Dia seperti pria yang tidak memiliki hati memperlakukan perempuan sesuka hati nya.
Dia menginginkan anak dari perempuan yang dia tiduri namun satu pun tidak ada yang berhasil. Dia memeriksa ke dokter namun dia baik-baik saja.
Ternyata perempuan yang tidur dengan Bagas hanya menginginkan uang saja dan juga tubuh Bagas. Mereka diam-diam memasang KB agar tidak Hamil.
Bagas tau akan hal itu dia sangat marah itu sebabnya semua perempuan nya dia buang begitu saja.
Minggu depan kemudian...
Ajarin sedang belajar menjahit di ruangan menjahit.
"Tok!! Tok!!" ketukan pintu.
"Masuk." ucap Ajarin dia melihat ternyata itu adalah Farel.
"Bapak!" ucap nya langsung berdiri dan menundukkan kepala nya.
"Kenapa tidak ada yang memberi tau ku kalau Tuan Bagas datang." ucap Ajarin.
"Tidak perlu seperti itu, saya datang ke sini ingin melihat keadaan mu." ucap Farel.
"Apa Bapak tidak datang dengan Tuan Bagas?" tanya Ajarin.
"Tuan Bagas mungkin masih lama di kota. Saya ingin tau keadaan mu memberikan laporan kepada Tuan." ucap Farel. Ajarin bernafas lega dia sangat senang ternyata Bagas tidak datang.
"Akhir-akhir bagaimana tinggal di sini?" tanya Farel.
"Seperti biasa Pak, Saya hanya melakukan kegiatan saya seperti apa yang di suruh oleh pelayan." ucap Ajarin.
"Bagus lah kalau begitu, satu hal yang harus kamu tau jangan coba-coba kabur dari tempat ini." ucap Farel.
Ajarin terdiam. Melihat badan Ajarin sangat kurus membuat nya curiga kalau Ajarin sakit.
"Kenapa badan mu sangat kurus? Jangan sampai Tuan Bagas melihat kamu seperti ini." ucap Farel dan langsung keluar.
Ajarin melihat tubuh nya di kaca. "Aku sudah kehilangan timbangan badan ku cukup banyak. Aku tidak nyaman di sini aku takut dan juga aku selalu kefikiran Akbar." batin Ajarin.
Di luar Farel marah-marah karena berfikir mereka tidak mengurus Ajarin. Itu sebabnya Ajarin sangat kurus sekali.
Dua Minggu sudah Bagas tidak datang ke rumah itu. Ajarin sudah mulai terbiasa, dia sudah bisa berbaur dengan beberapa pelayan dan dia juga sudah berani mulai berbicara.
Tidak terlalu sering hanya beberapa kali saja karena dia selalu menghabiskan waktu nya di lantai atas yang hanya ada dia di sana.
"Akbar apa kabar kamu dek? Bagaimana kamu di sana? Apa kamu sudah makan?" melihat makanan enak di atas meja yang baru saja dia masak.
"Kakak sangat merindukan kamu dek, maafin kakak yah gak bisa membawa kamu."
"Kakak akan mendoakan kamu di sana, kamu juga doakan kakak di sini yah." ucap nya sambil menangis.
Dia makan sedikit setelah itu sisa nya dia bawa ke bawah.
"Non sebaiknya non sesekali keluar dari atas. ikut kita bergabung di bawah. Kita bisa berkumpul hanya ketika tidak ada Tuan Bagas, kalau sudah ada kita tidak akan bisa berbicara." ucap Bibik.
Ajarin tersenyum. "Aku harus belajar menjahit bik." ucap Ajarin.
"Bawa saja ke sini non, kami akan membantu nya."
Ajarin menginyakan dia berkumpul dengan yang lain nya di bawah.
"Oh iya bik, Kalau boleh tau kenapa Tuan Bagas ingin memiliki istri yang pintar menjahit?" tanya Ajarin.
"Saya tidak tau Non Deng pasti non. Namun setau saya Tuan Bagas selalu ingin baju nya di jahit sendiri." ucap Bibik.
"Siapa yang biasa menjahit nya Bik?"
Bibik menunjuk ke arah pelayan yang paling Muda dan cantik di antara mereka semua.
Pelayan itu kurang akrab dengan Ajarin. Dia selalu saja menganggap Ajarin perempuan murahan hanya teman tidur bos nya itu sebabnya dia tidak menghargai Ajarin layak nya nyoya di rumah itu.
"Lalu kenapa tidak lanjut lagi bik."
"Beliau ketahuan menjahit pakaian dan menjual nya keluar. Tuan sangat marah." ucap Bibik.
Ajarin paham kalau semua milik Bagas tidak boleh di bagi-bagi.
Mereka menjahit. "Ya ampun tangan Non sudah banyak yang terluka. Jangan di paksakan non, perlahan saja." ucap Bibik.
"Aku kurang teliti bik." ucap Ajarin.
Bibik tersenyum. Dia mengelus kepala Ajarin.
"Seharusnya kamu tidak di sini Ajarin." ucap Bibik merasa iba melihat Ajarin. Apalagi wajah nya yang pucat.
Ajarin hanya diam saja.
"Tidak biasanya Tuan Bagas selama ini tidak datang ke sini? Aku yakin dia pasti tidak datang karena perempuan jelek itu." ucap Gori perempuan penjahit yang sudah janda itu.
Ajarin dan semua orang mendengar nya.
"Jaga bicaramu Gori." ucap pelayan yang lain.
Ajarin hanya diam saja.
Di sore hari nya Ajarin dan semua pelayan lain nya berada di taman.
"Ternyata bunga yang Non taman sudah tumbuh mekar." ucap Bibik. Ajarin tersenyum.
Ajarin melihat rumah di samping rumah itu. Sebenarnya dia sudah beberapa kali melihat nya namun dia tidak enak jika bertanya.
"Itu adalah rumah dari salah satu keluarga Tuan Bagas. Dulu rumah itu ada rumah orang tua Tuan Bagas, namun sekarang Orang tua Tuan Bagas sudah pindah dengan Tuan Bagas ke kota." ucap Bibik.
"Oohh. Sekarang di sana ada siapa bik?" Karena Ajarin masih bisa melihat ada mobil yang lalu lalang masuk ke halaman rumah itu.
"Itu sekarang jadi tempat bekerja Tuan Bagas, lebih tepatnya markas mereka." ucap Bibik.
Hari semakin malam. Ajarin kembali ke kamar nya.
Seperti biasa dia tidak akan bisa tidur sama sekali.
Sepanjang malam dia bergadang. Banyak harapan di pikiran nya yang tidak mungkin terjadi.
"Huff sudah waktunya aku tidur." Dia menaik kan tubuh nya ke kasur.
Di tempat lain.. Bagas baru saja membawa mamah nya pulang ke rumah.
"Mamah istirahat saja yah, kalau mamah butuh sesuatu langsung panggil aku saja." ucap Bagas kepada mamah nya setelah di kamar.
Mamah nya yang sudah tidak bisa berbicara dengan lancar hanya mengangguk.
Bagas keluar dia mencari istri nya ke kamar.
"Cindy! Apa maksud kamu tidak datang ke rumah sakit sama sekali?" tanya Bagas.
Cindy yang sedang enak nonton sambil maskeran melihat ke arah Bagas.
"Apa-apaan sih kamu datang-datang langsung marah?" ucap Cindy.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Jawab kenapa kamu tidak datang ke rumah sakit menjenguk mamah?" tanya Bagas.
"Kamu sudah ada di sana, lagian itu adalah mamah kamu, Lagian aku datang tidak bisa melakukan apapun, dia sana juga ada ada dokter." ucap Cindy.
"Mertua kamu sedang sakit bagaimana bisa kamu dengan santai menjawab hal itu!" ucap Bagas.
"Udah lah sayang, kenapa sih hal kecil selalu kamu besar-besarkan? Itu sebabnya aku malas bertemu dengan kamu, aku bosan seperti ini terus." ucap Cindy.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin kamu jangan melupakan kewajiban kamu sebagai menantu dan istri di rumah ini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Ismi Rianti
hmm begitu ya istri egois
2023-07-04
0