"Aku tidak bercanda, aku serius."
"Jangan berbicara sore ini Cindy. Kita sangat sulit membangun rumah tangga namun hanya karena hal sepele kita akan bercerai? Apa kata orang tua kita nanti?"
"Aku tidak perduli, pokoknya aku ingin mamah pindah, aku tidak perduli dia mau pindah kemana. Kalau kamu tidak mau kita saja yang bercerai.
"Baiklah-baiklah kalau begitu, aku akan memikirkan nya, aku juga harus membicarakan ini kepada mamah."
Cindy menghela nafas panjang..
Waktu nya tidur Bagas melihat Cindy tidur di kasur.
Bagas mendekati Cindy dan mencoba memeluk nya, namun Cindy menolaknya.
"Aku sedang tidak mood, aku mohon jangan ganggu aku." ucap Cindy.
Bagas menghela nafas panjang.
Dia pun langsung berbaring di samping Cindy.
Keesokan paginya Bagas bangun tidak mendapati Cindy di samping nya.
"Selamat pagi Mah," sapa Bagas melihat mamah nya sedang duduk di lantai bawah bersama suster seperti biasa melakukan terapi agar badan nya selalu sehat.
"Cindy mana Mah?"
"Dia baru saja pergi di jemput teman nya."
Bagas menghela nafas panjang.
"Apa Mamah sudah sarapan?"
"Sudah nak, kamu sarapan lah."
"Mamah yang masak?"
Mamah nya mengangguk.
Bagas melihat ke arah meja makan sudah ada sarapan.
"Kenapa aku baru sadar kalau Cindy sangat jarang menyiapkan makan malam ku? Bahkan bisa dibilang tidak pernah," batin Bagas.
"Huff sudah lah tidak ada gunanya aku memikirkan itu."
Bagas benar-benar sudah tidak bisa lagi memaksa istri nya seperti apa yang dia mau.
"Aku tidak tau harus apa lagi untuk mengatakan apa lagi."
Di saat sarapan Bagas tiba-tiba kefikiran kepada Ajarin.
"Sial, Kenapa aku tidak berhenti memikirkan dia," batin Bagas.
Dia memutuskan untuk menghubungi Farel.
"Bagaimana keadaan di sana?" tanya Bagas.
"Baik Tuan, semua nya baik-baik saja."
"Humm bagaimana dengan..."
"Proyek dan juga pekerjaan di sini baik-baik saja Tuan, saya sudah mengirimkan laporan ke Gmail Tuan."
"Bukan tentang itu, saya mau menanyakan keadaan A."
"Apa Tuan?"
"Bagaimana dengan orang di rumah? Semua nya baik-baik aja kan?"
"Saya sudah dua hari tidak dari rumah Tuan, saya sangat Sibuk di rumah utama."
"Baiklah kalau begitu." ucap Bagas dan langsung mematikan sambungan telepon.
Farel menghela nafas panjang.
Bagas tiba-tiba ingat kalau hari ini dia ada jadwal meeting di kantor nya sekalian dia juga mau ke kantor nya.
Dia memilih pakaian nya sendiri di lemari.
"Sial kenapa aku tidak berhenti memikirkan wanita itu!" ucap Bagas.
Setelah selesai dan langsung melihat penampilan nya di cermin.
"Mamah benar-benar membuat aku seperti lima tahun lebih muda." batin Bagas
"Wahh anak Mamah sudah Tampan, kamu mau kemana nak?"
"Ada urusan di perusahaan mah, mamah di rumah dulu yah sama suster."
Setelah itu Dimas pergi.
Sudah dua Minggu Bagas di kota.
Ajarin di rumah singgah hanya bisa menikmati hari-hari nya yang begitu membosankan.
"Bagaimana keadaan Akbar sekarang? aku sangat merindukan dia." batin Ajarin.
"Non! Non!" tiba-tiba Bibik di luar berteriak sangat keras membuat Ajarin langsung keluar.
"Ada bik? kenapa Bibik berteriak?" Ajarin keluar dari atas dan ke bawah menyusul Bibik dan dia sangat kaget karena melihat adik nya di depan rumah bersama empat pengawal Bagas.
"Albar..." Ajarin seperti tidak percaya dia langsung memeluk nya ketika Akbar juga memanggil nama saudara itu.
Mereka berpelukan saling melepas kan rindu satu sama lain.
"Aku sangat merindukan kakak." ucap Akbar.
Ajarin membiarkan Akbar masuk ke dalam bersama Bibik sementara dia berbicara dengan Farel.
"Apa Tuan Bagas yang meminta Akbar di bawa ke sini?" tanya Ajarin.
"Keadaan Akbar di sana kurang baik, dia baru saja sembuh dan sekarang tidak sekolah lagi karena tidak ada yang perduli. Tuan Dimas mendengar berita itu, itu sebabnya saya di suruh membawa Akbar ke sini."
"Terimakasih banyak pak, saya berterimakasih banyak."
"Berterimakasih lah kepada Tuan Dimas, saya hanya melakukan pekerjaan saya."
Ajarin mengangguk setelah itu dia pun langsung masuk ke dalam melepaskan rindu nya melihat adik nya yang sudah sangat kurus itu.
Di malam hari Bagas dan ibu nya sedang duduk menonton TV.
"Mamah mau minun kopi?" tanya Bagas.
mamah nya mengangguk.
Bagas ke dapur mau membuat nya. Namun tiba-tiba teringat tentang pembicaraan nya dengan Farel yang sampai sekarang farel belum memberikan laporan.
"Apa dia berhasil membawa adik Ajarin? kenapa sampai sekarang belum ada laporan dari nya?"
"Bagas handphone kamu bunyi."
"Jawab saja Mah."
Mamah nya melihat nama kontak penelpon rumah singgah.
"Iya Halo."
Ajarin yang menelpon menggunakan telepon rumah terkejut karena yang menjawab perempuan dan seperti nya ibu-ibu.
"Maaf sebelumnya apakah ini nomor Tuan Bagas?"
"Iyah ini Orang tua nya, Bagas sedang di belakang, ini dari mana yah?"
Ajarin mengatakan kalau dia pelayan dari rumah singgah mau berbicara dengan Bagas.
"Siapa Mah?"
"Nama nya Ajarin mau berbicara dengan kamu."
Bagas kaget dia langsung mengambil handphone dan pergi keluar.
"Halo Tuan, saya minta maaf mengganggu waktu Tuan."
"Ada apa kamu menelpon saya?"
"Saya mau mengucapkan terimakasih kepada Tuan karena sekarang adik saya bersama saya."
"Hanya itu saja?"
"Saya dengar Bapak juga menebus dengan uang, saya minta maaf karena merepotkan Tuan."
"Baiklah." telpon langsung di matikan karena Bagas melihat Mamah nya menangis di ruang tamu.
"Loh kok mati?" Ajarin bingung.
"Mah! Mah, Mamah kenapa?"
"Ternyata kamu masih sering ke rumah itu? Kenapa kamu membohongi mamah?"
"Bukan begitu mah. Mah aku bisa menjelaskan nya."
Bagas mencoba jujur kalau rumah itu masih ada tidak ada yang berubah dan selama ini dia di situ.
"Mamah ingin ke sana, mamah mau ke sana."
"Tapi mah, aku takut mamah akan depresi kalau ke sana."
"Nak mamah sangat ingin berjiarah ke makam Papah kamu."
Bagas ragu membawa mamah nya, namun tetap saja Mamah nya mau pergi.
"Aku akan memikirkan nya lagi mah."
"Pokoknya mamah mau ikut kamu Besok ke sana."
"Tapi aku masih lama di sini mah."
"Kalau begitu mamah akan berangkat sendiri."
Bagas menghela nafas panjang.
"Mamah jangan gegabah mah, mamah tidak ingat kalau mamah sangat mudah sakit kalau sudah sedih."
"Sekarang mamah sudah sehat, Mamah percaya kalau mamah bisa, mamah tidak mau merepotkan kamu ataupun Cindy."
Bagas tersenyum dia langsung memeluk Mamah nya.
"Terimakasih banyak mah sudah banyak mengerti aku dengan Cindy."
"Bagaimana? apa kamu sudah memikirkan memilih mamah atau aku?" tanya Cindy di kamar.
Bagas menghela nafas panjang.
"Baiklah aku akan mengantar kan Mamah keluar dari rumah ini agar kamu puas dengan satu syarat dengan secepat nya kita harus memiliki anak."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments