Perkara Jodoh

Saat ini semua keluarga besar tengah berkumpul.

Para sepupu datang bersama suami dan anak-anak mereka dan double killnya mereka itu lebih muda dari Utari tapi sudah punya anak 3.

"Kakak sudah lama sekali tidak pulang. Sekalinya pulang sudah glowing sekali kelihatannya, masyaallah. Kakak udah adakah calon kakak ipar kami ini?" tanya Rosi salah satu adik sepupu Utari.

"Iya loh Kak, masa cakep-cakep pulang di lebaran kali ini masih sendiri?" tanya salah satu adik sepupu yang bernama Dila.

"Do'akan saja yang terbaik, semoga bisa segera menyusul kayak Dila dan Rosi," kata Utari dengan senyuman yang di buat sesantai mungkin.

"Bukan begitu Nak, ngak baik terlalu memilih. Sekarang laki-laki itu sedikit, jangankan buat di pilih dapat nikah dengan laki-laki saja sudah bersyukur," kata Wak selaku Ibu dari Rosi.

Hal itu sungguh membuat Utari makin miris, hal ini juga yang membuat Utari makin betah di rantau. Selain ocehan yang menyebalkan begini, oh Tuhan. Demi Allah, Utari bahkan baru pulang setelah 6 tahun dan sambutannya adalah perkataan sinis kapan punya suami.

"Satu hal lagi nih Kak, aku jujur-jujuran saja pada Kak Utari. Kak Utari tahu persis bagaimana aku sedari dulu bukan?" kata Adi yang membuat Utari merasakan firasat makin tidak enak.

"Gini loh Kak, aku tahu kalau Kak Tari itu berpendidikan tinggi dan seorang Dosen tapi ngak baik terlalu pemilih. Nanti yanga ada Kakak belum nikah tapi udah menopause," kata Adi dan berhasil mengubah raut wajah Tari dan Ibu.

Maknin dan Tante Maknin juga merasa tidak enak perasaannya. Bukan apa-apa, selama ini Utari sudah banyak membantu ketika keluarga dalam kesusahan. Apalagi perkara uang Utari tidak pernah hitung-hitungan, bahkan biaya anak Adi dan istrinya lahiranpun Utari yang membantunya. Tapi sekarang apa yang Adi katakan pada Utari.

"Sekarang begini saja simplenya, sebenarnya aku ngak mau bahas ini tapi karena dari tadi banyak yang bilang jujur-jujuran jadi ayok kita bermain jujur," kata Utari pada keluarganya.

"Sedari tadi aku sakit hati dan tersinggung mendengar pertanyaan dari adik-adik sepupu dan juga yang Wak berikan. Begini sajalah aku mau tanya bertanya pada Wak, Adi, Rosi dan Dila. Apakah Wak dan yang lainnya beli baju pilih-pilih dulu? Lihat harga? Lihat modelnya apakah pas di badan atau tidak? Lihat motifnya apakah sesuai selera apa tidak?" tanya Utari.

"Ya pasti milihlah Kak, ngak mungkin badab ku yang kurus begini beli baju besar ngak ketulungan bisa tenggelam aku," kata Adi.

"Pakaian memang wajib di pilih Kak, itukan penunjang penampilan. Kalau pakai-pakaian yang tidak sesuai bisa malu dan parahnya kalau ngak muat di badan itu kan jadi bahaya," kata Rosi.

"Pakaian aja kita pilih, apalagi pasangan hidup? Yang nantinya akan menemani kita hingga akhir hayat. Jika ke pilih pria yang suka main tangan bagaimana? Siapa yang mau bertanggung jawab? Jika menikahi laki-laki yang tidak sholat siapa yang akan bertanggung jawab? Allah saja dia tinggalkan apalagi kita yang hanya hambanya Allah, dengan segala kekurangan yang bahkan tidak terkira banyaknya? Siapa yang bisa menjamin?" tanya Utari dengan nada yang di tahan-tahannya agar tidak terlihat jika dia tengah marah. Tapi meski begitu Utari lupa menyembunyikan sorot matanya yang tajam.

"Bicara mengenai pernikahan? Siapa yang tidak ingin tidak menikah? Tidak ada, akupun ingin segera tapi mungkin jodohku sedang memperbaiki diri jadi yang harus aku lakukan adalah memperbaiki diri juga," kata utari seraya mengambil minuman manis di tengah-tengah mereka lalu berlalu ke dalam kamarnya.

Utari sudah tidak mood dengan omongan julid para adik-adik sepupunya perkara dia yang sudah berusia 30 tahun belum juga menikah. Apa masalahnya coba belum menikah di usia 30 tahun? Bahkan Lee Dong Wook aja juga belum menikah meski usianya sudah 40 tahun. Apa yang kurang dari Lee Dong Wook? Tampak iya! Kaya iya! Punya pekerjaan baguspun juga iya! Begitulah dunia beserta para manusianya, mereka kekurangan pekerjaan hingga lebih baik jika mereka mengurusi hidup orang lain.

Utari membuka laptop kesayangannya yang sudah menerbitkan lebih dari seratus buka hasil karangan menggunakan laptopnya yang bergambar Jimin Oppa sang kesayangan. Jangan lupakan dari ratusan novel yang di di bukukan sudah 15 novel yang di filmkan. Apakah Ibu tahu? Jawabannya sangat di sayangkan Utari merahasiakan ini dari sang Ibu.

Utari memilih melanjutkan tulisan demi tulisannya. Hingga satu jam berlalu, dan tiba-tiba ada segelas susu hangat di depan Utari lengkap dengan potongan buah.

"Nak, minumlah dulu. Sedari pagi kamu sudah sibuk, bahkan belum sempat makan..." kata Ibu. Ya Utari mau merenovasi rumah sang Oma dan tadi Tari bersama Maknin dan berkeliling mencari bahan dan juga biaya anggaran semua yang di perlukan.

"Maafkan pertanyaan yang menyakitimu hari ini Nak, mereka hanya tidak tahu apa yang kamu rasa dan apa yang kamu takutkan. Kita semua boleh sama-sama memiliki kepala, tapi tidak semua isi kepala kita sama," kata Ibu pada Utari.

Utari awalnya hanya menatap sang Ibu sekilas, tapi setelahnya Utari memeluk Ibunya erat dan Utari menangis di pelukan Ibunya. Untungnya ini adalah kamar Utari sehingga tidak ada yang melihat sisi lemah Ibu Dosen cantik itu.

Setelah merasa tenang Utari memilih menghapus air matanya dengan perlahan. Laly Utari menyeruput susu hangat yang di sediakan sang Ibu untuknya.

"Kalau liburan masih kerja juga Nak?" tanya Ibu pada Utari.

Utari menatap lama Ibunya, lalu kembali memeluk Ibunya dan mencium seluruh wajah Ibunya.

"Ibu tidur sama Utari ya hari ini?" tanya Utari dan menatap sang Ibu penuh harap.

"Anak Ibu lagi sedih jadinya manja begini ya?" tanya Ibu pada Utari. Sedangkan Utari lebih memilih meminggirkan laptopnya ke meja di samping ranjangnya.

Tidak membutuhkan waktu lama Ibu tertidur.

"Aku akan terus bekerja keras aagar semua yang ingin Ibu beli tidak lagi harus memikirkan ada uang apa tidak. Aku akan terus bekerja keras agar bisa membantu para saudaraku, masih basah di ingatan bagaimana orang-orang menghina Ibu hanya perkara uang dan memaksakan diri untuk menyerahkan aku di bangku perguruan tinggi sedang Ibu tidak punya biaya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!