Pertemuan Bagas dengan Pak Sorkam

Ajarin Hanya diam.

"Dari kemarin sore non tidak keluar dari kamar, bahkan tidak makan malam. apa Non baik-baik saja?" tanya Bibik.

"Ya ampun itu saja di khawatir kan, sebaiknya khawatir kan Tuan Bagas." ucap pelayan yang tidak suka kepada Ajarin.

"Aku tidak berselera makan bik."

"Kalau begitu Non sarapan dulu yah, jangan sampai Non sakit, lihat lah wajah non sangat pucat." ucap Bibik.

Bagas baru saja keluar dari kamar dia langsung turun ke bawah.

"Selamat pagi Tuan.." Semua nya berdiri rapi menyambut Bagas.

"Tuan tidak sarapan dulu?" tanya Ajarin melihat Bagas buru-buru keluar rumah. Namun Bagas berhenti ketika mendengar suara Ajarin.

"Saya tidak lapar."

"Tapi tidak boleh melewatkan Waktu makan Tuan." ucap Ajarin. Bagas mendekati Ajarin.

"Kamu paham dengan kata-kata saya tidak? Saya sudah bilang saya tidak lapar!" ucap Bagas dengan nada tinggi dan menatap Ajarin.

Ajarin terdiam. Bagas menoleh ke arah Meja makan.

Terlihat sangat berbeda dari biasanya.

Dia mendekati nya.

"Makanan apa ini?" tanya Bagas.

"Saya yang memasak nya Tuan, saya melihat Tuan tidak berselera makan lauk itu-itu saja, saya memasak makanan yang lain. Rasa nya enak kok Tuan." ucap Ajarin.

"Brak!!! Semua makanan tumpah di atas lantai semua orang terkejut termasuk Ajarin.

"Jangan pernah memasak makanan yang menjijikan seperti itu!" ucap Bagas dan setelah itu pergi.

Ajarin terdiam dia melihat semua nya sudah berserakan di atas lantai.

Dia membersihkan semua nya dan setelah itu dia melakukan bersih-bersih dan melanjutkan menjahit.

Jas untuk Suami nya hari ini sudah jadi dia tidak menyangka ternyata dia bisa membuat jas yang sangat bagus.

Dia sendiri saja sangat takjub dengan keajaiban yang di lakukan oleh tangan nya itu.

"Selamat pagi Tuan." Sapa Farel.

"Pagi... apa tamu kita sudah datang."

"Selamat pagi...." Tiba-tiba pria paruh baya datang. Setelan jas warna Hitam, berbadan kekar berjenggot dan di kawal banyak pengawal.

Bagas dan Farel melihat Pria itu datang.

"Kenapa? Ada apa dengan wajah mu Bagas?" tanya pria itu.

"Paman Sorkam!" ucap Farel.

Pria itu tertawa.

"Ada apa? Kenapa kamu diam dan terlihat terkejut seperti itu?" tanya Pak Sorkam.

"Ada urusan apa anda datang ke sini?" tanya Bagas.

"Saya mendengar kalau kamu baru saja di tipu dan omset penjualan kamu berkurang drastis." ucap Pak Sorkam.

"Berita sangat cepat tersebar." ucap Bagas sambil tersenyum tipis dan licik.

"Saya tidak akan berhenti mengganggu kamu sebelum kamu memberikan surat tanah itu kepada saya." ucap Pak Sorkam. Bagas tertawa.

"Saya sudah menduga nya." ucap Bagas.

"Kembali kan surat itu." ucap Pak Sorkam.

"Tidak semudah itu pak, saya sudah mengincar tanah ini cukup lama, dan saya sudah mendapatkan nya bersusah payah."

Pak Sorkam terlihat sangat emosi.

"Keluar dari sini dan jangan pernah kembali ke sini." ucap Bagas.

Pak Sorkam tidak mau emosi di area Bagas akhirnya dia memilih untuk pergi dengan keadaan emosi.

"Sial! Bagaimana bisa dia tau masalah ku?" ucap Bagas sangat marah.

Sepanjang hari Bagas tidak berhenti marah-marah. Semua anggota nya sudah terbiasa mereka tidak akan heran. Mereka hanya menuruti semua perintah bos nya.

Di sore hari nya lagi-lagi mamah nya menelpon.

"Halo mah." ucap Bagas.

"Kamu di mana nak?" tanya Mamah nya.

"Masih di kantor Mah."

"Oohh Mamah sangat kesepian di rumah nak, maaf yah Mamah menganggu kamu, kalau kamu masih bekerja matikan saja nak."

"Gak apa-apa mah, ini baru saja selesai. Apa Mamah sudah makan?"

"Belum nak, Mamah tidak berselera makan."

"Bagaimana dengan kamu? Apa kamu sudah Makan?"

"Belum Mah."

"Kalau begitu makan lah nak, jangan telat makan, nanti kamu bisa sakit." ucap mamah nya.

"Iyah mah, aku akan makan."

"Bibik sudah manggil mau makan, Mamah tutup dulu yah." ucap Mamah nya.

"Cindy gak di rumah mah?" tanya Bagas.

"Di rumah hanya sebentar saja nak. Mungkin pergi kerja." ucap mamah nya.

"Oohh ya udah kalau begitu mah, makan yang banyak jaga kesehatan." ucap Bagas telpon pun langsung mati.

Bagas menghela nafas panjang. Dia menelpon istri nya.

"Halo sayang aku lagi meeting kenapa kamu menelpon aku sih?"

"Sayang.. Mamah masih kurang sehat, apa kamu tidak bisa libur untuk menjaga dia di rumah?"

"Bisa gak sih kamu gak nyuruh aku untuk menjaga mamah kamu? Kalau kamu mau menjaga dia ya jaga sendiri saja." ucap Cindy.

"Aku harus bekerja Cindy."

"Sudah yah, aku tidak mau debat soal ini saja. Aku mau fokus bekerja." ucap Cindy dan mematikan telepon nya.

Bagas menghela nafas panjang.

"Farel siap kan mobil saya akan kembali ke rumah singgah." ucap Bagas.

Farel menginyakan dia pun langsung keluar.

Farel melihat Bagas yang duduk di belakang sangat lesu.

Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.. Melihat Bagas datang semua nya berkumpul.

"Non Ajarin kemana? Kenapa dia tidak turun!" ucap Bibik. Tidak ada Ajarin.

Bagas masuk seperti biasa tidak memasang ekspresi apapun atau mengatakan apapun.

Namun Bagas langsung mencari Ajarin karena tidak melihat Ajarin. Belum bertanya namun Bibik sudah mengatakan kalau Ajarin mungkin lagi di ruangan jahit.

Bibik menawarkan diri untuk menanggulangi namun Bagas menahan nya. Dia akan pergi sendiri.

Bibik sangat khawatir Kalau Bagas akan marah.

Bagas mendekati pintu ruangan jahit. Pintu yang tidak tertutup sempurna dia masuk ke dalam.

Dia melihat ternyata Ajarin ketiduran di meja jahit.

"Hehh Apa yang kamu lakukan?" tanya Bagas. Ajarin kaget dia Hampir saja jatuh karena Kursi nya goyang.

Namun Bagas menangkap tangan Ajarin.

"Kamu bisa berhati-hati tidak?" tanya Bagas. Ajarin minta maaf dia menunduk kan kepala nya.

"Kamu sadar sudah melakukan kesalahan?" tanya Bagas.

"Maaf Tuan, saya ketiduran sehingga tidak tau kalau tuan pulang."

Bagas menghela nafas.

"Saya sangat tidak suka dengan kelalaian, saya tidak suka dengan keterlambatan dan tidak melakukan tugas nya dan kamu sudah membuat saya marah." ucap Bagas.

Ajarin diam menunduk walaupun kaki nya sudah bergemetar.

Bagas mau marah namun mata nya tertuju kepada Jas yang terpaksa di patung.

Dia mendekati nya.

"Kemari!" ucap Bagas. Ajarin mendekati nya.

"Apakah Jas ini sudah selesai?" tanya Bagas.

"Sudah Tuan. Saya baru saja menyelesaikan nya."

Bagas langsung mencoba nya.

Dia berdiri di depan cermin.

"Maaf Tuan." Ajarin berdiri di depan Bagas dan merapikan kerah Bagas dan juga mengancing bagian lengan.

"Bagaimana tuan? Apa Cocok dengan selera tuan?"

Bagas tidak menjawab dia menatap Ajarin.

"Saya ingin kamu membuat jas lagi yang lebih bagus dari ini, jangan lama!" ucap Bagas.

Terpopuler

Comments

Ismi Rianti

Ismi Rianti

waw terpesona

2023-07-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!