Ibu Jihan Guru Fisika

Saat ini Utari sedang sendiri di kamarnya, dia merasa kesulitan menghafal materi. Matematika terasa sangat sulit baginya, tapi tetap dia hqrus menguasainya. Pokoknya target semester ini nilainya harus naik dan dia bisa membuat Ibunya bangga padanya.

"Nah gitu dong, belajar! Kamu tuh anak Ibu satu-satunya kalau kamu malas belajar gimana? Iya kalau Ibu selamanya hidup di dunia ini tapi ajalkan ngak ada yang tahu, kalau Ibu ngak ada lagi dan kamu waktu sekolah main-main mau jadi apa coba?" tanya Ibu pada Utari.

Utari hanya berdiam diri saja, sungguh dia tidak tahu harus berkata apa. Ibunya selalu berkata ajal, padahal dia tahu persis ajal bahkan datangnya tanpa peringatan apalagi notifikasi. Dia menjemput baik tua, muda, bayi, bahkan bayi yang masih dalam kandungan. Pertanyaannya adalah apakah kita siap menghadapinya mengingat amalan yang masih pas-pasan dan membayangkan hisab yang menegangkan?

Di sekolah hari ini suasana terlihat menyenangkan. Todak ada pr yang tidak selesai semuanya berjalan sangat baik dan sesuai demgan harapan.

"Baik Ibu akan berikan kuis tidak banyak hanya 2 soal saja, jawab dengan cepat dan jelas. Siapa yang dapat 100 maka akan dapat nilai tambahan," kata Ibu Sri guru matematika.

Utari yang tadi memperhatikan dengan baik merasa sedikit mengerti. Tekat ingin masuk 10 besar dan membuat Ibunya merasa sedikit bangga padanya itulah tekat Utari.

Beberapa teman-teman Utari sudah memberikan kertasnya. Mereka berlari dan berebutan karena kuis ini tidak untuk semua siswa jadi ketika Ibu Sri bilang cukup maka waktu mengerjakannya berakhir.

"Aduh Vanesa kira-kira punya kita benar ngak ya?" tanya Utari pada sahabat baiknya yang sedari tadi bertanya itu ini padanya sedang dia juga berusaha keras untuk memahaminya.

"Udah benar ngaknya ngak masalah, yang penting isi otak sendiri dan kita mengerjakan dengan kemampuan sendiri. Ayo! Kita harus taking part dari mereka," kata Vanesa menarik Utari yang tengah bimbang memberikan jawabannya.

Setelah Utari dan Vanesa memberikan buku miliknya, Ibu Sri membuat orang makin kalang kabut.

"Oke, kesempayan hanya untuk dua orang lagi!" kata Ibu Sri.

"Tu kan, coba kalau kita ngak ngasih tadi kita ngak akan jadi bagian. Udah jangan cemas kalaupun ngak dapat 100 minimal dapat nilai rajin di mata Ibu Sri," kata Vanesa yang hanya di angguki oleh Utari.

"Baiklah, silahkan buka LKS halama 51 di sana ada tugas 20 soal silahkan di kerjakna lengkap dengan jalan menemikan jawabannya! Buat di buku latihan dan di kumpulkan minggu depan! Ibu tidak menerima yang jawabannya jalur goib, jawabannya ada tapi jalan menemukannya ngak ada! Bisa di pahami?" tanya Ibu Sri pada semua murid kelas 11 IPA 5.

"Bisa, Ibu." Semua murid menjawab dengan serempak.

"Govin! Silahkan bagikan buku teman sekelas kamu!" kata Ibu Sri seraya meninggalkan ruangan kelas.

"Alhamdulillah aku dapat 100, masyaallah ini beneran Vanesa?" tanya Utari pada Vanesa dengan tampang tidak percaya terlebih dia mengerjakannya dengan kemampuannya sendiri.

"Beneren Utari, itu apa aku bilang. Kita itu bisa pintar seperti mereka cuma kita aja yang malas belajar dan ngak percaya diri. Jadikan kita buat projek memperbaiki diri?" tanya Vanesa pada Utari yanh di angguki oleh Utari.

"Baik, nanti aku bikin di word. Siapa yang ngelanggar akan di kenakan denda, ngak banyak dendanya 1 pelanggaran bayar 1000 rupiah saja. Peratutannya adalah sholat 5 waktu ngak boleh bolong, ngaji minimal dua ayat, belajar minimal 30 menit. Gimana? Setuju?" tanya Vanesa pada Utari.

"Setuju!" mereka bersahut gembira.

Tidak terasa waktu cepat berlalu, Utari dan Vanesa pulang tanpan menunggu teman. Keduanya sibuk membahas impian yang ingin menjadi seorang Dokter handal. Meski ragu tapi keduanya tidak ingin menyerah.

"Menurut kamu mungkin ngak sih kita bisa lulus kedokteran? Apalagi pendidikan Dokter dengan beasiswa? Apakah itu mungkin?" tanya Utari saat keduanya tengah di angkot untuk perjalanan pulang.

"Udah, yang penting kita usaha. Mengenai hasilnya nanti bagaimana itu kita serahkan pada Allah saja," kata Vanesa.

"Iya juga sih, ya Allah semoga aku ngak gila kalau ngak lulus kedokteran," kata Utari.

"Jangan ngomong begitu! Ingat kamu itu anak Ibumu satu-satunya. Kalau kamu gila gimana Ibumu! Ingat kamu harus bisa bahagiakan Ibu kamu dan juga harus berbakti sama Ibu kamu," kata Vanesa dengan penuh penekanan.

3 bulan kemudian

Hari-hari berat dan padat mulai Utari rasakan. Perbedaan signifikanpun mulai terasa, Utari jadi lebih aktif di kelas. Biasanya datang paling pagi untuk mencontek tugas kawan sekarang datang tidak lagi terlalu pagi. Bahkan ketika ingin melihat kecocokan jawaban dengan punya teman sekelaspun Utari tidak bisa karena deadline pengumpulan tugas. Hampir setiap hari Utari merasa jantungnya selalu copot ketika memberi yugas yanpa mencontek dahulu.

Biasa setiap bertemu Fanisa sang jagoan matematika di kelas isi mulut Utari hanya cerita khayalan sekarang berganti dengan pertanyaan.

"Fani ini tadi gimana aku ngak ngerti bisa bantu ajarin lagi ngak?"

"Fani kok bisa gini ya? Apa aku salah hitung?"

"Fani boleh main ke rumah? Demi Allah aku ngak ngerti tugasnya dan masih bingung. Aku ngak nyontek cukup ajarin aja!"

"Ibu aku nanyi ngak balik ke rumah Bukde, aku ikut Ibu ke sekolah buat belajar di kedai buat ulangan fisika!"

"Tia, kok kamu gampang ngafal rumusnya? Ada cara cepat? Caranya gimana? Bisa bantuin aku?"

Begitulah perkataan yang keluar setiap hari dari mulut Utari. Kpop masih di tonton tapi sudah sangat berkurang, bukan tidak mau tapi Utari hanya punya laptop dan ngak punya hp jadi semuanya baru bisa di akses ketika malam tiba.

Sedangkan malam Utari punya jadwal ngaji minimal 2 ayat tapi Utari menjadikan minimal 2 halaman al-qur'an dia khattamkan sehari.

Saat malam tiba Ibu pulang dari beli bahan nampak buku-buku bertebaran di kasur tempat Utari tidur. Buku itu adalah buku-buku catatan dan latihan Fisika. Target nilai Utari bukan 100 tapi di atas KKM.

Kenapa? Nilai murni hitung-hitungan di atas KKM itu cukup sulit untuk teman-teman sekelas Utari.

Pagi yang cerah di awali dengan hal yang menakutkan bagi semua siswa yang merasa tidak menyiapkan dengan baik dirinya.

"Baik sesuai dengan janji Ibu hari selasa kemarin jika hari ini kita ulangan harian. Ingat kalau ada yang remedi harus bayar 5000 setiap kali remedi. Uang remedi buat siapa? Buat yang nilainya di atas KKM, jadi ingat yang mendapat nilai bagus karena berjuang pantas mendapat penghargaan," kata Ibu Jihan guru Fisika.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!