Bagas kembali ke kota

Ajarin mendorong Bagas dan berbaring di tempat tidur.

Ajarin mulai menggoda seperti yang di ajarkan Bibik kepada nya dan buku-buku yang dia baca.

Di sisi lain juga dia cukup bergairah kepada Bagas yang sangat tampan ketika menahan hasrat seperti itu.

Jujur saja wanita mana yang tidak akan menyukai ketampanan Bagas walaupun memiliki kepribadian yang di benci banyak orang.

Dan akhir-akhir ini Ajarin mulai suka kepada Bagas karena Bagas tidak sekejam awal.

Ajarin melayani Bagas malam ini dengan Cukup baik tidak seperti sebelumnya dia sudah rela tubuh nya menjadi milik suami nya itu.

Bagas sudah puas menyiksa badan mungil Ajarin.

Bagas sadar kalau Ajarin menangis karena menahan sakit.

"Saya sudah melakukan nya sebelum nya namun kenapa kamu masih merasa kesakitan?" tanya Bagas.

"Maaf kan saya Tuan."

Bagas hanya diam sambil melanjutkan aksi nya.

Tidak beberapa lama akhirnya selesai, Ajarin mau membersihkan diri ke dalam kamar mandi namun Bagas yang terbaring lemas menahan nya.

Dia membawa Ajarin ke pelukan nya mencium kepala Ajarin.

"Ajarin berikan saya anak," ucap Bagas karena tau Ajarin mau masuk ke kamar mandi sambil membuat hasil Bagas yang sudah dia masuk kan.

Ajarin tidak bisa bergerak akhirnya dia mematuhi permintaan Bagas.

Keesokan harinya Ajarin bangun dia tidak melihat Bagas di kamar.

Mau bangun namun badan nya sangat sakit sekali akhirnya dia memilih untuk berbaring sebentar.

"Non Ajarin..." Bibik masuk ke kamar.

"Iyah Bik kenapa?"

"Ini non sarapan untuk Non."

"Non tidak apa-apa kan?" tanya Bibik.

"Maksud Bibik?"

Ajarin seketika malu dan menutupi tubuh nya yang belum mengenakan baju.

"Saya sudah memberikannya obat di sini, Non istirahat saja karena Tuan sudah berangkat dari pagi tadi."

"Hah? sudah berangkat?" tanya Ajarin kaget karena tidak ada satu pun yang bilang kepadanya.

"Iyah non, semua Keponakan Tuan juga sudah kembali ke kota mereka dan kembali setelah Tuan datang lagi."

"Ya sudah kalau begitu saya keluar dulu yah Non."

Ajarin tiba-tiba terdiam, dia mengingat kejadian tadi malam.

"Huff kenapa harus memikirkan dia sih? Bukan nya seharusnya aku senang dia sudah tidak di sini?" ucap Ajarin.

Keesokan harinya Bagas sudah sampai di rumah nya. Orang tua nya sudah menunggu nya di ruang tamu.

"Bagas anak ku sayang, Mamah sangat merindukan kamu." ucap nya sambil memegang Bagas dengan sangat erat sekali.

"Aku juga sangat merindukan Mamah."

"Humm kenapa kamu sangat lama di sana nak? Apa di sana jauh lebih menyenangkan? Tidak biasa nya kamu sampai tiga bulan di sana."

Tiba-tiba Bagas teringat Ajarin.

"Humm hanya karena urusan kerja mah."

"Di sini juga kamu bekerja, bahkan lebih banyak pekerjaan yang ada di sini dari pada di sana."

"Di sini sudah bisa di urus oleh orang kepercayaan aku mah, sementara di sana aku harus mengurus nya sendiri."

"Cindy mana mah? Kok mamah sendiri saja?"

"Mamah juga tidak tau di mana istri kamu nak, sangat jarang ibu bertemu dengan dia, mungkin dia juga jarang pulang ke rumah." ucap Mamah nya.

Bagas menghela nafas panjang.

"Ya sudah kalau begitu kamu makan dulu yah nak, tadi Mamah sudah masak."

"Ya ampun mah, mamah tidak perlu repot-repot untuk memasak untuk aku." ucap Bagas.

"Mamah suka ketika kamu makan di rumah nak, Mamah sudah jarang melihat kamu makan di rumah."

Akhirnya Bagas makan masakan ibu nya itu.

Setelah beberapa lama akhirnya mereka selesai makan. Bagas melihat ibunya yang sangat merindukan dia.

Dia juga bisa merasakan ibu nya kesepian setelah Ayah nya meninggal.

Bagas tidak tau harus bagaimana lagi kepada ibu nya agar dia tidak kefikiran tentang ibu nya.

Dia berharap istri nya bisa menjaga Ibu nya namun ternyata tidak bisa.

Istri nya sendiri sibuk dengan urusan nya sendiri.

"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat gih, kamu pasti sangat capek."

"Iyah mah, mamah juga harus tidur siang sama suster."

Bagas mengantarkan ibu nya ke kamar untuk istirahat.

Setelah itu Bagas kembali ke kamar.

"Kamar ini dulu penuh dengan kehangatan sekarang semua nya sama sekali tidak terasa."

"Tok!! Tok!!" tok!!"

Ketukan pintu ruangan di saat dia Bagas baru saja selesai mandi.

"Masuk."

Cindy masuk.

"Akhirnya kamu pulang juga, apa kamu tidak tau kalau aku hari ini sampai di rumah? kenapa kamu membiarkan mamah sendirian?"

Cindy yang tadi nya tersenyum langsung cemberut.

"Kita baru saja bertemu namun kamu sudah membahas tentang mamah kamu lagi, aku sangat muak." ucap Cindy.

"Sayang aku tidak memaksa kamu menjaga Mamah, hanya saja setidaknya jangan biarkan mamah kesepian."

"Kan ada suster, kenapa harus aku sih, aku juga sibuk dengan urusan ku sendiri."

Bagas menghela nafas panjang.

"Baiklah aku minta maaf. Kemarilah aku sangat merindukan kamu," ucap Bagas.

Cindy mendekati Bagas dan mereka berpelukan.

"Kenapa kamu sangat lama di sana? Kenapa kamu tidak cepat pulang ke sini? aku juga sangat merindukan kamu." ucap Cindy.

"Seandainya kamu tau aku tidak pulang ke sini karena aku tidak mau kita ribut, aku tidak mau kesal dan Marah kepada kamu hanya karena masalah itu-itu saja," batin Bagas namun dia memilih untuk diam.

Di malam hari nya Bagas sama sekali tidak bisa tidur dia memikirkan Ajarin yang di tinggal kan oleh nya begitu saja.

Dia melihat Cindy tidur di lengannya. Bagas memilih untuk keluar dari kamar itu mencari angin.

"Ini sangat gila, aku sedang bersama istri sah ku namun kenapa pikiran dan hati ku selalu kepada Ajarin, seharusnya aku menikmati hari ini bersama orang yang aku cintai," batin Bagas.

Keesokan paginya Bagas bangun dia berjalan ke meja makan berharap ada kopi dan juga sarapan seperti di rumah singgah namun itu semua hanya harapan dia.

Dia melihat istrinya sudah rapi dan siap pergi.

"Sayang aku pamit dulu yah, aku hari ini akan cepat pulang." ucap Cindy mencium pipi Bagas dan pergi.

"Sudah-sudah kamu tidak perlu memikirkan nya, nih Mamah buatin kopi dan juga ini sarapan untuk mu."

Bagas duduk bersama mamah nya.

"Humm mamah selalu berfikir kalau suatu saat nanti kamu memiliki anak dan ibu pasti akan sangat senang sekali."

"Mamah yang sabar yah, nanti aku pasti bisa membahagiakan mamah."

"sudah tidak perlu terlalu di pikirkan, kamu hari ini punya waktu untuk menemani mamah keluar?"

"Mamah sudah tidak pernah keluar karena kamu tidak di sini."

"Aku selalu memiliki waktu untuk mamah, mamah mau kemana mau apa aku akan membeli kan nya."

Mamah nya sangat senang dan langsung bilang dia mau di bawa kemana.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!