Tidak Percaya Diri

1 minggu setelah ulangan Fisika

"Asslamu'alaikum," kata Ibu Jihan memasuki ruang kelas tempat Utari belajar.

"Hari ini sebelum Ibu milai mengajar ada hal menyedihkan yang harus Ibu katakan," kata Ibu Jihan setelah murid membaca do'a sebelum belajar.

"Hal yang menyedihkan adalah dari 30 siswa dan siswi di kelas ini hanya 3 orang yang tuntas ulangan fisikanya. Parahnya lagi ngak ada yang dapat 100 paling tinggi dapat 85. Di antaranya Utari 83, Diana 82, Firstia 85. Selebihnya berada di bawah KKM. Jadi bagi yang tidak tuntas silahkan maju kedepan dan bayar 5000 per orang. Ayo ke sini 5000 perorang bagi yang tidak tuntas!" kata Ibu Jihan.

"Selamat bagi yang tuntas, uang ini ada 135 ribu jadi Ibu bagi menjadi 3. Karena yang tuntas hanya 3 orang dan masing-masing mendapat 45 ribu. Baik mengenai remedi kapan bisa di adakan?" tanya Ibu Jihan.

"Hari selasa saja Bu, kalau hari ini kami takutnya nilainya ngak berubah Bu!" kata salah seorang murid.

"Betul Bu, kami khawatir nilainya masih sama Bu," kata yang lainnya.

"Baiklah, persiapkan diri kalian dengan baik karena hari selasa tidak hanya untuk remedi tapi juga perbaikan nilai. Jadi yang nilainnya tuntas bisa ikut ujian perbaikan nilai! Baik ayo kita lanjut pembelajaran yang kemaren," kata Ibu Jihan.

Di tengah banyaknya yang mengeluh tentang hasil ulangan ada seseorang yang merasa tidak menyangka demgan nilainya. Terlebih Diana dan Firstia adalah anak yang cerdas jadi jelas baginya tidak sulit mendapatkan nilai bagus di fisika. Lah Utari? Dia memang pernah pintar dan mendapat juara satu umum semasa SMP tapi pada masa SMA hal itu lenyap entah kemana. Utari yang cerdas berganti dengan Utari yang pemalas, idiot dan pencontek ulung. Lalu ini mendapat nilai bagus dan mendapat hadiah karena tuntas dan tanpa contekan sama sekali? Sungguh ini prestasi baru bagi Utari.

"Selamat ya, nilai kamu tuntas," kata Vanesa antara lesu dan bahagia. Lesu karena nilainya hanya 45 dan bahagia karena temannya mendapat nilai sangat baik menurut dia.

"Makasih ya, aku sangat tidak menyangka jika otakku masih bisa berfungsi dengan baik," kata Utari dengan konyolnya.

Tet....Tet...Tet...

Suara bel.istirahat berbunyi, semua siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas. Utari yang juga tidak membawa bekal ikut keluar bersama Vanesa untuk berburu makanan.

Di kantin ternyata ada gerombolan kelas 11 IPA 5 yang duduk di bangku yang sama. Di antara mereka ada seseorang yang sempat sedikit menanam pilu di hati Utari. Siapa lagi kalau bukan Bagas? Bagas sebenarnya tidak tampan dan juga tidak terlalu pintar, tapi Bagas hitam manis dan tinggi. Hitam manis di tambah bergisul di giginya hingga ketika terlihat manis sekali. Namun apa daya, Utari yang hanya ingin berteman saja di sangka ingin PDKT dan membuat Bagas menghindar habis-habisan dari Utari.

Hal yang paling menyakitkan entah ini benar atau tidak, salah satu teman Utari mebgatakan pada Utari seperti ini.

"Utari, aku bukan mau patahin semangat kamu. Tapi aku hanya ngak mau kamu berharap lebih pada Bagas, dia sudah punya pacar," kata Lusi pada Utari.

"Aku tahu kok, aku hanya ingin temanan saja," kata Utari pada Lusi.

"Justru itu biangnya Utari, dia sudah punya pacar jadi dia ingin menjaga hati kekasihnya. Kamu tahu ngak apa yang dia bilang pada aku?" tanya Lusi pada Utari dan hanya di balas gelengan oleh Utari.

"Dia bilang sebenarnya dia tahu kalau kamu ada rasa sama dia. Karena itu juga Dia ngak mau dekat-dekat sama kamu, selain itu dia ngerasa kamu itu orangnya sok imut padahal amit-amit!" kata Lusi menyampaikan perkataan Bagas pada Utari.

Sadar atau tidak sejak mengetahui fakta itu Utari menjadi semakin tidak nyaman ketika bertemu Bagas. Meski sekelas ada jarak nyata di antara keduanya. Puncaknya adalah ramadhan kemaren, saat Utari dan Ibunya berdagang Bagas sengaja tidak jajan di tempat Utari. Meski tidak ada kata kasar terucap tapi Utari cukup tahu diri, kalau itu menjadi penyebabnya.

Sekedar informasi, Utari bukan orang yang punya positif thingking 1000% ya! Bahkan saat sang Ibu mengatakan jika omset jualan menurun sejak kedatangannya ke kota X tempat dia dan Ibunya tinggal Utari merasa dirinya pembawa sial untuk Ibunya. Tidak sekali dua kali Utari berpikir kenapa Ibunya harus membesarkannya nekad sendirian tanpa Ayah? Mengapa tidak buang saja atau tidak di bunuh ketika dia lahir kedunia ini. Jujur saja Utari merasa jika dia hanya beban bagi sang Ibu.

Sekarang apalagi masalah cinta-cintaan, Utari tidak ingin pacaran apa lagi PDKT sama lawan jenis hanya ingin berteman. Lalu, apa katanya amit-amit? Iya Utari langsung minder perihal jerawat dan juga dirinya yang berasal dari keluarga miskin.

"Eh ada Vanesa. Yok duduk di sini sayangnya Abi! Nanti kita jadikan jalan? Kita udah janjian loh pake baju pink bareng nanti waktu nonton! Iya ngak Vanesa?" tanya Bagas begitu Vanesa duduk di depannya dan pastinya ada Utari di sana.

"Apaan sih Bagas!" kata Vanesa seraya tersenyum menutupi rasa malu karena di ciein-ciein teman-teman sekelas.

"Eh udah jangan pada bercanda, ingat telat masik kelas Buk Marni berarti denda dan itu di hitung permenit. Satu menit 500 rupiah," kata Dini mengingatkan teman-teman yang lain.

"Iya-iya si paling rajin dan pintar di kelas," kata Budi yang juga ikut makan di sana.

"Oh iya tugas biologi kalian udah pada siap belum guys?" tanya Boyke pada teman-teman yang sedang asik menyuap.

"Aku udah! Nantikan di kumpul," kata Dini.

"Iya aku juga udah siap walaupun lihat punya Dini," kata Bagas pada Boyke.

"Nyontek aja bangga banget Lu!" kaya Boyke mengejek.

"Eh biarin yang penting nilai aku masuk, toh ngak ada bedanya sama yang buat sendiri dan nyontek. Nilainya tetap sama," kata Bagas.

"Kebiasaan!" kata Adi yang juga ada di sana.

"Iri bilang Bos!" kata Bagas dengan tawanya.

Di sana Utari tidak banyak omong, selain ikut mencie-ciekan Vanesa dan Bagas. Utari memilih diam. Melihat Bagas membuat jiwa insecure miliknya semakin keluar. Kata amit-amit selalu terngiang olehnya di kepalanya. Kadang Utari berpikir apakah Ibunya juga menyesal memiliki anak sepertinya? Jika benar, Utari juga ngak tahu harus apa. Mau bunuh diripun Utari belum siap masuk neraka tanpa hisab. Meski mindernya benar-benar pake banget Utari masih mengharapkan surganya Allah.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!