"Udah lah sayang, kenapa sih hal kecil selalu kamu besar-besarkan? Itu sebabnya aku malas bertemu dengan kamu, aku bosan seperti ini terus." ucap Cindy.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin kamu jangan melupakan kewajiban kamu sebagai menantu dan istri di rumah ini."
Bagas tidak bisa marah kepada istri nya.
"Sudah berapa lama aku menjadi istri kamu sayang? Aku bosan setiap hanya mengurus orang tua kamu." ucap Cindy.
"Kamu sendiri yang membuat semua nya seperti ini, kalau kamu memberikan aku anak tidak mungkin mamah sampai sakit seperti ini." ucap Bagas.
"Anak lagi, anak lagi! Kamu tidak berhenti yah membahas anak. Aku muak mendengar nya. Aku pergi saja." Cindy bergegas pergi.
"Kamu mau kemana Cindy? Aku belum selesai berbicara!" ucap Bagas mengejar nya keluar.
"Aku muak di sini, aku tidak betah di rumah yang isi nya hanya menyalah kan aku semua." Cindy pergi.
"Huff Tuan dan Nyonya setiap bertemu pasti berantem terus, bagaimana ibu tidak tambah sakit kalau seperti ini." ucap Pelayan.
Bagas menghela nafas panjang.
"Oki Tolong perhatikan Ibu saya, saya sangat lelah." ucap Bagas. Oki si ketua pengawal menginyakan.
Baru saja dia berbaring di tempat tidur handphone nya berdering dari Asisten nya Farel.
"Halo Tuan "
"Iyah ada apa?"
"Saya sudah mengirimkan laporan keadaan di Markas, dan juga saya menyempatkan singgah ke rumah persinggahan melihat keadaan istri Tuan." ucap Farel.
"Baiklah saya akan memeriksa nya."
Sambungan telepon langsung mati.
Bagas membuka laptop nya dia melihat laporan semua nya cukup baik di sana.
"Tidak terasa sudah dua Minggu lebih aku tidak ke sana." ucap Bagas.
Di situasi seperti ini ingin rasanya dan pergi kesana mencari situasi yang nyaman dan menenangkan.
Namun keadaan tidak mengijinkan ibu nya baru saja pulang tidak mungkin dia meninggalkan nya.
Dia melihat beberapa Foto Ajarin.
"Saya sudah menduga kalau dia perempuan yang polos, tidak mungkin dia akan kabur." ucap Bagas.
Keesokan harinya Bagas mengurus ibu nya dengan baik.
"Cindy mana nak? kenapa mamah belum melihat nya dari tadi?" tanya ibu nya yang sedang duduk di kursi roda sambil d suapin oleh Bagas.
"Masih di kamar Mah, mungkin dia tidak ingin keluar. Sudah tidak perlu perduli kan dia." ucap Bagas.
"Suruh dia sarapan nak." ucap mamah nya.. Bagas menginyakan saja.
"Apa kalian bertengkar lagi karena mamah?" tanya ibu nya. Bagas menggeleng kan kepala nya.
"Jangan bertengkar nak, ibu tidak suka mendengar nya. Kalau kalian banyak bertengkar bagaimana kalian di beri momongan?" ucap Mamah nya karena sampai sekarang Bagas masih menyembunyikan istri nya yang tidak mau memiliki anak.
"Enggak kok mah, Mamah jangan khawatir yah."
"Kamu juga jangan pergi-pergi nak, sudah cukup selama ini kamu pergi-pergi." ucap Mamah nya.
"Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan Mah." ucap Bagas. Mamah nya menghela nafas panjang.
"Kamu juga di usia sekarang seharusnya banyak istirahat nak." ucap mamah nya.
"Iyah mah, aku mengerti kok, terimakasih mamah sudah perhatian kepada ku." cara Bagas.
Dua hari mamah nya di rumah sudah lebih baik.
"Mamah sudah bisa jalan?" tanya Bagas. Mamah nya tersenyum sambil mengangguk.
"Ini semua berkat kamu nak. kamu mengurus mamah Sampai sembuh." ucap mamah nya.
Bagas tersenyum. "Oh iya mah aku mau bilang kalau malam ini aku harus berangkat ke markas." ucap Bagas.
"Ngapain kamu ke sana nak? Mamah baru saja sembuh." ucap Mamah nya. "Mah sudah lama aku tidak memeriksa kerjaan yang di sana."
Mamah nya terdiam lesu dan juga sangat sedih.
"Kamu tidak pernah mau tinggal di rumah Satu bulan, kamu selalu saja pergi keluar kota. Mamah Heran deh sama kamu." ucap Mamah nya.
Bagas diam. "Sebaiknya mamah sakit saja terus agar kamu di sini. Mamah sangat kesepian." ucap Mamah nya.
"Jangan berbicara seperti itu Mah." ucap Bagas.
"Maka nya kamu tinggal lah di sini." ucap Mamah nya.
"Sejak kapan aku betah di rumah mah? Aku anak laki-laki mah, aku yang harus menanggung semua nya mana mungkin aku bisa berdiam diri di rumah." ucap Bagas.
Dia menatap wajah ibunya. Dia menyakinkan semua nya baik-baik saja.
Bukan hanya satu kali Bagas harus menghadapi ibu nya yang seperti itu, setiap dia di rumah ada saja yang membuat pekerjaan nya tertunda.
"Adik perempuan mu kapan Akan kembali nak?" tanya Mamah nya.
"Aku tidak tau Mah, aku akan menanyakan nya nanti." ucap Bagas. Mamah nya tersenyum.
Setelah selesai berbicara dengan mamah nya dia kembali ke kamar nya dia menelpon adik nya yang ada di Inggris.
"Halo kak, kenapa kakak menelpon ku?" tanya Tania.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kakak menelpon kamu tentu ingin tau kabar kamu." ucap Bagas.
"Aku sedang sibuk kak." ucap Tania.
"Mamah bertanya Kapan kamu akan pulang." ucap Bagas.
"Huff aku sudah bilang kalau aku tidak akan pulang Kak, aku sudah betah di sini, aku juga tidak mau bertemu dengan Mamah." ucap Tania.
"Kamu jangan berbicara seperti itu Tania, sekarang mamah sedang sakit." ucap Bagas.
"Kan sudah ada kakak di sana." ucap Tania.
Telpon langsung mati. Bagas kesal dia menjambak rambut nya.
"Huff semua orang sangat tidak memiliki pikiran!" ucap Bagas.
Di malam hari nya istri nya baru saja pulang.
"Kamu dari mana saja jam segini baru pulang?" tanya Bagas kepada istri nya.
"Habis ngumpul sama teman-teman seperti biasa." ucap Cindy.
"Kamu sudah menikah dengan ku delapan tahun namun kamu tidak pernah berubah! Kamu hanya bisa menghambur kan uang sesuka hati mu saja!" ucap Bagas.
"Jadi kamu tidak ikhlas aku memakai uang mu? Kalau kamu tidak ikhlas aku akan meminta kepada ayah ku." ucap Cindy.
Bagas menghela nafas panjang. "Bukan itu yang aku permasalah kan sekarang, aku hanya ingin kamu mengerti dengan tugas kamu sayang." ucap Bagas.
Cindy menghela nafas panjang. "Baiklah."
"Kamu mau kemana?" tanya Cindy melihat Bagas rapi dan juga sudah membawa tas baju.
"Saya akan ke Markas." ucap Bagas.
"Oohh."
"Kamu sama sekali tidak keberatan?" tanya Bagas.
"Kamu kerja kan ke sana? kamu juga harus mengurus pekerjaan kamu yang ada di sana, aku tidak mau mengganggu pekerjaan kamu." ucap Cindy.
Bagas menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau begitu aku titip mamah, kabarin aku kalau terjadi apa-apa." ucap Bagas Mencium kening Cindy memeluk nya dan pergi.
Bagas mengendarai mobil sendiri dan di kawal dua mobil dari belakang.
Kali ini dia ingin meluapkan semua isi pikiran nya dengan cara berkendara sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Ismi Rianti
menyedihkan begitu Bagas bos besar pantesan aja wanita diluar sana incaran nya
2023-07-04
0
Ismi Rianti
Awet rajet
2023-07-04
0