7 minggu kemudian
Hari ini adalah hari Utari akan test untuk beasiswa S2 yang di selenggarakan di tempat Utari akan menjadi Dosen. Rupanya sekali lagi rencana tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, Utari harus lulus dahulu beasiswa S2 baru bisa menggantikan Hana menjadi seorang Dosen. Hal ini juga harus di uji, apakah Utari benar-benar bisa mengajar apa tidak.
Persiapan yang matang dan Utari melakukan semaksimal mungkin yang dia bisa. Utari tidak ingin Ibundanya kecewa dan sekali lagi rencana Allah maha baik, hari ke dua Utari sudah mendapat pekerjaan sebagai pengajar les di suatu lembaga swasta di sana.
"Utari, aku yakin kamu bisa mendapatkan beasiswanya! Semangat!" kata Kim Hana yang membuat Utari tersenyum dan memeluknya.
" Terima kasih," kata Utari yang di angguki oleh Kim Hana.
"Katakan itu nanti ketika dirimu lulus seleksi beasiswa dan bisa menggantikan aku sebagai Dosen di sana dan pastinya bisa memboyong Ibumu ikut serta ke sini," kata Hana yang semakin membuat Utari menangis.
Selama 7 hari tidak melihat wajah meneduhkan sang Ibu sungguh berat bagi Utari, meski begitu Utari berusaha kuat agar bisa segera melewati ini.
"Baiklah Hana Eonni, aku akan pergi sekarang. Semoga aku bisa di terima," kata Utari yang di aminkan oleh Hana.
Di sebuah ruangan ujian semuanya terlihat hening, semua fokus pada kertas masing-masing begitu juga Utari. Ujian yang Utari lakukan tidak terasa begitu sulit, hal ini karena materi-materi yang di ajarkan oleh Hana semuanya tepat. Karena itulah yang akan di uji.
Setelah melaksanakan ujian, Utari tidak langsung pulang. Utari pergi ke tempatnya mengajar les, hingga malam menjelang.
Ketika malam tiba , Utari sudah selesai dari pekerjaannya. Utari mampir ke minimarket terdekat untuk membeli buah tangan karena hari ini dia mendapat rezeki dari wali murid tempat dia mengajar.
Kim Hana adalah wanita yang sudah bersuami dan juga punya satu anak perempuan. Gadis kecil itu bernama Cho Hyejin, karena itu Utari ingin membelikan beberapa makanan dan juga minuman.
Utari menaiki bus, duduk dan memasang headset di telinganya. Utari memandangi indahnya malam di kota Seoul, Utari memang pernah memimpikan untuk merantau melanjutkan kuliah S2 di negeri orang terutama Korea Selatan, tapi ketika Utari sudah merasakannya ini masih serasa mimpi bagi Utari.
Ponsel Utari menyala layarnya, di sana ada nama Rafika sebagai pemanggil. Demi Allah, Utari sangat malas berbicara saat ini. Selain dia lelah karena ujian Utari juga lelah karena harus mengeluarkan semangat dan juga berkoar selama 3 jam di 3 kelas dia mengajar hari ini.
Rafika
Utari, apa kabar? Apa kamu masih marah denganku? Jika ada waktu ayo kita main berdua, nonton bioskop atau sekedar bercerita seperti biasa.
Pesan itu tidak langsung Utari buka, Utari membacanya di jendela layar ponselnya.
Utari mengehela nafas panjang.
Me
Aku sudah tidak marah, jika ingin bercerita lakukan saja melalui sambungan telepon. Aku akan mendengarkan.
Utari hanya membalas seperti itu, Utari krmbali membaca ringkasan catatan yang dia buat berdasarkan arahan Kim Hana. Dua hari lagi akan ada interview di kampus mengenai beasiswa dan juga essay yang harus dia siapkan, terlebih ini bukan beasiswa dari Indonesia tapi dari Universitas yang berarti langsung dari Korea Selatan.
"Assalamu'alaikum," salam Utari dengan suara pelan karena Kim Hana dan seluruh keluarganya adalah non muslim.
"Aku pulang!" kata Utari dengan suara yang agak di keraskan ketika Hana membuka pintu.
"Akhirnya kau pulang juga Utari, Hyejin sedari tadi menanyakan di mana Tante Utari," kata Hana yang di sambut senyuman oleh Utari.
"Ajjumha!" teriak Hyejin dan langsung memeluk Utari.
"Ooo Hyejin ah, Ajjumha bawakan sesuatu untukmu," kata Utari lalu memperlihatkan pada Hyejin.
"Khamsahamnida Ajjumha," kata Hyejin yang di jawab dengan kecupan di pipi Hyejin.
"Hyejin sayang, Tante akan mandi dahulu setelahnitu baru kita bermain," kata Utari.
"Tante, aku juga punya Pr matematika dan Bahasa Inggris, apakah Tante Utari bisa membantuku?" tanya Hyejin pada Utari.
"Of course Honey," kata Utari.
Selesai membersihkan diri Utari langsung menunaikan sholat isya. Setelah menyelesaikan Ibadahnya Utari keluar dengan menggunakan baju gamis rumahan serta jilbab sorong andalannya.
"Kau makanlah, dahulu Utari. Tadi kami makan lebih awal karena dirimu pulang terlambat," kata Hana kepada Utari.
"Aku nanti saja Kak, kasian si cantik Hyejin yang menungguku untuk membantunya mengerjakan Pr," kata Utari pada Hana.
"Kamu memang yang terbaik, tapi aku ke dalam kamar tidak apa? Cho Leehoen sedang tidak enak badan. Tidak apa kan?" tanya Hana pada Utari.
"Tidak apa Kak, Kakak pasti juga capek karena masih harus mengajar dan juga menyiapkan berkas kepindahan. Jadi lebih baik Kakak juga beristirahat, mengenai Hyejin nanti biar aku bacakan buku cerita begitu dia siap mengerjakan pekerjaan rumahnya nanti," kata Utari pada Hana.
"Gomawo Dongsaeng ah!" kata Hana dan wanita cantik itu berlalu dari hadapan Utari dan Utari hanya tersenyum saja.
Waktu cepat berputar, Hyejun sudah tertidur lelap. Utari menaikkan selimut hingga dada sang gadis kecil, lalu mengatur suhu ruangan dan mematikan lampu kamar dan menggantikan dengan lampu tidur.
Buku dongengnya juga sudah Utari masukkan ke tempat biasa yang di sediakan Hana.
"Aku senang sekali rasanya melihat keluar Kak Hana dan suaminya. Mereka terlihat sangat rukun, Utari sebenarnya kepingin segera menikah tapi trauma masa lalu membuat wanita itu membuang jauh-jauh impiannya untuk membina rumah tangga saat ini.
Dengan ponsel di tangannya Utari melihat jam baru menunjukkan pukul 10 malam, masih terlalu dini untuk tidur tanpa melakukan sesuatu.
Saat melihat hpnya Utari melihat notifikasi bahwa Jimin BTS sang idola kesayangan tengah melakukan live di Instagram. Utari langsung menontonnya sambil mengambil air minum di dapur dan berjalan ke arah kamarnya.
Setibanya di kamar, Jimin masih berbicara melalui live di Ig tapi Utari tidak ingin melupakan niat awalnya yang ingin membaca al-qur'an yang telah menjadi rutinitasnya setelah lulus kuliah S1nya.
"Jimin Oppa, mian!" kata Utari bermonolong sendiri.
Sebelum benar-benar menutup layar hpnya Utari memberikan komentar I love you Jiminie dan memberikan lambang love berwarna ungu.
Melihat nama Jimin yang di tulis Utari dengan Jiminie olehnya Utari tertawa sendiri.
Setelahnya Utari benar-benar meletakkan ponselnta dan masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya untuk berwudhu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments