Keesokan harinya Bagas bangun karena pagi ini dia harus pergi bersama keponakan nya.

"Selamat pagi paman." sapa Yolanda.

"Yang lain kemana?" tanya Bagas.

"Lagi di luar Paman." ucap Yolanda.

"Suruh mereka masuk dan setelah itu sarapan agar kita berangkat ke markas." ucap Bagas.. Yolanda mengangguk.

"Bik..." Tahan Bagas kepada Bibik yang baru saja lewat.

"Iyah Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bibik.

"Bagaimana keadaan Ajarin?" tanya Bagas.

"Keadaan Non Ajarin masih kurang baik Tuan, badan nya masih panas dan juga sampai sekarang belum berselera makan, bahkan sepanjang malam Non Ajarin tidak bisa tidur." ucap Bibik.

"Oohh. Kalau begitu saya percaya kan kepada Bibik." ucap Bagas. Bibik mengangguk.

Bagas berjalan ke arah kamar Bibik.

"Tuan.. Apa tuan mau mencari Bibik tanya pelayan lain nya.

"Bagas menggeleng kan kepala nya, saya mau melihat Ajarin." ucap Bagas dan masuk ke dalam.

Pelayan itu terdiam. "Sejak kapan Tuan Bagas perduli kepada perempuan Simpanan nya?" ucap Pelayan itu sampai Bagas mau masuk ke kamar pelayan.

Bagas masuk, Ajarin yang sedang duduk melihat ke arah pintu dia berfikir itu Bibik namun ternyata suami nya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!