Kedatangan Bagas

"Non kamu sudah menyiapkan perawatan di lantai bawah." ucap Bodyguard.

"Perawatan?" ucap Ajarin.

"Iyah non, tidak mungkin non seperti ini bertemu dengan tuan Bagas." ucap bodyguard nya.

"Huff aku harus bagaimana? Aku tidak ingin kebohongan ku Terbongkar, hanya dengan cara ini aku bisa di lepaskan dari sini." ucap Ajarin dalam hati.

Ajarin membuat alasan agar dia tidak jadi perawatan.

"Maaf yah semua nya, seperti nya aku sebaiknya merawat kulit ku sendiri, aku tidak terbiasa seperti ini." ucap Ajarin.

Semua nya terdiam sejenak. "Tapi.."

"Tidak apa-apa." ucap Ajarin.

Dua hari kemudian..

Hari ini jantung ajarin tidak berhenti berdetak dengan sangat cepat sekali. Dia benar-benar tidak tau harus apa dia sangat gelisah duduk di Ruang tamu.

"Hari ini Tuan Bagas akan datang, aku sangat takut sekali."

Dari luar terdengar suara seruan para pengawal memberi tau kalau Tuan Bagas sudah datang.

"Tuan Bagas sudah datang buka gerbang nya.." Semua nya langsung berlarian keluar membuat Ajarin heran.

"Kenapa semua nya pada berlari keluar?" tanya nya kepada salah satu pelayan.

"Tuan Bagas sudah pulang." ucap pelayan. "Apa saya juga harus ke depan?" tanya Ajarin.

"Sebaiknya non di kamar saja." ucap pelayan itu.

Bagas keluar dari mobil hitam nya. Dengan kacamata hitam, sepatu hitam serta pakaian yang serba hitam membuat nya semakin di takuti.

Badan tinggi besar dan hidung mancung kulit putih membuat nya terlihat sangat tampan.

Dia membuka kaca mata nya.

"Saya mendengar kalau perempuan itu sudah ada di sini, di mana dia?" tanya Bagas kepada Farel.

"Ada di kamar Tuan."

"Kenapa dia tidak menunggu ku di sini?"

Semua nya tidak bisa menjawab.

"Saya tidak sabar ingin bertemu dengan perempuan yang sudah saya beli itu." ucap Bagas.

"Kalau tidak sesuai dengan apa yang di inginkan oleh Tuan Bagas, habis lah aku." ucap Farel sedikit takut.

"Kenapa kamu diam saja? Antar kan saya bertemu dengan nya." ucap Bagas.

Farel mengangguk dia langsung berjalan terlebih dahulu.

"Tok!! Tok!! Tok!!"

Ajarin yang tadi baru saja menukar pakaian dan berdandan cantik seperti yang di suruh pelayan dia terkejut mendengar ketukan pintu.

Bagas tidak sabar dia langsung mendorong pintu. Dia kaget melihat ternyata di dalam kamar nya itu adalah seorang gadis muda yang berkulit gelap dan penampilan nya tidak di sukai oleh Bagas.

"Se-selamat datang tu-tuan." ucap Ajarin sangat gugup dan sangat takut.

Bagas melihat penampilan Ajarin dari atas sampai ke bawah.

"Ada apa ini Farel?" tanya Bagas dengan nada yang marah. "Maafkan saya Tuan, saya minta maaf." ucap Farel.

"Pria itu sudah membohongi kita, bisa-bisa nya dia bilang kalau anak nya cantik namun ternyata sangat jelek seperti ini." ucap Bagas dengan sangat lantang.

"Maafkan saya Tuan." ucap Farel.

"Cari Pria itu!" ucap Bagas mendorong Farel dan sangat marah sekali.

"Bisa-bisa nya kalian semua tidak bisa di andalkan, saya datang ke sini untuk menenangkan pikiran malah jadi seperti ini!" ucap Bagas.

"Ya Allah lindungilah aku, aku sangat takut." Ajarin sama sekali tidak berani menatap wajah Bagas.

Bagas Menatap wajah Ajarin.

"Siapa nama mu?" tanya Bagas. "Ajarin Tuan."

"Ajarin... Nama yang sangat tidak asing." ucap Bagas.

"Berapa umur mu?" tanya Bagas.

"19 tahun Tuan."

Bagas menghela nafas panjang.

"Apa kamu tau kamu ngapain di sini?" tanya Bagas. Ajarin diam.

"Saya bertanya kenapa kamu diam? Saya tidak suka dengan seseorang yang tidak mendengar kan perintah saya." ucap Bagas.

"Sa-saya tau Tuan."

"Apa?"

"Menjadi pelacur Tuan." ucap Ajarin dengan suara yang sangat bergemetar karena takut.

"Bagus kalau kamu tau. Saya sudah lama tidak merasakan sentuhan perempuan, berfikir awalnya kamu akan menarik perhatian saya namun ternyata melihat mu saja saya ingin muntah." ucap Bagas meludahi Ajarin.

Ajarin kaget namun dia berusaha untuk tetap diam saja.

"Apa kamu tidak pernah mandi?"

Ajarin diam saja.

"Humm walaupun kamu seperti ini, tetap saja kamu sudah masuk ke area saya dan kamu tidak akan bisa ke luar." ucap Bagas.

Ajarin kaget, dia berfikir Bagas Akan mencampakkan nya namun ternyata tidak.

"Maafkan saya Tuan, saya rela menjadi pelayan di rumah ini." ucap Ajarin.

Bagas tertawa mendengar itu. "Saya akan tetap menjadi kan kamu pelacur saya." ucap Bagas.

Ajarin kaget. Dia tidak menyangka kalau Bagas masih belum berubah pikiran.

"Tapi Tuan."

"Tidak ada satu orang pun yang bisa membantah kata-kata saya." ucap Bagas.

Ajarin langsung diam.

"Tunggu apa lagi? Berbaring lah dan tunjukkan keperawanan mu kepada saya." ucap Bagas.

Ajarin kaget dia mau menolak namun dia sangat takut. Perlahan dia naik ke kasur.

Badan Bagas sudah terasa panas dia langsung memaksa Ajarin membuka baju nya melempar kan nya ke kasur dengan kasar.

Ajarin tidak bersuara namun air mata nya tidak berhenti keluar.

"Tidak ada pemanasan Bagas langsung menghajar Ajarin.

"Aaarrggg Sakit....!!!" Ajarin berteriak namun mulut nya di tampar oleh Bagas dan menutup nya dengan keras.

"Apa seseorang pernah mencoba untuk mengambil keperawanan mu?" tanya Bagas sambil menghujani tubuh Ajarin.

"Maafkan saya Tuan."

"Saya membeli kamu cukup mahal, untung saja pria itu tidak berhasil mengambil keperawanan mu." ucap Bagas.

Pelayan mendengar Teriakan dari dalam kamar membuat mereka semua takut sekali.

Satu jam setengah badan Ajarin sudah sangat lemas dia tidak berdaya, sementara Bagas masih memiliki tenaga yang sama dari awal.

"Hentikan Tuan." ucap Ajarin. Bagas melepaskan Ajarin.

"Berani-beraninya kamu menyuruh saya!" ucap Bagas marah.

"Saya sudah tidak kuat."

Bagas tidak mendengar kan nya. Ajarin mengusahakan dia bergerak dia harus bisa memuaskan Bagas agar cepat selesai.

Dan setelah dia membalas belaian Bagas membuat Bagas sangat cepat terangsang.

Bagas sudah puas dia memeluk Ajarin.

"Walaupun wajah mu tidak cantik, namun badan mu sangat bagus dan juga wangi mu begitu harum." ucap Bagas memeluk Ajarin dari belakang.

Ingin rasanya sekarang Ajarin berontak namun dia tidak memiliki tenaga, seluruh badan nya terasa sakit semua.

Dia merasa semua penyamaran nya sia-sia, karena ulah nya dia merasa kesakitan, Bagas benar-benar menyiksanya sampai puas.

Ajarin hanya bisa pasrah membiarkan Bagas memeluk nya dari belakang.

Di Sore hari nya...

Ajarin terbangun dia melihat ke arah samping nya sudah tidak ada Bagas.

Dia lega Bagas tidak ada di sana.

Tidak beberapa lama Pelayan masuk.

Ajarin menarik selimutnya menutupi dada nya.

"Selamat sore non." ucap pelayan. Ajarin mengangguk.

"Ini ada obat untuk non makan, saya takut terjadi apa-apa sama non." ucap Pelayan.

Terpopuler

Comments

Ismi Rianti

Ismi Rianti

yaaallah semoga jadi istrinya yang sah dinikahi boleh juga tuh

2023-07-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!