Episode 10

Bagas setelah selesai sarapan dia pergi ke markas untuk memeriksa pekerjaan nya.

Sampai di sana dia juga marah-marah, semua orang bingung apa yang membuat bos nya marah.

"Tuan permisi, ada telpon dari Orang tua Tuan." ucap Farel.

Bagas menghela nafas panjang. "Semua nya kembali bekerja." ucap Bagas dia membawa handphone nya ke ruangan nya dan berbicara dengan Ibu nya.

Beberapa kali dia menghela nafas panjang agar emosi nya reda.

"Iyah Mah.." dia menjawab telpon dari ibu nya.

"Kenapa sangat lama menjawab telpon mamah nak?" tanya Mamah nya.

"Aku lagi kerja mah. Aku minta maaf." ucap Bagas.

"Kapan kamu sampai ke sana nak? Kenapa tidak mengabari Mamah?" tanya Ibu nya lagi.

"Aku sampai subuh tadi mah."

"Ya ampun nak, kenapa sih kamu harus memaksakan diri? Kamu seharusnya istirahat terlebih dahulu." ucap Mamah nya.

"Mamah tidak perlu khawatir yah, aku di sini bisa istirahat kok." ucap Bagas.

"Kapan kira-kira kamu akan mengajak Mamah ke sana?" tanya Mamah nya. Radit menghela nafas panjang.

"Kenapa diam?"

"Tunggu mamah sembuh total yah, tunggu situasi nya membaik terlebih dahulu." ucap Bagas.

"Situasi apa?" tanya Mamah nya. Bagas tidak tau mau menjawab nya bagaimana.

"Aku akan membawa mamah ke sini kalau mamah sudah sembuh." ucap Bagas.

"Baiklah mamah akan menunggu janji kamu."

"Ya udah kalau begitu Mama lanjut istirahat yah, aku mau lanjut kerja." ucap Bagas.

"Istri kamu kemana nak? Kenapa dari semenjak kamu pergi dia tidak pulang."

"Aku akan menghubungi nya nanti mah, biarkan saja. Mungkin dia lagi ada kerjaan." ucap Bagas.

"Baiklah nak. Kamu jaga kesehatan yah." ucap mamah nya.

"Ya sudah kalau begitu Mah." Telpon langsung mati. Bagas mencari nomor istri nya.

"Halo, ada apa sayang?" tanya Istri nya Cindy.

"Kamu di mana? Mamah bilang kamu tidak pulang malam tadi." ucap Bagas.

"Huff mamah kamu sangat pengadu sekali. Aku lagi ada job pekerjaan." ucap Cindy.

"Kamu kabarin aku dan mamah dong sayang, kamu tidak boleh sesuka hati seperti ini." ucap Bagas.

"Bisa gak sih masalah kecil jangan di perbesar? Aku capek aku mau istirahat." ucap Cindy langsung mematikan handphone.

Bagas menghela nafas. "Apa uang ku masih kurang untuk mu sehingga kamu harus bekerja seperti ini? Aku bekerja keras seperti ini demi kamu dan juga mamah." batin Bagas.

Bagas menutup mata nya dan bersandar ke sandaran kursi.

"Tuan.. mobil sudah siap." panggil farel.

Bagas langsung keluar dari ruangan nya dia memiliki pekerjaan keluar hari ini.

Mendengar Bagas keluar Ajarin sangat senang dia sangat lega.

Di Sore hari nya mau mandi.

"Apakah aku harus menghilangkan kebohongan ku ini? Percuma saja aku melakukan ini." ucap Ajarin.

Akhirnya dia memutuskan untuk tampil dengan kulit nya yang sebenarnya.

Baru saja selesai mandi tiba-tiba Bagas pulang. Ajarin yang tadi nya sedang menjadi di karpet kamar nya langsung berdiri karena kaget bagas membuka pintu.

Bagas melihat Ajarin. Bagas memerhatikan dari bawah sampai ke atas.

"Kenapa wajah perempuan ini tidak asing." batin Bagas.

"Ternyata kamu sudah membersihkan kulit ku yang sangat menjijikkan itu!" ucap Bagas.

Ajarin diam menunduk kan kepala nya.

Bagas mendekati Ajarin dia menaik kan rahang Ajarin dengan kasar.

"Apa kamu sudah telat?" tanya Bagas.

Ajarin bingung dia tidak tau apa yang di maksud oleh Bagas.

"Jawab!"

"Maksudnya tuan?"

"Apa kamu sudah datang bulan?" tanya Bagas dengan nada yang menekan. Ajarin seketika langsung paham pertanyaan Bagas menuju ke mana.

"Saya sedang datang bulan sekarang tuan." ucap Ajarin. Bagas langsung mendorong tubuh Ajarin dengan kasar.

"Sialan!" ucap Bagas.

Dia seperti enggan untuk berhubungan dengan Ajarin lagi, namun mau bagaimana pun dia bersyukur karena yang dia lakukan tidak menjadi anak, pada saat itu ajarin belum menjadi istri nya."

"Saya mau mandi." ucap Bagas. Ajarin langsung ke kamar mandi dan menyiapkan air mandi.

Setelah itu dia keluar. "Tuan Air mandi nya sudah siap." ucap Ajarin. Namun ternyata Bagas Tertidur di kasur.

"Tuan Bagas kenapa malah tidur?" batin Ajarin. Dia sangat bingung mau membangun kan nya atau tidak.

Karena tidak berani akhirnya dia diam saja, dia menunggu Bagas sampai bangun.

Namun semakin malam Bagas semakin nyenyak tidur.

Ajarin melihat jam. "Tidak mungkin Tuan jam segini bangun, sebaiknya aku bersihkan saja badan nya agar lebih nyaman tidur nya." ucap Ajarin karena dia merasa itu sudah menjadi tugas nya.

Perlahan dia membuka sepatu Bagas. Bagas bergerak sedikit saja sudah membuat jantung Ajarin berdetak begitu cepat sekali.

Namun perlahan-lahan dia sudah bisa membersihkan badan Bagas yang tentunya terasa lengket dan sangat menggangu.

Setelah selesai Ajarin kembali melanjutkan menjahit nya. Sudah tengah malam namun mata nya tidak kunjung bisa tidur.

Ajarin sangat takut karena Bagas ada di sana.

"Huff aku harus bagaimana ini?" ucap Ajarin bingung.

Akhirnya dia tidur di karpet saja. waktu demi waktu akhir nya dia mengantuk juga.

Di pagi hari nya seperti biasa Bagas selalu bangun di pagi hari.

Dia melihat tubuh nya sudah di kasur. Memeriksa jam mengingat kembali kejadian sebelum dia tidur.

Bagas baru sadar kalau ternyata Baju nya sudah ganti dan juga tubuh nya sudah bersih.

Dia mencari Ajarin di tempat tidur nya namun tidak ada. Bagas duduk dia melihat Ajarin tidur menyamping kedinginan di karpet.

"Aku tidur dari Sore sampai pagi, ini sangat mustahil sekali." ucap Bagas. Ajarin melihat Bagas sudah bangun dia pun langsung bangun.

Walaupun kepala nya rada-rada pusing dan juga badan nya begitu berat dia langsung bangun agar Bagas tidak marah.

"Kalau Tuan mau mandi saya sudah menyiapkan Air mandi." ucap Ajarin. Bagas tidak mengatakan apapun dia turun dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi.

Ajarin keluar dari kamar. Semua mata pelayan melihat ke arah dia.

"Kenapa yah Bik?" tanya Ajarin.

"Ini benar Non Ajarin kan? Kami tidak salah lihat kan?" tanya Bibik. Ajarin baru sadar kalau sekarang dia sudah tidak berkulit hitam lagi.

"Iyah bik ini aku."

"Ya ampun non, non sangat cantik sekali. Kenapa non harus berbohong?" ucap Bibik.

Ajarin Hanya diam.

"Dari kemarin sore non tidak keluar dari kamar, bahkan tidak makan malam. apa Non baik-baik saja?" tanya Bibik.

"Ya ampun itu saja di khawatir kan, sebaiknya khawatir Tuan Bagas." ucap pelayan yang tidak suka kepada Ajarin.

"Aku tidak berselera makan bik."

"Kalau begitu Non sarapan dulu yah, jangan sampai Non sakit, lihat lah wajah non sangat pucat." ucap Bibik.

Terpopuler

Comments

Ismi Rianti

Ismi Rianti

dilema hidup

2023-07-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!