Kuliah Menghitung Mundur

5 tahun kemudian

Sudah 5 tahun Utari menetap di Korea Selatan. Impian satu persatu sudah jadi kenyataan. Di kamar Utari terpampang foto bersama sang Ibunda tercinta saat keduanya tengah umroh ke tanah suci.

Tok tok tok

"Masuk aja Bu, pintunya ngak Utari kunci," kata Utari dari dalam.

"Minum dulu Nak, ini kue yang kamu bikin di lamari pendingin Ibu potong-potong," kata Ibu.

"Iya ngak papa Bu, emang buat cemilan rumah itu. Duduk Bu," kata Utari masih betah memandangi layar laptopnya.

"Nak ini sudah lima tahun kita di sini," kata Ibu mengawali perkataannya.

Utari hanya diam mendengar karena dia tahu sang Ibunda belum selesai bicara.

"Kamu juga sudah tidak muda lagi, sudah matang untuk berumah tangga. Mobil sudah punya, rumah juga sudah punya, pekerjaan tetappun sudah kamu miliki bahkan sekarang merambah ke bisnis. Kapan kamu mau memberikan Ibu menantu Nak?" tanya Ibu pada Utari.

Utari menghela nafas panjang dan merapikan anak rambutnya yang jatuh ke keningnya lalu menatap sang Ibu dengan tersenyum.

"Sayang ngak semua laki-laki seperti itu, kamu boleh trauma dengan kisah Ayah dan Ibu. Tapi kamu juga harus tahu ngak semua manusia di muka bumi ini bersikap sama seperti Ayahmu Nak," kata Ibu.

Utari masih diam, dia sadar betul bukan tanpa alasan sang Ibunda berkata seperti ini. Hal ini karena sudah ada 2 orang pria terdekat dengan Utari yang melamar Utari untuk di peristri dan Utari tidak siap dan terang-terangan menolak sedang mereka sudah kenal lama dan menjadi teman.

Meski setelah kejadian itu mereka masih berteman baik karena bekerja di tempat yang sama tapi jujur saja Ibu sedih, karena Ibu takut sang anak tidak punya ketertarikan untuk menikah.

"Ibu," kata Utari menggengam tangan sang Ibu dan menatap Ibunya dengan senyuman.

"Ibu jangan terlalu cemas perkara jodoh, semuanya sudah di atur oleh Allah SWT. Utari tidak ingin memaksakan diri jika memang belum siap Ibu, terlalu banyak pemberitaan miring mengenai orang berumah tangga jujur saja membuat Utari takut. Utari ingin untuk tidak takut tapi hasilnya nol besar Ibu, lagi pula kita di Korea Selatan. Siapa yang akan peduli jika usia 30 tahun belum menikah?" tanya Utari dengan lembut pada sang Ibu.

"Nak, Ibu tahu jika di tempat kita tinggal sekarang meski usia sudah 30 tahun tidak akan ada yang merecoki urusan jodoh. Tapi menikah itu bagian dari ibadah Utari, menikah itu menyempurnakan separuh dari agama," kata Ibu menatap serius wajah putrinya yang sejak 6 tahun belakangan ini bekerja keras untuknya.

"Ibu menikah memang Ibadah, tapi kita tetap harus selektif. Justru karena menikah itu ibadah kita harus temukan yang benar-benar orangnya Ibu. Utari ngak mau mengalami hal yang di alami Paman, Ibu, Nenek, Maknin dan hampir semua keluarga kita adalah keluarga pecah belah. Utari ingin sekalinya menutuskan menikah, maka mautlah yang memisahkan," kata Utari pada sang Ibu.

"Baiklah, Ibu tidak akan membicarakan ini lagi denganmu. Ibu selalu kalah kalau persoalan itu!" kata Ibu ngambek mode on. Melihat Ibunya yang bad mood Utari langsung mencium seluruh wajah Ibunya dengan sayang.

"Oh iya Ibu hampir lupa, Paman dan Maknin menyuruh kamu pulang lebaran ini. Kita sudah 6 tahu tidak pulang ke kampung halaman, sekalian kita berziarah ke makam mendiang Oma," kata Ibu pada Utari.

"Baiklah, kita akan pulang. Alhamdulillah Utari juga sudah punya lumayan cukup buat pilang pergi," kata Utari pada sang Ibu.

"Ya sudah jangan tidur kemalaman, ingat besok kamu harus ngajar dan pastinya kita juga menjalani ibadah puasa Ramadhan jadi jangan terlalu memforsir diri," kata Ibu.

"Iya Ibu sayang," kata Utari dan Ibu berlalu ke luar rumah.

Utari ke luar dari kamarnya menuju balkon kamar. Dari ketinggian Utari memperhatikan kota Seoul di malam hari. Apa yang di bilang oleh Ibunya bukan Utari tidak memikirkan. Tapi masih basah di ingatan Utari saat kemarin ingin mengantarkan dokument di rumah Ahreum dan sahabatnya baru saja bertengkar dengan sang suami karena suaminya ketahuan selingkuh dan parahnya Ahreum di tampar bolek balik oleh suaminya dan dengan sudut bibir yang sobek sahabatnya di tempat kampus yang sama dengannya mengajar itu keluar.

Masih basah di ingatan Utari Ahreum menangis tersedu di dakam pelukannya. Belum lagi Rosaline yang juga di selingkuhi hanya karena tidak kunjung hamil dan berbagai alasan uang salah tapi di benarkan.

"Ya Allah, aku takut." kata Utari lirih dan matanya menatap kegelapan malam.

Sadar hari sudah beranjak larut dan Utari sudah harus segera tidur agar segera bisa bangun untuk tahajjud malam ini.

Pagi Utari di awali dengan rapi dan hal yang di sukai wanita usia 30 tahun itu, ya saat ini Utari tengah membaca al-qur'an. Hal ini sudah menjadi habit bagi Utari terlebih sekarang di bulan Ramadhan.

Setelah Utari mengaji, wanita usia 30 tahun itu keluar dari kamar dan terlihat masih sepi. Sepertinya sang Ibu masih terlelap, Utari mengambil bahan makanan untuk mereka sarapan. Dengan cepat Utari mengolahnya hingga sang Ibu tiba pada saat semua makanan sudah tersaji dengan rapi di atas meja.

"Kenapa ngak bangunin Ibu, Nak?" tanya Ibu pada Utari.

"Masakannya kan belum siap Ibu, makanya belum Utari bangunkan. Ya sudah Ibu, ayo kita makan sahur," kata Utari dan Ibu langsung meminum air yang di siapkan oleh Utari.

Saat waktu subuh sudah dekat Ibu sudah siap dengan mukenah dan sejadahnya.

"Ayo Ibu, kita ke masjid," kata Utari yang juga sudah menggunakan mukenah dan menyampirkan sejadah di lengannya lengkap dengan ponsel dan dompet yang berada di tas kecilnya.

Utari dan Ibu dengan tenang hingga sampai ke basement dan Utari membuat mobilnya berbunyi menggunakan remot kecil di kunci mobilnya. Utari langsung membukakan pintu mobil audi miliknya agar segera Ibunya menaiki di kursi samping pengemudi.

Sedangkan Utari berputar cepat di kursi mengemudi. Utari mengemudi dengan tenang dan menikmati suasana pagi di kota padat penduduk ini.

"Sungguh Ibu bahkan dulu takut membayangkan hal seperti ini Utari, tapi sekarang apa yang kamu bayangkan dan impikan satu persatu menjadi kenyataan. Ibu bahagia melihat kamu sukses seperti ini Nak," kata Ibu pada Utari.

"Oh iya Utari, kamu jadi ngirim ke Nia untuk biaya kuliahnya kan?" tanya Ibu pada Utari.

"Udah Tari tf kok kemaren Ibu. Utari tahu betul bagaimana rasanya kuliah menghitung mundur untuk berhenti rasanya tidak nyaman dan sakit. Cukup Utari yang merasakan hal seperti itu, adik-adik Utari selagi bisa Utari bantu maka Tari akan bantu," kata Utari.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!